Info
YHP Beri Anugerah Kepenyairan Adiluhung kepada Sapardi Djoko Damono

YHP Beri Anugerah Kepenyairan Adiluhung kepada Sapardi Djoko Damono


 

Puncak perayaan Hari Puisi Indonesia 2020 berlangsung pada 20 Desember mendatang.  Acara digelar secara virtual melalui zoom meetting dan disiarkan langsung lewat Youtobe Hari Puisi TV.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, puncak Perayaan HPI menjadi istimewa karena diwarnai dengan kemeriahan Anugerah Hari Puisi, yang menyajikan pengumuman Sayembara Buku Puisi Terbaik Hari Puisi Indonesia 2020.

Menariknya, pada perayaan kali ini, YHP juga memberikan Anugerah Kepenyairan Adiluhung kepada seorang penyair terkemuka yang tak lama ini berpulang, Prof Dr Sapardi Djoko Damono.

Apa dan bagaimana sebenarnya Anugerah Kepenyairan Adiluhung itu? Mengapa Anugerah tersebut diberikan kepada Prof Sapardi Djoko Damono?

Berikut alasannya:

*ANUGERAH KEPENYAIRAN ADILUHUNG YAYASAN HARI PUISI 2020*

Anugerah Kepenyairan Adiluhung (AKA) yang diberikan Yayasan Hari Puisi (YHP) adalah bentuk penghargaan dan penghormatan yang luhur dan sepantas-pantasnya bagi penyair yang lebih dari separuh hidupnya ditumpahkan untuk pertumbuhan dan perkembangan perpuisian Indonesia—khususnya dan kemajuan kesusastraan Indonesia sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari penegakan peradaban bangsa. Anugerah ini penting sebagai komitmen YHP kepada perpuisian Indonesia. 

Sejak pertama kali YHP menyelenggarakan Sayembara Anugerah Hari Puisi (2013), sebenarnya sudah muncul pemikiran untuk memberi penghargaan kepada sosok penyair dengan kualitas karya-karyanya yang adiluhung. Tetapi, mengingat berbagai keterbatasan dan kendala yang dihadapi YHP, pelaksanaannya baru dapat dilakukan tahun 2020 ini. Semoga langkah awal ini dapat terus berlanjut sebagai langkah konkret menyampaikan apresiasi yang sepatutnya kepada kiprah kepenyairan yang dalam pandangan YHP telah memberi kontribusi dan pengaruh penting bagi kehidupan perpuisian Indonesia. 

Di samping perkara kualitas karyanya yang menjadi kriteria utama, pertimbangan lain menyangkut kiprah kepenyairannya. Penilaiannya memang relatif, tetapi parameter kontribusi dan pengaruhnya dapat ditelusuri melalui perkembangan yang terjadi dalam dinamika kehidupan perpuisian Indonesia. Setidaknya, ada tiga hal yang menjadi sorotan penilaian. Pertama, komitmennya pada kesadaran, bahwa melalui puisi, ia coba memberi sumbangan bagi pemerkayaan bahasa Indonesia. Kedua, karya-karyanya dapat dianggap memercikkan inspirasi bagi penyemarakan kreativitas, tidak hanya pada penyair Indonesia lainnya, tetapi juga pada pelaku budaya, penggiat seni, dan masyarakat luas. Ketiga, kontribusi dan pengaruh karya-karyanya pada (i) dunia pendidikan—pengajaran, (ii) generasi muda, dan (iii) masyarakat luas dipandang dapat menumbuhkan spirit menegakkan citra bangsa yang literat. Demikianlah, puisi menjadi arena pergulatan kegelisahan kultural, kancah pengabdian profesional, dan cara menyampaikan suara batin bagi tegaknya budaya literasi adiluhung bagi setiap generasi.

Tidak banyak penyair Indonesia yang tetap berkomitmen bahwa puisi adalah bagian dari jalan hidupnya, meski ia juga berkiprah di arena perjuangannya sebagai apa pun. Dengan berbagai cara, ia tiada henti memperjuangkan puisi agar tegak berdiri di antara bidang ilmu lain dan di setiap lapangan kehidupan. Puisi menjadi sumber, dan sekaligus muara, titik berangkat dan tempat berlabuh dalam upaya membangun kebudayaan dan peradaban bangsanya. Puisi dimanifestasikan menjadi sikap hidup, ideologi budaya, dan perilaku dalam interaksi sosial.

Tentu saja kriteria dan pertimbangan lain masih dapat kita sampaikan sebagai semacam argumen pertanggungjawaban.

Berdasarkan kajian (i) historis tentang perjalanan kepenyairan, (ii) perkembangan stilistik, tematik, dan inovatif yang ditawarkan, (iii) konsistensi dan kontinuitas dalam peta perpuisian Indonesia, (iv) komitmen dalam membina dan mengembangkan kepenyairan pada generasi berikutnya, dan (v) pengaruhnya yang luas di dalam dan di luar negara, Pengurus YHP memutuskan—menetapkan, bahwa Anugerah Kepenyairan Adiluhung YHP 2020 diberikan kepada penyair Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono (Solo, 20 Maret 1940 – Tangerang, 19 Juli 2020).


Ditetapkan di Jakarta, 20 Desember 2020


Pengurus Yayasan Hari Puisi:

Rida K Liamsi (Pendiri dan Ketua Pembina)

Sutardji Calzoum Bachri (Pembina)

Abdul Hadi WM (Pembina)

Maman S Mahayana (Ketua)

Ahmadun Yosi Herfanda (Wakil Ketua)

Asrizal Nur (Sekretaris)

Ariany Isnamurti (Bendahara)