Info
Tentang Pengajaran Apresiasi Puisi oleh TS Eliot

Tentang Pengajaran Apresiasi Puisi oleh TS Eliot




Saya tidak memiliki ijazah, sertifikat atau dokumen akademis lainnya untuk membuktikan bahwa saya punya wewenang membahas masalah ini. Saya tidak pernah dididik siapa pun untuk bisa menikmati, memahami, dan mengapresiasi puisi atau untuk bisa membahasanya. Saya mengenal banyak penyair besar dan sekian banyak orang yang ingin disebut penyair. Saya pernah melakukan beberapa pengajaran, tetapi saya tidak pernah "mengajarkan puisi”. Alasan saya membahas masalah ini berdasarkan titik tolak yang berbeda sama sekali. Saya tahu bahwa tidak hanya para mahasiswa perguruan tinggi, tetapi juga anak-anak sekolah lanjutan telah mempelajari atau sekurang-kurangnya berkenalan dengan puisi melalui kehidupan para penyairnya dan saya mengetahui bahwa sajak-sajak saya adalah salah satu di antara sajak-sajak yang mereka pelajari berdasarkan dua bukti. 

Lakon saya Murder in the Cathedral adalah satu buku yang diwajibkan di beberapa sekolah dengan dua edisi yang berbeda. Pertama, naskah dalam bahasa Inggris yang terbit di Jerman disertai anotasi bahasa Jerman. Kedua, terbit di Kanada dengan anotasi bahasa Inggris. Fakta bahwa lakon ini dan beberapa puisi saya diajarkan di sekolah-sekolah, menimbulkan suatu kegembiraan. Karena hal itu dapat memberikan  tambahan pemasukan keuangan bagi saya dan sekaligus menciptakan korespondensi yang sedikit banyak menggembirakan pula, walaupun tidak semua surat dapat saya jawab. 

Surat-surat itu berasal dari anak-anak sekolah itu sendiri atau lebih tepat dari muda-mudi. Umumnya mereka itu tinggal di Britania, Amerika Serikat, dan Jerman serta satu-dua di Asia. Karena surat-surat itu ditulis dalam semangat keingintahuan, maka saya mencoba membahas masalah pengajaran puisi ini, dan saya akan senang mengenal lebih jauh tentang orang-orang muda ini, tentang guru-guru mereka, dan cara pengajarannya. 

Beberapa pemuda yang menulis surat itu rupanya ada yang salah asuh. Kadang-kadang karya saya ditetapkan untuk mereka sebagai “proyek”, tetapi juga seringkali mereka sendirilah yang menentukan pilihannya, tanpa saya tahu alasannya. 

(Ada satu kejadian; Seorang mahasiswa Mesir ingin menulis tesis tentang karya-karya saya. Namun, karena tak satu pun karya saya ada di sana untuk didalami, dia meminta saya mengirimkan semua karya saya padanya. Bagaimana pun, ini keterlaluan!) Seringkali penulis-penulis surat itu meminta informasi tentang diri saya, kadang-kadang dalam bentuk daftar pertanyaan. Saya ingat pernah ditanyai oleh seorang anak, betulkah saya hanya bergaul dengan bangsawan dan uskup? Kadang-kadang seorang tukang potret meminta saya untuk dipotret. Beberapa anak muda tampaknya menghendaki saya menyediakan bahan-bahan bagi mereka untuk melengkapi biografi saya terkait hobi, cita rasa, dan cara saya melipur diri. 

Apakah anak-anak ini hendak mempelajari puisi atau hanya ingin mempelajari penyairnya? Sangat sering mereka menginginkan penjelasan-penjelasan, baik mengenai puisi secara keseluruhan maksud puisi itu, maupun tentang baris atau frase yang khusus. Jenis pertanyaan yang mereka ajukan sering memberi kesan bahwa pendekatan mereka terhadap puisi itu keliru. Karena mereka menginginkan jenis penjelasan yang salah, atau mengajukan pertanyaan yang bisa dijawab dengan mudah. Terkadang, walau jarang, mereka berhasrat untuk mendapatkan sumber-sumber kesusastraan, yang seolah-olah ingin menunjukkan bahwa mereka telah memulai menempuh jalan ke Xanadu I.

Pola yang Lebih Tua 

Ketika saya masih muda, hal-hal terurai di atas, tidak pernah terjadi. Saya belajar bahasa Inggris di sekolah, saya bersyukur, memulai dengan tata bahasa, kemudian meneruskan dengan pelajaran "retorika” yang juga banyak memberi keuntungan bagi saya. Kami diharuskan membaca sejumlah buku prosa dan puisi yang umumnya merupakan edisi khusus untuk sekolah yang tak begitu menarik minat. Namun kami tak pernah terdorong untuk membaca sastra yang dapat disebut ”mutakhir”, misalnya Tennyson sukar untuk dapat disebut mutakhir” pada waktu saya harus mempelajari bait-bait ”Idylls of the King”. Harus saya akui bahwa ada beberapa penyair besar yang sangat penting dan masih ada beberapa penyair lagi yang seharusnya sudah dipertimbangkan oleh pihak berwenang sebagai bacaan kita yang layak. Swinburne belum membuat karya apapun waktu itu, saya tidak tahu apakah karyanya sudah masuk kurikulum sekolah sekarang. Yeats masih merupakan penyair kecil abad 19. Bahkan seandainya Trumbul Stickney dan George Cabot Lodge, dua penyair yang karyanya tetap saya abaikan sampai sekarang, telah menjadi masyhur daripada hanya pantas dihormati, saya meragukannya kalau ada yang memasukkan satu dua puisi karya keduanya sebagai bacaan wajib kami. 

Tidak! Kami bukan saja tidak didorong untuk mencintai puisi yang baru ditulis, tetapi bahkan seandainya telah didorong untuk mencintainya, saya ragu apakah kami akan berpikir untuk melakukan korespondensi dengan para pengarang. Beberapa anak muda yang surat-suratnya telah saya terima, ternyata sebagian kecil hanya karena dianjurkan oleh gurunya. Memang beberapa di antara surat-surat itu saya duga lahir dari keinginan untuk ‘menjatuhkan’ gurunya dengan cara memperoleh bahan atau pernyataan langsung dari saya sebagai sumber pertama. Bahan yang mungkin akan berbeda atau bertentangan dengan yang telah diajarkan gurunya. 

(Saya akui saja, jenis surat terakhir ini kadang-kadang memberi kesenangan tersendiri untuk menjawabnya, ketika saya terpikir bahwa guru-guru mereka telah membuat kesalahan dalam pengajaran karena kemalasan mereka memperbarui pengetahuannya). Namun, saya juga akui,  bahwa perhatian besar mereka terhadap penyair dan terdorong untuk membaca karya-karyanya merupakan gejala baru. Saya tak percaya bahwa Tennyson, Browning, Longfellow, dan Whittier (saya tak menyebutkan Poe dan Whitman, penyair yang karyanya tidak kami pelajari) terganggu dengan surat-surat mereka, anak-anak muda tersebut yang telah menjadikan para penyair sebagai kotak pos suratnya. 

Pengajaran sastra mutakhir, yang mengenalkan anak muda kepada puisi melalui kehidupan penyairnya adalah sesuatu yang terjadi dalam zaman saya, tanpa saya menyadarinya. Saya juga telah mengalami kejutan lain, yakni waktu saya kembali untuk memberi kuliah di Harvard tahun 1932, setelah 17 tahun absen dari Amerika, saya mengintai dari jendela dan memerhatikan seekor burung yang menarik perhatian, kelihatannya seperti burung jalak. Sebagai seorang anak laki-laki, dulu saya adalah pengamat burung yang tekun, sehingga saya mengenal hampir semua jenis burung asli Inggris dan burung migran, Namun saya tahu bahwa tak ada burung yang berekor khas pendek dan tebal seperti itu. Setelah bertanya kanan kiri, saya berkesimpulan bahwa burung yang saya lihat itu memang jalak. Burung itu telah datang dan berkembang-biak di Amerika, sementara saya tak berada di sana. Burung jalak itu muncul, dan saya kira begitu juga seharusnya, telaah akademis karya-karya pengarang yang masih hidup sudah mulai dirintis. 

Saya tidak bermaksud memberi kesan bahwa saya menyesalkan pengenalan anak-anak muda kepada karya-karya pengarang yang masih hidup sebagai bagian pendidikan mereka. Pun saya tidak bermaksud memberi kesan seolah-olah saya menganggap cara-cara pengajaran seperti itu salah sama sekali. Maksud saya hanyalah ingin menunjukkan bahwa pengajaran puisi mutakhir merupakan suatu pekerjaan yang sulit, dan puisi mutakhir ini tak dapat diajarkan dengan cara-cara yang persis sama seperti cara yang dipakai untuk mengajarkan puisi lama. Yang saya maksud dengan puisi lama (puisi masa lalu) adalah puisi dalam suatu periode yang segera akan menjadi bagian dari sejarah. Agar murid-murid dapat mengapresiasi puisi mutakhir, dapat membedakan puisi yang baik dan yang buruk, yang sejati dan yang palsu, yang asli dan yang plagiat, serta dapat menikmati puisi yang terbaik dari yang baik, maka guru memerlukan dua hal untuk dirinya sendiri, yaitu semangat besar dan sikap selektif. Ia juga perlu menjadi orang terdidik seperti cendekiawan dalam pengetahuannya tentang kesusastraan masa silam dan membatasinya, serta memiliki kepekaan perasaan yang bebas. 

Puisi sebagai Sejarah 

Saya tidak mengatakan bahwa untuk mengajarkan kurikulum seperti yang diajarkan ketika saya masih sekolah, kita harus melakukannya dengan hasrat yang besar dan kepekaan cita rasa. Namun kurikulum itu harus terbatas pada pengarang-pengarang yang kedudukannya telah diabadikan dengan baik oleh waktu. Termasuk di dalamnya beberapa lakon Shakespeare dan beberapa sajak Milton serta sepilihan karya beberapa pengarang terkemuka dari Inggris dan Amerika, hingga pada karya pengarang yang hidup pada akhir abad 19. Mereka adalah pengarang-pengarang yang karyanya dikenal oleh setiap orang terdidik. Di sinilah perbedaan yang penting, seperti yang telah saya tegaskan, bahwa puisi lama telah menjadi bagian sejarah. Bila seseorang tidak mengetahui sejarah negerinya, bangsanya atau bahasanya sendiri, maka ia bukan orang terpelajar. Kita akan mengetahui sesuatu dari sejarah peradaban, dari perjuangan manusia mengembangkan dirinya, dari kebiadaban ke tingkat kejayaan tertinggi kesenian dan ilmu pengetahuan, dari agama dan moral. 

Pengetahuan kesejarahan kita tentang abad masa lalu tidak lengkap kecuali kalau kita mengetahui beberapa hal tentang kesusastraan zaman itu. Untuk dapat memahami kehidupan manusia dalam abad yang telah silam kita memerlukan segala sesuatu yang dapat kita pelajari dari kesusastraannya, dan terutama sekali dari puisinya, dari cara mereka berpikir dan merasa. Jadi, guru kesusastraan lama mungkin akan merasakan tugasnya, terutama sekali sebagai seorang ahli sejarah, meskipun ia juga akan menjadi pencinta kesusastraan lama itu dan memiliki kecakapan untuk menghubungkan perasaan estetisnya kepada para murid. Namun puisi terbaik masa kini, yang akan menjadi calon sejarah, tidak dapat dipelajari secara tepat sebagaimana mempelajari puisi lama yang telah menjadi sejarah. 

Perkenankanlah pada pokok ini, pertama-tama, saya mempertimbangkan kekurangan pada pengajaran puisi lama di sekolah yang mengabaikan fakta bahwa puisi merupakan suatu karya yang masih terus ditulis sampai hari ini, sementara para murid sedang duduk di atas bangku, mereka menafsirkan L'Allegro atau Il Penseroso, dan si penyair berharap agar orang-orang akan membaca karyanya sebagai suatu kesenangan. Perkenankan pula saya mengingatkan kerugian karena perhatian yang berlebihan pada karya zaman ini, sehingga mengabaikan kenyataan bahwa banyak puisi yang ditulis dalam bahasa yang sama pada masa yang lalu sama baiknya dengan puisi yang ditulis hari ini, dan bahkan ada beberapa yang lebih baik. 

Kelemahan besar pada metode yang diperkenalkan kepada saya, maksud saya diperkenalkan secara teoritis, tentang puisi Inggris adalah bahwa cara itu tidak membantu saya dalam menikmati puisi. Saya kira banyak orang yang telah mengalami hal yang sama dalam pengenalan mereka terhadap lakon-lakon Shakespeare saya ambil contoh, ketidak-sukaan pada lakon Julius Caesar yang berakhir — maaf saya mengatakannya — sampai saya menonton film Marlon Brando dan John Gielgud, dan ketidak-sukaan pada lakon The Merchant of Venice yang berlangsung sampai sekarang ini. 

Hal ini mungkin ada hubungannya dengan kenyataan bahwa saya telah diharuskan menghapal dan membawakan pidato Antonius dan sifat murah hati Portius di depan kelas, padahal saya sangat tidak mampu untuk membawakannya. Namun saya juga tidak menyenangi L'Allegro dan Il Penseroso. Saya bersyukur bahwa saya tidak diharuskan mempelajari Lycidas dengan cara yang sama. Sajak panjang Coleridge Ancient Mariner hampir-hampir tidak diingat lagi. Saya mengira guru-guru kita tidak salah. Kita harus menempuh ujian dan guru mempunyai tugas untuk mempertimbangkan bahwa kita mesti mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan. 

Saya tidak mengetahui bahwa ada satu cara yang lebih baik untuk mempelajari kesusastraan Inggris pada tingkat itu dan boleh jadi beberapa lakon dan sajak harus dikorbankan agar kita dapat mempelajari bahwa kesusastraan Inggris itu ada, dan pengetahuan tentang sejarah kesusastraan Inggris diperlukan. Saya ingat, kita memiliki buku sejarah kesusastraan Inggris  sebagai bahan pelajaran, dan kita harus mempelajari sesuatu tentang penulis-penulis besar dari setiap periode sejak Shakespeare sampai akhir abad 19. Pengetahuan yang kita peroleh mempunyai satu tujuan dan saya tidak percaya bahwa pengetahuan itu akan mempunyai kegunaan sedemikian baiknya seandainya titik perhatian ditujukan pada apresiasi sebagai ganti perhatian pada garis besar kesusastraan dan informasi tentang karya sastra lama yang utama. Sebenarnya, berapa banyak anak berumur 13 atau 14 tahun yang mampu menghargai Shakespeare atau Milton? Saya sendiri tidak.

Penemuan Puisi

Saya kira, saya telah mengungkapkan dalam salah satu esei, entah di mana, bahwa pengalaman saya pertama kali tertarik pada puisi terjadi ketika saya berumur 14 tahun, dan bukan karena itu pelajaran kesusastraan di sekolah. Namun secara kebetulan, ketika saya mengambil buku Omar Khayam terjemahan Fitzgerald. Mengulang kembali apa-apa yang pernah saya katakan, saya ingin menyebutkan bahwa berdasarkan pendekatan pubertas seorang anak laki-laki, mungkin seorang gadis secara tidak sengaja menemukan bahwa puisi sanggup memberinya kesenangan yang pasti, sesuatu yang tidak pernah diduganya. (Kejadian yang memantik kesadaran semacam itu, mungkin hanya muncul sekali saat membaca suatu sajak yang ditemukan sendiri, yang diberikan oleh orang lain, atau yang disajikan oleh guru sekolahnya: Sebuah sajak dari beberapa sajak yang harus dipelajari -dengan bantuan catatan guru- sebagai bahan teks ujian sekolah agar bisa menjawab soal-soalnya. (Di mana terkadang, catatan guru tersebut,  dianggap lebih penting daripada teks sajaknya). 

Saya tidak menyesal telah dipaksa mempelajari hal-hal tertentu dari Shakespeare dan Milton dengan cara yang telah saya paparkan di atas. Namun penemuan sebuah puisi merupakan suatu pengalaman yang sangat berbeda, dan penemuan tersebut, mungkin lebih penting daripada puisi itu sendiri. "Penemuan” puitik kita yang pertama — katakanlah pada umur 14, 15 atau 16 tahun — mungkin melalui sebuah sajak, setelah pengetahuan kita lebih luas dan perasaan kita lebih berkembang, membuat kita tidak lagi berpikir terlalu tinggi tentang sajak tersebut.

Pada kenyataannya, ada beberapa sajak dan beberapa penyair yang fungsinya seolah-olah untuk membangkitkan kecakapan kita dalam menikmati puisi, kemudian merosot nilainya (tetapi kebanyakan tetap dihargai). Misalnya, sajak-sajak awal karya Byron: The Shropshire Lad karya A.E. Housman dan sajak-sajak Rupert Brooke. Penyair-penyair besar adalah mereka yang karyanya harus mendewasakan kita dan yang karyanya dapat kita hargai secara lebih sempurna setelah kita dewasa. 

Pada umur 16 tahun saya menemukan (dengan membaca satu bab yang saya dapatkan dalam Sejarah Kesusastraan Inggris yang bukan merupakan buku wajib bagi kami saat itu) The City of Dreadful Night karya Thomson dan sajak-sajak Ernest Dowson. Masing-masing sajak itu merupakan pengalaman yang baru dan hidup. Namun sajak "The City of Dreadful Night” atau sajak Dowson ”Impenitentia Ultima”  -bahkan sampai sekarang- pada hemat saya, sulit dianggap pantas bagi telaah akademis untuk orang seusia saya waktu itu. Penting sekali bagi kita memilih karya-karya pengarang besar untuk mempelajari puisi pada suatu abad sewaktu kita belum cukup dewasa untuk dapat menikmatinya. 

Latihan Citarasa

Perkenankanlah sekarang saya mempertimbangkan keadaan apabila perhatian kita dalam mengajar anak-anak berusia sama, selaiknya lebih tertuju pada ‘penikmatan’ daripada pengetahuan, dan lebih tercurah pada puisi-puisi mutakhir daripada sepilihan puisi klasik yang besar. Pertimbangan ini tentu saja akan memberikan kebebasan yang lebih besar kepada guru, tetapi juga menimbulkan kesulitan yang lebih besar baginya. Penilaian kasar dan tergesa-gesa itu, yang biasanya disebut "putusan sejarah”, belum diterima, dan guru harus mengikuti penilaiannya sendiri mengenai ‘siapa penyair’ dan ‘apa sajak’ itu. Guru harus memilih untuk membimbing murid-muridnya ke arah kecintaan terhadap puisi. 

Banyak puisi mutakhir yang dapat membantu mencapai tujuan tersebut. Namun pendapat tentang penyair-penyair yang masih hidup relatif dapat berubah-ubah, bahkan di antara orang-orang yang mempunyai cita rasa, terlepas dari jurang pemisah yang tetap ada antara mereka yang cenderung pada apa yang disebut sajak ”tradisional” dan mereka yang lebih suka kepada sajak "eksperimental”. 

Guru yang berhasil mengajarkan puisi pilihannya kepada para murid dengan semangat besar akan berada dalam bahaya. Bahaya berupa menanamkan cita rasa pribadi ke dalam pikiran murid-muridnya, atau (yang lebih buruk lagi) mengajar mereka untuk membeo pendapat yang mereka terima dengan pasif. Bahkan seandainya kita mensyaratkan adanya guru idaman yang memiliki cita rasa tinggi tak tercela, guru itu pun hanya boleh membangkitkan kecintaan yang besar pada puisi, bukan memaksakan cita rasa seragam dalam melatih kepekaan dan pemahaman murid-muridnya. Dengan catatan, saya belum pernah mengenal seorang pun yang tak luput dari berbuat salah pada suatu waktu atau waktu lainnya tentang pengarang-pengarang yang masih hidup, dan saya sendiri termasuk orang yang dapat berbuat salah yang bersifat umum ini. Karena itu, tanpa suatu pengetahuan tentang puisi lama dan menikmati apa yang kita kenal, kita tak dapat menghargai puisi mutakhir secara sungguh-sungguh. Namun pemusatan perhatian kepada puisi mutakhir, juga berbahaya dan akan sangat menyedihkan apabila pembaca (termasuk murid-murid tersebut) bercita-cita menulis puisi juga. 

Saya belum pernah menjadi juri suatu sayembara puisi, tetapi saya mengenal mereka yang pernah melakukan pekerjaan itu. Pada suatu kesempatan seorang teman yang telah memulai membaca sejumlah besar tulisan puisi serupa itu dikejutkan oleh kenyataan bahwa sedikit sekali pengetahuan para peserta lomba tentang puisi lama. Sebagian besar para peserta lomba itu telah memiliki beberapa pengetahuan tentang puisi John Donne, cukup banyak juga peserta yang baik yang telah membaca sajak-sajak Blake dan pada periode selanjutnya, mereka mengenal baik karya-karya Gerald Manley Hopkins dan William Butler Yeats. Mereka itulah calon-calon penyair yang menulis sajak beraturan dengan kecermatan metrum yang menjemukan: puisi modern tak mereka kenal. Yang lainnya ada yang menulis "sajak bebas” dengan telinga yang terlatih oleh kebiasaan sajak beraturan: mereka mungkin semata-mata membaca sajak-sajak mutakhir saja. 

Dahulu dan Sekarang 

Betapa pun juga, terutama saya memperhatikan para pelajar yang mampu menjadi pembaca yang peka dan bukan hanya ingin menulis puisi semata-mata. Saya yakin, bahwa tak seorang pun dapat mengubah cita rasa atau ketajaman penikmatan puisi orang yang hanya menikmati satu puisi dari penyair negerinya sendiri dan sezaman dengannya. Memang, salah satu fungsi pendidikan adalah memberikan jalan keluar, bukan dari kekinian di mana kita terikat olehnya, tetapi dari batas perasaan dan pikiran waktu kita sendiri. Tentu, merupakan hal yang lumrah bila kita menghargai ‘negeri sendiri’ secara penuh dan sadar setelah kita berada di luar negeri. Namun belum lumrah kalau ada pernyataan bahwa “kita bisa menghargai puisi zaman kita lebih baik karena kita telah memahami dan menikmati puisi terbaik dari zaman yang berbeda”. Kita lebih mengenal dan menghargai bahasa kita sendiri apabila kita telah menguasai bahasa asing. 

Mereka yang hanya mengetahui puisi berbahasa Inggris. tidak akan jauh-jauh pengetahuannya dari karya para pelopor penulis puisi sezamannya, seperti Hopkins dan Yeats, atau yang pengetahuannya tentang puisi lama, hanya akan terbatas pada puisi yang dipuji oleh kritikus mutakhir yang terpercaya (seperti misalnya saya sendiri). Dengan demikian, pengetahuan mereka tentang puisi hanya akan terbatas pada yang mereka ketahui saja saat itu. Seandainya benar bahwa puisi merupakan bagian penting dalam proses pendidikan — dan hal itu merupakan keyakinan saya — maka pembaca-pembaca seperti itulah yang tidak terdidik. 

Mungkin ada anggapan bahwa pada pokok ini saya memasuki satu jalan buntu. Di satu sisi, pendekatan kesejarahan terhadap kesusastraan Inggris dan Amerika dengan bacaan wajib dari pilihan karya-karya klasik, tampaknya tidak mungkin dapat menumbuhkan hasrat atau keingintahuan yang menuntun mereka pada pembacaan tanpa paksaan. Cara itu pun tidak memperkenalkan puisi dan prosa sebagai seni yang masih terus hidup. Di sisi lain, pelajaran tentang puisi mutakhir yang mungkin bisa menimbulkan stimulus secara langsung, bisa menimbulkan provinsialisme cita rasa —karena provinsialisme waktu sama sesatnya dengan provinsialisme tempat— yang bertentangan dengan sifat kependidikan itu sendiri.

Menurut pendapat saya, pendekatan terhadap puisi seperti terurai di atas dapat digabungkan, dan dengan begitu anak-anak muda mungkin akan terbujuk untuk memperhatikan kesusastraan — terutama puisi — baik dalam aspek kesejarahan, nilainya sebagai warisan budaya, dan sebagai sesuatu yang bisa dinikmati. Di sini terdapat dua ‘perbedaan’ walaupun mungkin bisa dihubungkan oleh arti kata ‘pemahaman’. 

Dalam mengajarkan kesusastraan lama yang besar, pemahaman yang ditekankan adalah pengetahuan tentang fakta biografis dan historis, syarat-syarat yang memungkinkan sebuah karya besar lahir, keistimewaan ungkapan, dan kosa kata yang menandai zamannya, dan sebagainya. Dalam rangka memahami sebuah karya mutakhir, sebuah sajak karya penyair yang masih hidup, pemahaman kita terutama adalah masalah wawasan. Saya mengenal seorang guru, yang tanpa memberi penjelasan pendahuluan, memperdengarkan rekaman sajak penyair yang masih hidup kepada murid-muridnya. Ia mengulanginya kembali untuk kedua kalinya, dan kemudian menyuruh murid-muridnya menuliskan kesan mereka sebaik mungkin: apa maksud puisi itu menurut mereka. 

Mereka itu gadis-gadis berusia 14 tahun, dan salah seorang dari mereka akhirnya mendapatkan kesan dari puisi tersebut yang telah membukakan jalan, bukan saja untuk memahami sajak-sajak penyair itu, tetapi juga sajak-sajak zaman dahulu, dan tentu saja semua puisi pada umumnya. Guru itu tidak menyuruh para muridnya untuk mengagumi sajak itu, apalagi memberitahu bagian-bagian yang harus dikagumi itu, dan lebih-lebih lagi memberi petunjuk tentang puisi dan maksud puisi itu. Ia telah memilih sajak secara bijaksana dan dengan perasaan, tetapi membiarkan sajak itu berbicara sendiri. 

Peristiwa itu memberi kesan kepada saya bahwa dalam usia itu —sekitar 14-16 tahun— kemampuan untuk merasakan kenikmatan puisi mulai timbul dengan penuh semangat. Puisi yang sezaman dengan kita sendiri mungkin sanggup menghasilkan pengaruh langsung yang lebih besar daripada puisi zaman dahulu. Puisi yang sezaman dengan kita, selain tidak mengandung kerumitan dalam hal gaya dan ungkapan, juga kurang mendapat perhatian kelompok kritikus. Walaupun kritik terhadap puisi mutakhir itu sendiri cukup banyak, tetapi saya sarankan agar anak-anak muda hendaknya lebih didorong untuk membaca puisi karya penyair yang masih hidup daripada membaca buku-buku ulasan tentang puisi tersebut. Mereka hendaknya mengenal dan mencintai puisi tertentu sebelum mereka membaca buku tentang puisi itu. Saya kira anak-anak muda bisa mengetahui secara samar-samar bahwa penyair yang berbicara kepada mereka adalah sezaman dengannya sendiri dan kepekaan mereka mempunyai suatu persamaan. 

Guru Idaman

Saya tidak beranggapan bahwa karya penyair yang masih hidup harus diajarkan secara resmi. Saya tidak setuju anak-anak muda harus menempuh ujian tentang karya-karya itu. Saya kira pemilihan sajak untuk disajikan di depan kelas harus mewakili cita rasa guru, dan tak dapat ditentukan oleh pihak lain. Jika guru bukan orang yang senang membaca puisi, maka ia tak dapat mendorong murid-muridnya agar menyenangi puisi. Juga anak-anak muda tidak seharusnya dijejali sejumlah besar sajak mutakhir; pada tingkat ini kita tidak bermaksud untuk menuntut mereka agar mengetahui dengan baik nama semua penyair terkenal yang masih hidup, tetapi dengan mempersiapkan mereka ke jalan penikmatan puisi. 

Tentu saja, saya beranggapan bahwa guru yang mengajarkan puisi mutakhir kepada murid-muridnya adalah juga guru yang mengajarkan karya-karya klasik dalam buku ajarnya dan yang menginginkan mereka berhasil memperoleh nilai ujian yang baik. Barangkali saya hanya menggembar-gemborkan tentang guru idaman. Namun, bukankah para pendidik kadang-kadang lupa dalam pelajaran mereka tentang pengajaran, bahwa satu hal yang sangat pokok untuk pengajaran yang baik itu adalah guru yang baik? Guru yang baik akan berhasil mengajar murid-muridnya dengan baik dalam hal pemahaman kesejarahan kesusastraan. Ia juga akan membimbing mereka untuk mengetahui bahwa sastra lama juga dapat dinikmati. Sebab tanpa kenikmatan itu, karya sastra tidak memiliki arti apa-apa. Dapat ditambahkan bahwa orang terpelajar haruslah mengetahui sastra lama sebagai bagian sejarah. Guru yang baik akan menyadarkan murid-muridnya bahwa kesusastraan merupakan kegiatan dan proses tanpa henti. Ia juga menyadarkan mereka bahwa kesusastraan sedang diciptakan, bahkan waktu mereka sibuk mempelajari karya masa lampau. 

Saat memperkenalkan murid-muridnya kepada puisi mutakhir yang disukainya, guru akan mengingatkan mereka kepada bagian penting dari kenikmatan puisi. Karena itu pada hemat saya, tidak menjadi persoalan besar apakah kegairahan guru harus dibangkitkan oleh puisi mutakhir yang terbaik —dengan kata lain, puisi yang berkenan pada hati saya — atau tidak, tetapi yang lebih penting lagi adalah bahwa semangat itu harus ditularkan. Kemampuan murid-murid mengembangkan cita rasa yang baik akhirnya akan mempertemukan mereka dengan puisi yang lebih baik. Demikian juga untuk yang lainnya, mungkin lebih baik mereka menyukai puisi yang tidak begitu baik daripada mereka tidak menyukai satu pun puisi! 

Karena itu, guru idaman menurut saya, akan mengajarkan karya sastra klasik sebagai sejarah dan bagian sejarah yang harus diketahui oleh setiap orang terpelajar, tidak peduli apakah ia suka atau tidak. Kemudian guru itu harus membimbing beberapa muridnya kepada penikmatan puisi. Dia juga harus menuntun beberapa murid lainnya kepada pokok pengakuan bahwa ada orang lain yang dapat menikmati puisi tersebut. Dia akan memperkenalkan murid-muridnya kepada puisi mutakhir dengan cara menimbulkan kenikmatan membaca puisi; pertama kenikmatan dan sesudah itu, baru pemahaman. 

Hal itu mungkin diperoleh dengan membaca puisi serupa sebagai kegiatan ekstrakurikuler, atau mungkin dengan pembacaan sajak atau pemutaran rekaman, dan kemudian meminta murid-muridnya agar menuliskan kesan dan tanggapannya. Saya kira pengenalan puisi dengan cara serupa itu bisa dibenarkan, bahkan bagi murid yang belum menunjukkan minat kepada puisi, atau belum memiliki ketajaman dan kepekaan dalam menghargai puisi. Bagi murid yang memiliki kemampuan untuk menikmati dan memahami apa-apa yang baik dalam kesusastraan akan menyadari bahwa pengetahuan mereka tentang puisi lama (yang telah mendapat pengakuan dari generasi secara berturut-turut) akan mempertajam penilaian dan memperhalus penikmatan mereka atas puisi mutakhir sezamannya. Penikmatan mereka atas puisi yang telah ditulis pada zaman sekarang akan membantu mereka ke arah penikmatan atas puisi klasik. Karena puisi klasik dan mutakhir merupakan satu keutuhan yang harmonis. Puisi klasik itu merupakan landasan bagi penciptaan puisi-puisi mutakhir. Tanpa landasan tersebut, puisi mutakhir tidak akan berdiri seperti yang kita lihat sekarang ini.

Desember, 1960

-Sumber: www.sastradunia.com