Info
Sambutan Ketua Yayasan Hari Puisi di Malam Anugerah HPI 2019

Sambutan Ketua Yayasan Hari Puisi di Malam Anugerah HPI 2019

Sambutan Ketua Yayasan Hari Puisi di Malam Anugerah HPI 2019
Maman S. Mahayana


Assalamualaikum w.w.

Yang mulai Bapak Gubernur DKI Jakarta, Bapak Anies Baswedan
Yang mulia Bapak Mehrdad Rakhshande, Atas Kebudayaan Republik Islam Iran
Yang mulia Bapak John Byron Estrada, Perwakilan Kedubes Kolombia
Yang terhormat Bapak Prof Dadang Sunendar, Kepala Badan Bahasa dan Perbukuan
Yang terhormat Bapak Ir. Fakhruroji, Direktur Balai Pustaka
Yang terhormat Bapak Eko wahyuanto, Kasubdit Prangko dan Filateli Kominfo
Yang terhormat Bapak Onni Direktur Pos Regional IV Jakarta
Yang terhormat Ahli Waris Pujangga Raja Ali Haji, Bapak Raja Malik
Yang terhormat Ahli Waris Penyair fenomenal: Chairil Anwar, Ibu Evawani Chairil Anwar
Yang saya cintai, para guru Sutardji Calzoum Bachri, Presiden Penyair Indonesia, Abdul Hadi WM, peneroka dunia sufi, Ridak K Liamsi, tunak Melayu, para penyair, sahabat, dan hamba Allah, para penghidup bahasa Indonesia, serta para hadirin yang dimuliakan Allah
Ass …

Terima kasih saya sampaikan atas kehadiran Bapak/Ibu dalam acara  Puncak Perayaan Hari Puisi, sebuah acara yang kami sebut: Hari Raya Para Penyair.

Seperti juga perayaan hari puisi tahun-tahun sebelumnya, perayaan hari puisi ke-7 kali ini, kami mengusung tema “Puisi sebagai Digniti dan Intelektualisme”. Penentuan tema ini didasari pada pemikiran, bahwa puisi, sejak awalnya, bukanlah sekadar curahan hati atau permainan bahasa yang lalu melahirkan bahasa figuratif yang berupa metafora, simbolisme, analogi, personifikasi, atau majas lain, tetapi juga menjadikan bahasa (Indonesia) kaya daya-ungkap, cerdas dalam mencipta kiasan, atau piawai dalam melahirkan kata-kata bersayap. Di belakang itu, puisi juga menyimpan informasi tentang pengetahuan dunia, pesan-pesan filosofis, dan menawarkan gagasan tentang masa depan sebuah bangsa.

Puisi-puisi Hamzah Fansuri, Raja Ali Haji atau para ulama besar kita, seperti Al-Banjari, Syekh Yusuf, Al-Palimbangi, Al-Bantani yang ditulis dalam bahasa Melayu; dan para aulia yang tawadu mengajari para santrinya di berbagai pesantren di Tanah Air melalui nadhom –yang juga hakikatnya puisi, di dalamnya tersimpan pewartaan pengetahuan tentang bahasa, sastra, sejarah, geografi, politik pemerintahan, astronomi, sosiologi, perubatan, dan etika dalam kehidupan sosial-budaya. Bahkan juga Kamasutra. Karya-karya mereka adalah bukti, bahwa bangsa di Nusantara ini sudah sejak lama hidup dalam budaya literasi, sebuah peradaban yang mementingkan pemikiran yang diekspresikan dalam aktivitas baca-tulis.  

Para penyair pra-Indonesia, juga menyerap tradisi leluhur budaya literasi dengan semangat coba memberi penyadaran tentang ikatan sentimen kenusantaraan. Puisi-puisi (syair) mereka adalah bukti otentik tentang bagaimana bahasa Melayu yang dipelihara dan dikembangkan Raja Ali Haji, pada akhirnya terpilih sebagai bahasa Indonesia, dalam peristiwa Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928. Teks Sumpah Pemuda itulah yang dikatakan Sutardji Calzoum Bachri sebagai puisi besar!
Para hadirin yang dimuliakan Allah …
            
Perayaan Hari Puisi ke-7 kali ini juga ditandai peristiwa istimewa, yaitu peluncuran seri Prangko Penyair. Untuk kali ini, pihak Kominfo baru menyetujui dua penyair besar kita, yaitu Raja Ali Haji, Bapak Bahasa Melayu, pemelihara dan penjaga marwah bahasa Melayu, dan Chairil Anwar, kreator yang menjadikan bahasa Indonesia begitu trengginas, lincah, dinamis, luwes, dan modern. Jadi, tepatlah bangsa ini memilih dua penyair—pejuang bahasa itu untuk diabadikan dalam seri prangko.
            
Apa maknanya pengabadian kedua nama penyair itu dilakukan oleh Kominfo sebagai representasi negara? Itulah apresiasi negara pada dunia literasi. Lihat saja Iran. Bagaimana negara membangun Taman Makam Penyair di Tabriz. Di sana, ada museum dan perpustakaan yang disulap jadi Taman Wisata. Lihat juga Turki. Di sana, ada makam penyair besar Rumi di Konia. Setiap tahun di makam itu diselenggarakan ajang pertemuan sastrawan, penyair, budayawan se-Dunia. Apa maknanya bagi Turki? Rumi yang sesungguhnya penyair sufi agung Persia, telah menyumbangkan “wisata religi” bagi kaum intelektual dunia. Satu lagi perlu disebutkan di sana: Azerbaijan. Di pusat kota Azerbaijan, berdiri megah patung Nizhomi, penyair besar lewat mahakaryanya, Laila Majnun. Patung itu tegak menghadap sebuah museum besar yang di sekelilingnya berdiri patung dan foto para sastrawan. Itulah Museum Sastrawan, dibangun di tengah kota Baku, ibukota Azerbaijan.
            
Apa yang terjadi kemudian bagi bangsa di ketiga negara itu? Tercipta generasi yang percaya diri pada kekayaan intelektual bangsanya; tidak mudah diinfiltrasi budaya dari luar; dan menempatkan pengetahuan sebagai sumber kekayaan yang tiada akan habis seumur hidup.
            
Bagaimana dengan nasib sastrawan dan intelektual Indonesia. Di negeri ini baru makam Hamzah Fansuri dan Raja Ali Haji yang jadi objek wisata religi dan edukasi. Bagaimana pula dengan Jakarta? Bagaimana pula dengan makam Chairil Anwar? Itulah sesungguhnya tugas dan kewajiban pemerintah daerah menghargai—sekaligus memanfaatkan—popularitas tokoh penyair. Dapat kita bayangkan jika makam Chairil Anwar dipugar dan disulap jadi tempat wisata edukasi, tempat baca puisi, tempat diskusi anak-anak muda?
           
Para hadirin yang mulia.

Kita percaya, Pak Gubernur—seperti yang dapat kita lihat pada kebijaksanaan dan penataan kota Jakarta kini, sudah menyadari perkara itu. Kita lihat saja nanti, beliau akan merealisasikan sebuah taman yang nyaman, indah, dan bermarwah, karena di sana, ada makam yang dicintai para sastrawan, dihormati kaum intelektual mancanegara: Chairil Anwar!

Demikian sambutan saya.

Terima kasih

Wassalamualaikum w.w.