Info
Saat Presiden Penyair SCB Tak Beranjak dari Perayaan HPI Riau

Saat Presiden Penyair SCB Tak Beranjak dari Perayaan HPI Riau



Sutardji Calzoum Bachri alias SCB adalah presiden penyair Indonesia, juga orangtua yang akrab disapa abang atau pak presiden. Meski usianya sudah 74 tahun, tapi semangatnya dalam berpuisi, dalam bersastra, mengalahkan anak-anak muda lainnya.

Dalam pesta puisi atau perayaan Hari Puisi Indonesia (HPI) di Riau, Sutardji terus bergabung, bersama dengan peserta lainnya selama tiga hari, 4-6 Oktober. Semua rangkaian kegitan tidak ada yang tidak diikutinya.

Mulai dari penyair masuk sekolah, panggung penyair, dialog sastra dan budaya di Perpustakaan Soeman HS dan Kenduri Budaya di Desa Muara Bio, Rimbang Baling. Tardji tak canggung naik turun perahu, naik bukit menuju desa, duduk melantai di lapangan bersama warga dan tidur serta makan ramai-ramai satu rumah.

Justru, ada kebahagiaan yang tersirat dari wajah Tardji. Dia selalu tersenyum, asyik foto-foto dengan warga dan peserta lainnya, meski terkadang memang terlihat letih, bahkan sempat tertidur di perahu saat menuju desa. Semangat ingin menularkan anggapan bahwa puisi itu indah dan baik kepada anak-anak muda, terlihat dari sikap, sapa dan tawa yang selalu mengalir dari bibirnya.

''Dialog atau diskusi dalam ruangan itu untuk menambah pengetahuan, dari tidak tahu menjadi tahu. Tapi kalau datang langsung ke desa, berkumpul dengan masyarakat dan melihat bentang sungai dan alam, kita jadi merasa. Mengetahui, melihat dan merasa, puisi jadi sempurna,'' kata Sutardji.

Tardji memang nyaris tidak pernah absen menghadiri perayaan Hari Puisi di Riau. Kata Kunni, pembina dan pimpinan Komunitas Seni Rumah Sunting selaku penggagas dan pelaksana HPI di Riau setiap tahunnya, kehadiran Tardji memang sudah dikomunikasikan sejak awal. Tardji sempat mengatakan tidak hadir karena baru selesai operasi katarak tanggal 19 September, ditambah kurang sehat dan asap.

''Allah jua yang menggerakkan hatinya dan menyehatkan jasmaninya sehingga hadir dalam HPI di Riau tahun ini. Sehatnya lebih penting dari hadirnya. Tapi alhamdulillah beliau hadir. Bahkan beberapa kali komunikasi lewat telpon, beliau menanyakan ada tak mengunjungi daerah pedalaman? Menurut saya Tardji luar biasa,'' katanya.

Dalam beberapa rangkaian kegiatan, Tardji menjadi narasumber, seperti di SMA As-Shofa dan saat dialog sastra budaya di Perpustakaan Soeman HS. Dua kali pula Tardji membacakan puisi yakni di As-Shofa dan saat malam puncak di Anjung Seni Idrus Tintin (ASIT).

*Tulisan ini dimuat dalam laman Berazam.com berjudul "Tiga Hari Sutardji Tularkan Virus Puisi ke Daerah Pedalaman"