Info
Pertanggungjawaban Juri Sayembara Buku Puisi HPI 2019

Pertanggungjawaban Juri Sayembara Buku Puisi HPI 2019

Pertanggungjawaban Juri Sayembara Buku Puisi HPI 2019




Sayembara Buku Puisi Yayasan Hari Puisi pertama kali diselenggarakan tahun 2013 menandai perayaan hari puisi pertama. Kini sudah memasuki tahun ke-7. Dalam perjalanan waktu selama tujuh tahun itu, buku puisi berlahiran dari tangan penyair. Setiap tahun, panitia menerima buku puisi yang diikutkan dalam sayembara ini sekitar 300—400 judul. Memang terkesan seperti terjadi inflasi. Tetapi itu jauh lebih baik daripada puisi berjalan sendiri di lorong sepi. Satu hal yang penting dicatat dalam penyelenggaraan Sayembara Buku Puisi Yayasan Hari Puisi ini adalah munculnya nama-nama baru yang tak terduga, selalu ada kejutan, selalu ada misteri!


Seperti juga penyelenggaraan tahun-tahun sebelumnya, penyeleksian dimulai sejak buku-buku puisi yang dikirim para penyair, berdatangan. Panitia mencatat dan memeriksa persyaratan administrasi, menyisihkan yang tidak memenuhi syarat, dan mengirimkan yang sesuai persyaratan kepada dewan juri secara bertahap. Dewa juri secara bertahap pula mulai melakukan penilaian. Seperti juga sayembara atau lomba apa pun, sebelum melakukan penilaian, Dewan Juri sudah menetapkan dahulu kriteria penilaiannya. Meskipun kriteria itu bersifat umum, setidak-tidaknya dewan juri dapat melakukan penilaian secara objektif, tidak didasari oleh sikap apriori dan suka—tidak suka, menghindar subjektivitas yang berkaitan dengan faktor di luar teks, dan membiarkan teks puisi secara bebas memancarkan kekuatannya sendiri. Adapun kriteria penilaian yang dimaksud adalah sebagai berikut:

(1) Keterbacaan (legibilitas)

(2) Kepaduan (koherensi)
(3) Kedalaman (kompleksitas)
(4) Kebaruan (inovasi)
(5) Keaslian (orinalitas)


Mengingat penjelasan tentang kriteria penilaian itu sudah disampaikan dalam pertanggungjawaban juri dalam sayembara sebelumnya, tidak perlu kiranya Dewan Juri mengulang kembali penjelasan itu. Demikian juga halnya dengan penjelasan tentang tahapan proses penjurian yang dimulai dari persyaratan administrasi sampai pemilihan 10—20 nomine yang diunggulkan masing-masing juri. Meskipun demikian, Dewan Juri tetap membuka diri adanya kemungkinan lain, perspektif lain, atau apa pun yang mendukung penilaian. Berbagai kemungkinan itulah yang sering kali justru muncul dalam perdebatan ketika hendak menentukan lima buku puisi yang berhak memperoleh hadiah dan satu buku puisi yang terpilih mendapat Anugerah Hari Puisi.


Ternyata, dalam rapat pertama (Minggu, 13 Oktober 2019), untuk menentukan enam buku puisi (lima buku puisi terbaik dan satu buku puisi Anugerah Hari Puisi) itu, tidaklah mudah begitu saja disepakati. Beberapa kali pembacaan ulang dilakukan pada sejumlah buku puisi yang masuk nomine. Hasilnya, belum juga ada kata sepakat. Dari sinilah muncul gagasan, bahwa untuk tahun ini “tidak ada buku puisi yang berhak mendapat Anugerah Hari Puisi”. Alasannya, kualitas buku puisi yang ikut Sayembara Buku Puisi Yayasan Hari Puisi tahun 2019 ini, relatif sejajar dan tidak ada satu buku puisi yang dipandang cukup menonjol di antara buku-buku yang masuk nomine itu. 

Dewan Juri kemudian berdiskusi dengan Panitia dan Pembina Yayasan Hari Puisi. Setelah terjadi diskusi alot dan perdebatan hangat antara Dewan Juri, Panitia, dan  Pembina YHP, akhirnya disepakati: pemberian Anugerah Hari Puisi 2019, tetap diberikan kepada satu buku puisi dengan segala konsekuensi dan dengan berbagai alasan dan pertimbangannya.

Atas dasar kesepakatan itu, kembali Dewan Juri bertungkus lumus untuk menentukan lima buku puisi yang berhak memenangkan hadiah dan satu buku puisi yang terpilih mendapat Anugerah Hari Puisi. Keputusan pertama berhasil disepakati, yaitu terpilihnya lima buku puisi terbaik yang mendapat hadiah. Setelah itu, kembali Dewan Juri berdiskusi-berdebat untuk menentukan satu buku puisi yang mendapat hadiah utama, Anugerah Hari Puisi. Hasilnya: deadlock! Dewan Juri belum dapat secara bulat menetapkan pilihannya.

Untuk memberi kesempatan Dewan Juri mengevaluasi ulang, melakukan penilaian kembali sambil mencari kemungkinan lain yang dapat disepakati bersama, rapat untuk memilih satu buku puisi yang mendapat hadiah utama, Anugerah Hari Puisi, ditunda dan dilanjutkan lima hari kemudian (Jumat, 18 Oktober 2019). Kembali, rapat Dewan Juri kali ini pun, gagal memperoleh kesepakatan bersama. Mengingat waktu pelaksanaan puncak Perayaan Hari Puisi tinggal dua hari lagi (Minggu, 20 Oktober 2019) dan pemberian Anugerah Hari Puisi 2019, tetap harus diberikan, Dewan Juri kembali berusaha melakukan kompromi untuk memperoleh kesepakatan bersama. Hasilnya, tetap deadlock!
Menghadapi kenyataan ini, tak ada pilihan lagi bagi Dewan Juri, yaitu melakukan voting, pemungutan suara! Hasilnya, dua juri, setuju dan satu juri, tidak setuju! Apa boleh buat. Bersepakat untuk tidak sepakat adalah pilihan yang menjadi keputusan Dewan Juri. Maka, Pemenang Anugerah Hari Puisi 2019 berdasarkan keputusan dua juri setuju dan satu juri tidak setuju!


1. Amor Fati, Wayan Jengki Sunarta, Bali: Pustaka Ekspresi, 2019
2. Buka Pintu Kiri, Afrizal Malna, Yogyakarta, Diva Press, 2018
3. Cadar Fajar, Adri Darmadji Woko, Jakarta: Kosa Kata Kita, 2019
4. Calung Penyukat, Kunni Masrohanti, Jakarta: TareBooks, 2019
5. Dolanan, Yuditeha, Karanganyar: Nomina, 2019
6. Ekstase Hawa, Abidah El Khalieqy, Yogyakarta, Interlude, 2019
7. Jannani: Amsal Banjarbaru di Simpang Waktu, Hudan Nur, Banjarbaru, 2019
8. Jikalau Laut Dinyalakan, Abdul Kadir Ibrahim, Kepulauan Riau, Milaz Grafika, 2019
9. Kanaya, Rini Intama, Jakarta: TareBooks, 2019
10. Kesaksian sebagai Isyarat, Ahmad Moehdor Al-Farisi, Banten; Kubah Budaya, 2019
11. Kitab Ibu dan Kisah Hujan, Tjahjono Widarmanto, Sidoarjo, Tankali, 2019
12. Orang Gila dari Edgar, Iverdikson Tinungki, Jakarta: Teras Budaya, 2019
13. Mencatat Demam, Willy Fahmi Agista, Ciamis: Kentja Press, 2018
14. Mereka Terus Bergegas, Bode Ruswandi, Tasikmalaya, Langgam Pustaka, 2019
15. Pejalan, Dharmadi, Yogyakarta: Cinta Buku, 2019
16. Perjanjian tak Bernama, Yana Risdiana, Bandung: Inboeku Media Ilmu, 2019.
17. Seseorang Keluar dari Telepon Genggam, Isbedy Stiawan ZS, Lampung: Siger Publisher, 2019
18. Setapak Menuju Nun, Alvib Shul Vatrick, Luwu: Aden Jaya, 2018
19. Syahwat Batu, Ali Ibnu Anwar, Yogyakarta, Bening Pustaka, 2019
20. Tuah Uziah, Norham Abdul Wahab, Jakarta: TareBooks, 2019

Ke-20 buku puisi nomine di atas itu, dipilih lagi ke dalam tiga kategori: 


1. Empat Belas Buku Puisi Terpuji Anugerah Hari Puisi Indonesia 2019 sebagai berikut:


1) Amor Fati, Wayan Jengki Sunarta, Bali: Pustaka Ekspresi, 2019

2) Buka Pintu Kiri, Afrizal Malna, Yogyakarta, Diva Press, 2018
3) Cadar Fajar, Adri Darmadji Woko, Jakarta: Kosa Kata Kita, 2019
4) Calung Penyukat, Kunni Masrohanti, Jakarta: TareBooks, 2019
5) Dolanan, Yuditeha, Karanganyar: Nomina, 2019
6) Ekstase Hawa, Abidah El Khalieqy, Yogyakarta, Interlude, 2019
7) Jannani: Amsal Banjarbaru di Simpang Waktu, Hudan Nur, Banjarbaru, 2019
8) Kesaksian sebagai Isyarat, Ahmad Moehdor Al-Farisi, Banten; Kubah Budaya, 2019
9) Kitab Ibu dan Kisah Hujan, Tjahjono Widarmanto, Sidoarjo, Tankali, 2019
10)  Orang Gila dari Edgar, Iverdikson Tinungki, Jakarta: Teras Budaya, 2019
11)  Perjanjian tak Bernama, Yana Risdiana, Bandung: Inboeku Media Ilmu, 2019.
12)  Seseorang Keluar dari Telepon Genggam, Isbedy Stiawan ZS, Lampung: Siger Publisher, 2019
13)  Setapak Menuju Nun, Alvib Shul Vatrick, Luwu: Aden Jaya, 2018
14)  Tuah Uziah, Norham Abdul Wahab, Jakarta: TareBooks, 2019

2. Lima Buku Puisi Pilihan Anugerah Hari Puisi Indonesia 2019


1) Jikalau Laut Dinyalakan, Abdul Kadir Ibrahim, Kepulauan Riau, Milaz Grafika, 2019

2) Kanaya, Rini Intama, Jakarta: TareBooks, 2019
3) Mereka Terus Bergegas, Bode Ruswandi, Tasikmalaya, Langgam Pustaka, 2019
4) Syahwat Batu, Ali Ibnu Anwar, Yogyakarta, Bening Pustaka, 2019
5) Pejalan, Dharmadi, Yogyakarta: Cinta Buku, 2019

3. Satu Buku Puisi Terbaik Anugerah Hari Puisi Indonesia 2019 adalah:


1) Mencatat Demam, Willy Fahmi Agista, Ciamis: Kentja Press, 2018


Demikianlah keputusan Dewan Juri Sayembara Buku Puisi Yayasan Hari Puisi 2019. Keputusan ini tidak dapat diganggung gugat.


Jakarta, 18 Oktober 2019


Dewan Juri

Abdul Hadi WM (Ketua merangkap Anggota)
Sutardji Calzoum Bachri (Anggota)
Maman S. Mahayana (Anggota)


Sekretaris Juri: Sofyan RH. Zaid