Info
Membaca “Bunatin”, Membaca Luka di Bumi Talang

Membaca “Bunatin”, Membaca Luka di Bumi Talang



Di awal kata sebagai pengalas, patut dipercakapkan ulang bahwa buku kumpulan sajak bertajuk “Bunatin” karya Dheni Kurnia telah meraih juara pemuncak di acara Hari Puisi Indonesia (HPI) tahun 2018. Buku ini juga sudah pernah dibedah di Panggung Tok Tan beberapa waktu lalu, bahkan buku ini juga sudah diarak sampai ke Provinsi Jambi, bulan lalu. Pada Rabu (20/3) buku yang menghimpun sebanyak 99 sajak karya Dheni Kurnia ini dibedah di lingkungan kampus Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unilak.

Tulisan saya ini sesungguhnya juga dilecuti oleh hal ihwal di atas, di mana karya sastra, ketika ia lahir, sudah sepantasnya kita percakapkan bersama-sama, kita beri tafsir terhadapnya, agar karya tersebut “hidup” menggeliat, turut memberikan riak diantara kucah dan gelombang peristiwa dan isu politik yang hari ini demikian “seksinya” melentik-lentik di ruang publik. Untuk apa? Paling tidak mengutip perkataan populer yang pernah disampaikan John F Kennedy; jika politik itu kotor, puisilah yang akan membersihkan.

Sebelum lebih jauh, agar percakapan saya terhadap buku “Bunatin” karya Dheni Kurnia tidak simpang-menyimpang, kiranya perlu saya sampaikan, tafsir yang akan saya gunakan dalam menelaah buku “Bunatin” berupa tafsir bebas yang beralas kepada istilah point of view. Sebuah pendekatan terhadap karya sastra yang gejalanya adalah dengan penuh sadar akan melepaskan pengarang dari karyanya. Titik fokusnya adalah pada otonomi karya yang melecitkan makna dari serakan tanda-tanda yang sudah terlanjur lekat di kepala saya tatkala membacanya.

Saya akan mulai dengan judul buku yang dipilih penulis. “Bunatin”. Mengutip dari pengantar penulis, secara mudah dipahami oleh pembaca bahwa “Bunatin” terindikasi sebagai nama seseorang, sesosok, insan, manusia. Dan memang itu dipertegas oleh penulis di dalam pengantarnya “Bunatin bukanlah ibuku, bukan pula kekasihku. Bunatin adalah perempuan Talang. Wanita sempurna yang lahir dari Rahim terbuang”.

Nah, seperti yang saya sampaikan di atas tadi, dengan pendekatan yang saya gunakan untuk memberi tafsir terhadap buku ini, maka saya hendak mengajak semua untuk mendatangi “Bunatin” dengan cara pandang yang berbeda dari penulis buku. Karena dalam analisis semiotik Pierce, ada yang disebut dengan Pengguna Tanda (interpretant). Yakni konsep pemikiran dari orang yang menggunakan tanda dan menurunkannya ke suatu makna tertentu atau makna yang ada dalam benak seseorang tentang objek yang dirujuk sebuah tanda.

Merujuk pada hal di atas, maka tatkala membaca sajak-sajak yang terhimpun di dalam “Bunatin”, di dalam benak saya, ada semacam konsep yang muncul, yang seterusnya jelmakan makna tersendiri terhadap “Bunatin” yakni sebagai Bumi. (baca KKBI, tempat manusia hidup, dunia, jagat). Dan “Bunatin” adalah bumi yang dibicarakan penulis, bumi  yang dirindukan dengan segenap birahi, yang ditangisi, yang dikasihi dan bumi yang diimpikan untuk kembali yaitu bumi Talang Mamak.

Mari cuba disimak penggal sajak bertajuk “Bunatin”; Bunatin/Engkaulah ladangku/Bunatin/Engkaulah padangku/Bunatin/Engkaulah rebung/Yang tumbuh di jantung/Kau curi tanahku/Kau pagar marwahku.

Bunatin/Engkaulah hidupku/Bunatin/Engkaulah talangku/Bunatin/Engkaulah manggar/Yang memagut tubuhku/Kau curi wangiku/Kau balut khayalku ...

Kata “ladang”, “padang”, “rebung”, “tanah”, “hidup”, “talang”, “manggar” memberikan tanda terhadap “bumi” yang saya maksudkan di atas tadi. Karena dalam pendekatan semotik, tanda merupakan konsep utama yang dijadikan sebagai bahan analisis, di dalamnya terdapat makna sebagai bentuk interpretasi pesan. Secara sederhana, tanda cenderung berbentuk visual atau fisik yang ditangkap oleh manusia. Dengan demikian, diksi dalam penggalan sajak di atas, memberikan tanda bahwa “Bunatin” adalah sebagai bumi Talang yang dipercakapkan dan diperindukan oleh Dheni Kurnia sebagai penulis.

Memang, jika mengacu kepada 99 sajak yang termaktub di dalam buku “Bunatin”, sajak yang secara langsung  menggunakan diksi “Bunatin” hanya ada 3 (tiga) buah sajak saja yakni “Matamu Bunatin”, “Engkaulah Buantin”, dan “Bunatin”. Tetapi bagi saya, jumlah yang relatif sedikit itu akan serta merta tidak merecupkan tanda tegas menakala Dheni Kurnia kemudian memilih judul kumpulan sajaknya ini adalah “Bunatin”, maka hal itu menjadi alasan yang kuat atas tafsiran yang telah saya sebutkan bahwa “Bunatin” adalah “bumi”. Karena kita ketahui bersama, sudah menjadi kesepakatan bersama, sebuah judul buku yang dipilih hendaklah mewakili atas apa yang termaktub di dalamnya.

Hal di atas akan saya perdalam dengan analisa berikutnya, dengan mengutip beberapa buah puisi diantaranyapenggalan sajak berjudul “Rindu Talang”;kubenamkan air matamu/ke dalam lubuk gangsal/agar kau jenguk aku/dengan rindu talang/di tepian kenangan/dengan bibir yang merekah/. Sajak ini dapat ditafsirkan sebagai bentuk kerinduan atas bumi Talang (Talang Mamak) yang merupakan ekspresi dari penulis dengan pilihan beberapa diksi yang terhubung secara nyata dengan bumi, tempat tinggal, lahir dan bermastautin.

Mari kita simak juga penggal sajak berikutnya yang berjudul “Roman Talang”/siang mengabu malam terindu/terpejam mimpi dek basah kain/baju ganih mewangi pandan/pandan tercium di setiap lorong/sombong air tak beriak/sombong rotan berbulu miang/tersendat darah di langkah nadi//

Baca sajak lainnya, yang bertajuk “Hanya Ada Kau Dalam Ladang”;/hanya ada kau dalam ladang/tanah puaka yang kita tebas/menjadi pusaka anak negeri/bukit curam bertukar datar/bagi dua malaikat penunggu lahan//hanya ada kau dalam ladang/tanah kering yang engkau siram/dengan air batang Indragiri/yang mengalir di dua kaki/baru berhenti dilepas penat//

Dari kedua sajak di atas, juga tidak dapat dinafikan, beberapa diksi yang dipilih penulis; “lading”, “pandan”, “puaka”, “bukit”, “lahan”, “tanah”, “air batang Indragiri” adalah tanda untuk mengekspresikan ide dan gagasan penulis, yang tentu saja terhubung langsung dengan unsur atau elemen yang terdapat pada “bumi” yakni “Bumi Talang”. Lalu, pembacaan yang lebih jauh terhadap karya ini, saya temukan hal yang serupa bahwa diksi-diksi yang dipilih penulis buku, hampir semuanya mengisyaratkan hal serupa yakni sedang mempercakapkan tentang nasib bumi dari suku Talang Mamak.
Kenapa ? alasan pertama tentu saja dengan menggunakan pendekatan ekspresif, bahwa di dalam darah Dheni Kurnia mengalir darah Talang Mamak, kakek buyutnya adalah Talang Mamak. Tentu saja, sebagai “tanah kelahiran”, badi yang melekat tidak akan bisa hilang begitu saja, ia akan menggeliat dalam pikir dan, rasa sampai menutup mata. Sehingga lintas kenangan, nasib tanah dan puaknya kini hadir untuk dipercakapkan, untuk apa? Tentu saja untuk diperjuangkan.

Saya menemukan ada gejolak perlawanan di dalam sajak-sajak Dheni Kurnia di dalam  buku “Bunatin”. Perlawan yang tidak berteriak lantang, perlawanan yang tidak menggunakan fisik semata, tetapi perlawanan yang dibalut gairah rindu, rindu yang berdarah, gairah yang menyukat pedih, inilah sejatinya perlawanan yang diam-diam membangkitkan “Harimau Tidur”. Dalam konsep kekuasaan, jenis perlawanan seperti ini disebut perlawanan pasif. James C Scott menjelaskan perlawanan pasif bisa berupa sabotase secara halus, menghindar diri dan tipu-menipu. Perlawanan dalam bentuk ini juga, tidak ditandai oleh konfrontasi besar-besaran dan menantang akan tetapi lebih oleh aksi menghindarkan diri secara diam-diam yang juga tidak kurang besarnya dan sering kali lebih efektif. Perlawanan serupa ini, yang biasa dilakukan kaum proletar, kelompok-kelompok yang relatif tidak berdaya sebagai senjatanya berupa mengambil sumber makanan, menipu, berpura-pura patuh, mencuri kecil-kecilan, pura-pura tidak tahu, mengumpat di belakang, membakar dan seterusnya.

Tapi perlawanan Dheni Kurnia terangkai dalam sajak-sajak rindu (rindu yang berdarah-darah) sajak-sajak birahi (birahi yang bergumul dengan kemasygulan) dalam tiap sajaknya meletupkan duka lara nasib Talang Mamak. “Bunatin” menjadi simbol dari perlawanan itu, seorang wanita yang terlahir dari rahim yang terbuang. “Bunatin” adalah “ibu”, ibu pertiwi bagi Dheni Kurnia. Tempat segala kasih dikembalikan, tempat segala rindu ditumpuk, tempat segala keluh kesah disimpan, tempat segala luka disembuhkan, tempat segala suka ditanak, tempat segala peluk diperketat, tempat segala tangis dimuntahkan, tempat segala kenang menggenang, tempat segala risau bersarang, “Bunatin” adalah tempat kembali. Karena sejatinya, tak ada lagi tempat kembali yang paling hakiki selain dari pada Bumi Ibu Pertiwi. Maka “Bunatin” adalah bumi, bumi ibu pertiwi bagi Dheni Kurnia. “Bunatin” menjadi Legisign/tanda aturan yakni sesuatu yang dianggap tanda berdasarkan peraturan yang berlaku umum, baik secara hukum dibuat atau secara tidak sengaja terbentuk dengan sendirinya dalam kultur yang ada.

Sajak-sajak Dheni Kurnia dalam buku “Bunatin” menurut saya justru sedang mengkampayekan untuk kembali berkasih-kasih dengan bumi, dengan alam semula jadi. Kerisauan demi kerisauan di dalamnya kembali mengingatkan kita selaku pembaca, sudah banyak yang terluka oleh kerenah manusia yang mengedepankan nafsu serakahnya. Sehingga “Bunatin” seorang gadis berparas cantik, berhidung bangir, meluluhkan jantung, merentak dada, menjelma menjadi “gadis” yang lisut, kisut, pucat, lelah, dan berpenyakit. “Bunatin” bagi Dheni Kurnia kemudian mengirai jadi Pasir Keranji, Airmolek, Rengat, Batang Gangsal, Bukit Tigapuluh, tentang ketertinggalan, keterasingan, tersiksa, tertekan, bodoh, dan dipinggirkan. Itulah “Bunatin”, itulah Bumi Talang Mamak.

Maka tak heran dalam sajak-sajaknya, Dheni Kurnia selalu mengajak pembaca larut dalam suasana rindu yang bergairah namun dalam sekejap kemudian keromantisan tiba-tiba tertarah luka dan duka menganga. Dheni Kurnia menurut saya dengan sengaja mengajak pembaca hanyut dalam diksi-diksi rindu dan birahi tetapi sesungguhnya di akhir dari itu semua ada luka yang menganga, ada nestapa yang bernak pinak. Dan di bagian akhir itulah, kita tersentak. Dheni Kurnia secara tidak langsung hendak mendedahkan suatu kenyataan bahwa jika tidak mengenal rindu, kasih sayang, harapan, maka kita tidak akan mengenal luka lara. Tetapi disebabkan seorang Dheni Kurnia menyimpan rindu, menyemai mimpi, menitipkan  kasih, menangkup harap di bumi Talang,  maka luka akan tertoreh manakala tempat menyimpan segala rasa dan piker itu diusik.

Cuba simak sajak berjudul “Dipalut Gusar”;…/dah lama rindu tertahan/terantuk sebak terbendung nasib/hari berjalan terasa lama/rindu di badan orang tak tau/remuk hati jiwa mengenang/

Penggal bait sajak di atas, terbangun suasana kerinduan yang larut, sedang pada bait berikutnya Dheni Kurnia menyeretkan arus luka perih ketika dibaca; /Aku talang dipalut gusar/engkau hening di pelukan panas/ air mongering engkaupun lalu/lukah hanyut engkau pun diam/ tinggal malam diremuk malam/. Begitulah sajak Dheni Kurnia dalam “Bunatin”. Kita seketika dibuat lena dengan diksi-diksi rindu dan birahi, sayang yang menggenang  tetapi dalam sekejap kita terpapar oleh peristiwa luka dan nestapa.

Luka itu berdarah di tubuh Bunatin. Nestapa itu bersarang di dada Bunatin. Bunatin yang saya baca sebagai tanda. Tanda yang kemudian mengisyaratkan imaji di kepala saya sebagai bumi. Karena Bunatin bagi Dheni Kurnia sebagai tempat menumpahkan segalanya, tempat kembali. Selari dengan apa yang terkonsep di kepala saya, di mana lagi tempat kembali yang paling hakiki selain daripada bumi. Maka membaca “Bunatin” adalah membaca luka di bumi Talang.

Jefri al Malay
Penyair kelahiran Sungai Pakning-Bengkalis
Bermastautin di Pekanbaru
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Unilak Program Studi Sastra Melayu.