Info
Membedah Dua Buku Puisi Karya Penyair Perempuan Indonesia

Membedah Dua Buku Puisi Karya Penyair Perempuan Indonesia



Dinas Perpustakaan DKI Jakarta dan PDS HB Jassin menggelar kegiatan Bincang Buku bertema "Membaca Sejarah Merawat Tradisi" Sabtu (27/4/2019) yang lalu, di PDS HB Jassin, Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta.
Buku yang dibedah pada kesempatan itu adalah buku puisi dua Penyair Perempuan Indonesia berjudul Calung Penyukat karya Kunni Masrohanti asal Riau dan Hikayat Tanah Jawara karya Rini Intama asal Banten.
Kritikus Sastra, Maman S Mahayana mengatakan, buku Calung Penyukat, Kunni bercerita tentang masa kecilnya tapi tidak terlepas dari persoalan tradisi, budaya dan petuah.
“Sudah lebih fokus dan lebih matang dibandingkan dua buku sebelumnya. Dalam buku ketiga ini juga kaya dengan kosa kata bahasa Melayu yang kuat, yang lebih mudah bagi Kunni sebagai orang Riau karena Melayu Riau sangat kuat dan dari sinilah Bahasa Indonesia bermula,” ujar Maman.
Memang, lanjut kritikus sastra ini menambahkan, cukup kesulitan bagi orang lain yang tidak memahami Melayu atau belum datang ke Riau karena kosa kata tidak dilengkapi dengan keterangan. Akan sedikit menjadi kendala.

“Tidak masalah karena dengan begini menunjukkan bahwa ini karya puisi asli," beber Maman.
Senada dengan Maman, Presiden Penyair Sutardji Colzum Bachri menyebut Kunni semakin matang dalam karyanya. Puisi atau karya sastra, dikatakannya adalah hasil kematangan jiwa dan pengalaman pribadi sang penulisnya. Begitu juga dengan Kunni yang menulis pengalaman masa kecilnya berupa kenangan-kenangan dalam karya puisi yang matang, menghasilkan kata yang memberi makna pada kata yang lain.
"Puisi bukan hanya sekedar kata-kata tapi kata-kata yang bisa memberi makna pada kata yang lain, yang membuat kata-kata menjadi hidup, mengandung makna yang dalam. Kenangan yang ditulis Kunni adalah kenangan yang menghasilkan cahaya, karena kenangan itu sendiri adalah cahaya karena ditulis sedemikian rupa dengan kedalaman makna dan kata. Benar yang dibilang Maman, Kunni telah matang dalam karyanya kali ini. Ia menceritakan kebiasaan buruk seorang gadis yang duduk di depan pintu dan dilarang dalam adat tradisi kampungnya lalu menulisnya dalam puisi yang molek. Ada judul puisi alift terakhir, juga ditulis dengan kedalaman makna, kenangan yang bercahaya. Tradisi kental dalam karya-karyanya kali ini," kata Tardji panjang lebar seperti yang dilansir dari laman cakaplah.com.

Hikayat Tanah Jawara Karya Rini Intama
Sementara itu, buku Hikayat Tanah Jawara karya Rini Intama tak lepas dibincangkan dengan dalam dan gamblang. Wahyu Wibowo selaku Dosen filsafat di salah satu Universitas di bilangan Jakarta mengaku bangga karena ada penyair perempuan seperti Rini yang mau menulis puisi tentang atau berlatarbelakang sejarah. Menurutnya, Apa yang dilakukan Rini, diakui sebagai upaya menjaga dan merawat sejarah.
"Perempuan yang menulis puisi dengan latarbelakang sejarah. Ini sempat membuat saya tercengang. Kok ada ya, perempuan lagi. Ini luar biasa. Jarang yang mau menulis seperti ini. Ini upaya Rini agar sejarah tidak terlupakan dan semakin dicintai," kata Wahyu.
Pada kesempatan yang sama Presiden Penyair, Sutardji Colzoum Bachri juga menyampaikan banyak hal kepada Rini tentang keinginannya yang menulis puisi-puisi dengan latar belakang sejarah.
"Antara puisi dan sejarah harus saling menguatkan," katanya.
Acara ini berlangsung khidmat dari awal sampai akhir. Perbincangan yang diatur penyair Sofyan RH Zaid sebagai moderator itu semakin hangat. Banyak penyair dan sastrawan Indonesia yang hadir. Di antaranya, Presiden penyair Indonesia Sutardji Calzoum Bachri, Fikar W Eda, Asrizal Nur, Waluyo Dimas, Endah Sulawesi, Kurniawan Effendy, Eddy Pramduance, Joserizal Manua, Devie Matahari, Romy Sastra, Shobirin, Ariany Isnamurti, Adri dan masih banyak lainnya. Dihadiri juga berbagai komunitas seperti Dapur Sastra Jakarta (DSJ), Forum Sastrawan Indonesia (FSI), Negeri Poci, Perkumpulan Rumah Seni Asnur, Komunitas Seribu Guru, Dapur Sastra Cisauk (DSC), dan lain-lain.