Info
Balada Penyair dan Romantisme Kegetiran

Balada Penyair dan Romantisme Kegetiran




Restu Ashari Putra

Puisi-puisi Nana Sastrawan dalam buku kumpulan puisi Kitab Hujan adalah vitalitas dalam mencatat peristiwa. Segala rekam sejarah dan kenangan ia catat tanpa mengedepankan kata kata yang kerap orang bilang romantis. Namun di sinilah keromantisan Nana. Ia mencatat segenap peristiwa dengan kuat. Sajak-sajaknya matang. Kalau boleh saya menyebut ia semacam penyair balada. Walau saya jadi terus teringat sajak-sajak Rendra dalam Balada Orang-orang Tercinta. Keromantisannya ada pada penciptaan karakter-karakter peristiwa yang ia deskripsikan dengan penuh gairah dan mengena.

setiap pagi, aku terbangun dengan buku yang baru saja
dipinjam dari toko sepatu, tapi bukan di deretan sepatu.
Aku
menemukannya di meja kasir yang penjaganya seorang
wanita. Kita berbincang tentang apa saja, tapi bukan sepatu.
kita berbincang tentang canda dan diam. Setelah itu kau
mulai nakal dengan meminjam tubuhku dan memungut
hidup dalam kepalaku lalu kita pun sepakat menukar buku.
(Sajak “Kitab Hujan”)

Atau sajaknya yang lain,

Kukunjungi kotamu penuh kenangan
loronglorong
tembok hancur bekas meriam
dipertontonkan
memaksa aku menulis sejarah
yang dulu pernah kita pertanyakan
(Sajak “Kota Tua”)

Lalu ada apa dengan segenap peristiwa-peristiwa itu. Disinilah sajak-sajak Nana sepertinya lahir. Karena seperti seorang pejalan yang tanpa henti-hentinya dihadapkan pada beragam peristiwa, maka ia terus bertanya-tanya. Melakukan pencarian. Dan ia tetap setia dengan pencarian-pencarian di balik beragam peristiwa yang kerap meresahkannya itu.
hari-hari dari pengembaraan yang tak mengerti lelah
pintu, tanda dari segala kemungkinan
lukisan, lambaian, jeritan, canda tawa atau apalah
jendela, sebuah mata penantian

dari situ aku memandan
apakah semua pertanyaan memerlukan jawaban?
dan apakah jawaban ada ketika ada pertanyaan?
(Sajak “Puisi, Kau dan Aku”)

Dalam khazanah kesusastraan, seperti yang diungkapkan Subagio Sastrowardoyo tentang gaya bersajak Rendra terutama dalam Balada Orang-Orang Tercinta bahwa gaya bersajak Rendra lebih memerhatikan gejala lahiriah dibanding penyair pendahulunya, Chairil Anwar dan Sitor Situmorang yang lebih banyak bergulat di pencarian batiniah, maka Nana Sastrawan dalam kumpulan puisinya (Kitab Hujan) kali ini justru meleburkan keduanya. Antara gejala lahiriah peristiwa dan pencarian batiniah.
Perhatikan saja bagaimana ia menggambarkan peristiwa dalam sajak “Kota Tua” dengan sangat apik dan tentunya tetap dihantui kegelisahan, pertanyaan-pertanyaan serta pencarian terhadap peristiwa di depan matanya yang membuatnya resah. Kukunjungi kotamu/ketika mereka memajang celana dalam di atas batu bundar/ketika pejalan kaki mengemis hidup/ketika penggemar dolar tertawa lebar/ketika itu seorang penyair membungkus mayatnya//kuhadiahi kotamu dengan puisi/dan aku menjadi saksi mimpimu/dalam puing/yang terinjak kemiskinan//.
Nana menggambarkan peristiwa-peristiwa puisinya namun di lain itu ia juga mengembarai makna di balik itu semua terhadap dirinya sebagai seorang penyair. Apa yang bias dilakukan seorang penyair bila terdapat kejanggalan di depan matanya dan kemudian meresahkan jiwanya.
Oleh karenanya dia juga sempat bimbang dengan jalan kepenyairannya yang ia tuangkan secara metaforis dalam sajak Bimbang. Untuk apa kau hancurkan istana/jika kau masih ingin menjaganya?//Kita ini tentara yang setiap waktu bias mati/oleh mimpi negara sendiri//… untuk apa kau menutup pintu/jika kau masih ingin mendobraknya//…hingga sajak ini diakhiri dengan bait gugatan pamungkasnya, untuk apa kau menulis sajak/jika kau sendiri yang tersayat?//
Memang kehidupan begitu banyak menawarkan kegetiran. Hingga terkadang saking seringnya ditimpa dan diruntuhi banyak kegetiran, orang-orang sudah tak merasakan lagi kegetiran demi kegetiran yang menggempur hidup mereka. Kesenjangan sosial, ketidakadilan, kemiskinan dan beragam persolan hidup lainnya. Maka puisi tentunya harus lahir sebagai muara kepekaan atas hilangnya kesadaran tersebut. Sebagai penyambung lidah bagi mereka yang terbiasa merasakan kegetiran maupun mereka yang tak terbiasa merasakan kegetiran orang lain. Saya menukilkan potongan bait-bait sajak yang melukiskan peristiwa tersebut dalam sajak Nana berjudul “Bimbang”.

Setiap hari kita berdiri dengan peluh dan keluh
dengan debu dan rindu
dengan jemu dan pilu
tak berbenteng dan bertameng
tak kebal dan berbekal
…………………………………….
kita ini segala yang letih dan menangis
dalam kemewahan di toko emas
duduk dengan tangan menengadah

setiap hari kita hitung uang dari saku yang robek
dengan jari patah dan lelah
(Sajak “Bimbang”)

Dari keseluruhan sajak-sajak dalam buku ini, saya akhirnya dihujani pertanyaan pula; apa benar Nana telah mempersiapkan kelahiran sajak-sajak ini dengan melewati proses penciptaan yang cukup lama dan panjang, bahkan untuk satu peristiwa saja. Asumsi saya ini didasarkan pada tidak adanya tanggal kelahiran puisi dalam tiap sajak-sajaknya. Bahkan tempat atau kota sekalipun seperti yang pada umumnya para penyair lakukan tatkala mendokumentasikan dan mempublikaikan puisi-puisinya.
Kesimpulan saya adalah bahwa memang jalan kepenyairan sebagai bentuk pergulatan batin dan pikiran. Bukan sekadar rekaman peristiwa semata. Sebab di dalamnya ada gagasan dan pesan yang ingin disampaikan. Dan Nana berhasil memendam peristiwa kemudian memuntahkannya ke dalam puisi. Hal inilah mengapa sajak-sajak Nana memiliki daya vitalitas yang kuat. Sebab seperti yang diungkapkan Handoko F Zainsam, seorang pemerhati sastra dalam epilog buku ini bahwa karya adalah hasil dari suatu kontemplasi, pendataan, observasi dan berbagai renungan menanggapi sebuah peristiwa.
Dalam buku kumpulan puisi Kitab Hujan yang diberi pengantar oleh Matdon, Rois Am Majelis Sastra Bandung ini, Nana membagi 54 sajaknya ke dalam empat bab menjadi kesatuan tubuh yang utuh. Yaitu bab perjalanan, bab kematian, bab cinta dan bab persembahan. Sebuah perjalanan tentunya akan berujung pada kematian. Namun ini bukan akhir. Sebab cinta (dalam arti yang luas dan sesungguhnya) dan persembahan (memberikan segala sesuatu atas dasar ketulusan) yang akan membikin perjalanan sajak-sajak (dan atau) Nana menjadi abadi. Yang dalam konsep Islam adalah ihsan.
Dengan menarik ia mencatat dalam sajak “Dalam Perjalanan” bahwa perjalanannya belumlah usai. Entah ia akan melanjutkan bab-bab perjalanannya lagi sebagi bentuk lanjutan perjalanan (kehidupannya), ataukah ia akan memulai perjalanan baru. Sebab, baru separuh terlukis rembulan/aku sudah terkapar mengenaskan// (Sajak “Dalam Perjalanan”).
Oleh karenanya buku Kitab Hujan ini sejatinya tak hanya bagian dari perjalanan kepanyairan Nana Sastrawan dalam peristiwa-peristiwa yang selalu menjeratnya ke dalam dunia puisi, namun juga merupakan bagian dari perjalanan kesusastraan tanah air yang riuh gemuruh dalam membanjiri corak warna kesusastraan kita. (*)