Info
Tanah Rantau dan Doa Ibu : Hari Raya Puisi

Tanah Rantau dan Doa Ibu : Hari Raya Puisi



Bagian 4
Nana Sastrawan
            Membicarakan antologi puisi di buku ‘Hari Raya Puisi’ yang berisikan penyair-penyair dari berbagai daerah dan buku-buku puisi mereka terpilih pada Anugerah Hari Puisi Indonesia tentu tidaklah mudah. Selain mereka adalah penyair yang telah malang melintang di dunia sastra Nasional dan Internasional. Satu puisi, dari mereka begitu kompleks. Terbangun dari citraan melalui permainan metafora, simbolisme, asosiasi dan lainnya. Maka tidak heran, jika membaca buku itu, kita seolah sedang mengembara ke dunia antah berantah. Menyaksikan berbagai peristiwa, menemukan ide dan gagasan, dan bisa jadi dapat mencapai orgasme bahasa.
            Dari sekian banyak penyair, saya tertarik pada puisi-puisi Ulfatin Ch meskipun pada hakikatnya setiap penyair punya gaya pengucapan dan kecenderungannya sendiri yang khas, baik secara tematik, maupun stilistik. Puisi-puisi Ulfatin Ch begitu gamblang terbaca, menyentuh dan menghayutkan. Coba kita simak satu puisi permulaan yang berjudul ‘Ziarah Rindu’
            Di tanah, ibu. Aku pulang
            membuka catatan lama
            tentang rindu dan harapan
            Di tanahmu, ibu. Hujan kupatahkan
            agar derainya tak berujung di mata
            Kuyup jiwaku
            berkalang rinai mengasuh jarak
            hingga sampai
           
            Puisi pendek ini memberikan ruang multitafsir. Pertama, dalam puisi ini seolah memberikan makna tentang kerinduan seorang anak kepada ibunya yang telah lama pergi, atau merantau. Kerinduan pada kampung halamannya membawa ingatan-ingatan pada si anak sehingga dia memilih untuk pulang. Kedua, kata ‘ibu’ di sini bisa saja dimaknai sebagai tempat peristirahatan terakhir, tanah atau bumi. Setiap manusia memang pada akhirnya harus terbungkus dan terkubur di dalam tanah sebagai asal. Namun, kematian di sini tidaklah sebagai akhir melainkan perjalanan yang panjang.
            Kegamblangan puisi Ulfatin Ch juga terbaca pada puisi berikutnya. Puisi yang masih memiliki keterikatan dengan puisi di atas. Puisi ini berjudul ‘Tanda Ibu’. Simaklah pada larik pertama Ada benang melingkar di pelipis kiri mata itu/ sebuah tanda ketajaman kuku ibu/ yang menoreh. Pada puisi ini Ulfatin Ch seolah memberikan pesan tersembunyi kepada pembaca agar menyadari bahwa Ibu adalah sosok yang paling luar biasa. Simak larik berikutnya sejak kau lahir dan ibulah yang membesarkanmu/ Kini isyarat itu samar disaat kaulapar. Ya, sosok perempuan yang kita kenal sebagai Ibu adalah sosok yang paling penting dalam kehidupan kita. Mereka, para Ibu tidak pernah terlihat gusar, lelah atau bosan untuk merawat anak-anaknya. Tidak hanya itu, dalam hidup Ibu seolah tak pernah berhenti untuk terjaga, memberi segala kebutuhan orang-orang di dalam rumah.
            Kerinduan Ulfatin Ch kepada sosok Ibu sangat begitu terasa. Entah, apakah penyair ini memang seorang perantau yang jauh dari Ibunya. Atau, karena dia sosok seorang perempuan yang tentu saja merasakan menjadi seorang Ibu. Puisi-puisinya seperti surat wasiat untuk anak-anaknya, dan mungkin untuk seluruh anak di dunia. Perhatikan puisi yang lain berjudul ‘Jalan Pulang’.
            Meninggalkan kotamu, ibu
            bagai serpihan kain, aku diterbangkan angin
            Pada seperempat akhir malam
            di udara padat dan dingin
            tak ada api di sini
            selain menjaga diri tak terbakar api
            Dan ketika suara memanggil tiba-tiba
            mungkin ibu yang tengah memejamkan mata
            memimpikan aku di tengah padang
            mengembara
            tersekap kabut
            sesungguhnya, aku ingin pulang
            melawati jalan lapang
            yang dulu pernah engkau lalui
            berpayungkan rimbun daun
            menaiki gunung-gunung
            dan tangga langit itu
            Apakah ibu sudah menunggu?

            Sepertinya, Ulfatin Ch mempunyai hubungan sangat dekat dengan Ibu. Hubungan yang lebih personal dalam lingkup keluarga. Bagaimanapun, puisi lahir dari pengalaman penyairnya. Dia (puisi) hidup dalam kreativitas penyairnya, menjelma bahasa yang dapat menimbulkan berbagai macam tafsir. Ulfatin Ch seolah sedang menempatkan dirinya sebagai representasi aku lirik pada puisi tersebut, sehingga terasa sekali nuansa kerinduan, kehampaan seorang anak ketika jauh dari Ibunya.
            Namun, pada puisi berikutnya Ulfatin Ch berhasil menguasai kepedihan hidup seorang anak yang jauh dari Ibunya. Pada puisi ‘Kepada Ibu’ dia seolah ingin mengabarkan pesan kepada Ibu bahwa anak yang telah dibesarkan menjelma seorang anak yang dewasa, tidak manja dan cengeng. Hidup jauh dari lingkungan rumah, tidak berarti harus meratap. Di larik pertama, misalnya Dan seandainya aku pun bulan/ akan kusuntingkan sinar paling terang di mata ibu/ kukalungkan wangi kasturi di leher ibu. Puisi ini memiliki energi kekuatan seorang anak yang bertekad untuk membahagiakan sosok Ibu yang telah membuat anak-anaknya tumbuh besar. Di larik berikutnya, dia menancapkan kekuatan itu, Dan seandainya aku pun cahaya/ akan kusematkan cahaya yang cahaya di hati ibu/ yang tulus tak bernoda.
            Sosok Ibu bagi Ulfatin Ch sepertinya bukan hanya sosok perempuan biasa-biasa saja. Ibu baginya adalah sumber kehidupan, pada larik berikutnya misalnya, Ibu mengalir pada sungai-sungai/ pada gurun-gurun dan angin/ pada malam ketika sudah gulita. Ulfatin Ch telah menyadari bahwa apa yang menjadi kesuksesan seorang anak, adalah hasil dari kerja keras seorang Ibu. Dan, tentu saja doa dan air mata seorang Ibu pula yang membuat anak-anaknya terhindar dari segala hal yang buruk. Pada puisi tersebut, ditutup dengan larik puisi yang sendu. Aku bersimpuh dihadapannya/ aku tertunduk tanpa kata-kata/ ketika aku pergi/ Ibu yang selalu menanamkan doa/ di dada.
            Lima puisi bertema Ibu karya Ulfatin Ch sepertinya hanya pemantik bagi pembaca untuk masuk lebih dalam ke lima puisi berikutnya. Kesadaran penyair menempatkan posisi puisi memiliki isyarat untuk dapat dimaknai sebagai tanda kegelisahan pada dirinya. Satu puisi berjudul ‘Catatan Tugu’ memberi ruang tafsir yang berbeda dari puisi sebelumnya.
            Seperti tanganmu
            melambai pagi itu di stasiun Tugu
            Tak ada peluit yang mengabarkan kehadiran
            juga keberangkatan yang begitu tiba-tiba
            Tapi, aku tak lupa jaketmu tertinggal
            juga jejak yang terus mengekal
            pada setiap lorong sunyi Taman Sari
            Malioboro, jalan Mataram
            dan batas kota
            kini, jalan-jalan itu sudah terkemas
            di etalase yang penuh mainan
            makanan dan juga pakaian
            Kau mau kemana?
            di bawah beringin malam-malam
            menunggu Jathilan atau menunggu
            aku

            Puisi ini seakan menjawab makna dari puisi-puisi sebelumnya, bahwa Ibu yang selalu dirindukan kemungkinan jauh terpisahkan oleh rantau. Namun, bisa jadi puisi ini adalah pintu masuk ke dalam kegelisahan Ulfatin Ch dalam menjalani kehidupan ini. Di puisi selanjutnya yang berjudul ‘Sajak Gugur’ terasa kental nuansa kegelisahan itu. Satu kelopak bunga gugur di taman?/ satu sahabat, satu teman, satu saudara/ dan, entah siapa lagi. Rupanya hubungan penyair dengan keluarga, teman dekat dan kenangan-kenangan masa lalu terus bekelindan sehingga puisi Ulfatin Ch terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.
            Begitulah, penyair terkadang memulai kisahnya dari hal yang paling mudah dijangkau oleh daya ingat. Mula-mula tentang keluarga, persahabatan, alam, kemudian tentang kepeduliannya pada problem sosial, dan terus berkelindan sampai akhirnya tiba di muara kehidupan: kematian. Seperti puisi berjudul ‘Selembar Daun Jati’ yang begitu singkat dan padat.
            Selembar daun jati gugur
            Jeritnya terdengar parau sampai ke hati
            Seperti derit daun pintu
            yang pelan-pelan
            mengatupkan
            Aku

            Sejumlah puisi Ulfatin Ch memang pendek dan ringkas seolah dia tidak ingin membuang kata-kata dengan percuma. Bagaimanapun juga, puisi bermain dalam tataran citraan (image), maka ekonomisasi bahasa semestinya menjadi pertimbangan serius. Efektivitas dan efisiensi bahasa dalam puisi akan menjadikan puisi itu padat berisi, bernas, tetapi sekaligus membuka peluang bagi pembaca mengganggu tombol imajinasinya untuk menciptakan ruang tafsir seluas-luasnya. Itulah sebabnya, tidak sedikit penyair yang kerap tergoda untuk membangun puisi-puisi pendek dan padat, sehingga begitu satu kata dihilangkan, seketika akan terjadi masalah, bahwa di dalam rumpang itu, ada sesuatu yang hilang.
            Dari sekian banyak puisi pendek Ulfatin Ch, ada satu puisi panjang yang diselipkan berjudul ‘Di Koran Pagi Wajah Perempuan Devi’.
            (1)
            Ada benih tersiram
            dari masa lalumu kelam
            mengancam gelisah
            di sudut bibir pahit
            wajah biru yang menunduk ketika itu
            bagai kurungan di atas sekam
            menatap tak ada
            ataukah engkau lupa
            gelapnya malam
            hingga ia tetap menari
            di atas pelaminan
            membuka mata cadas
            untuk menjadi perempuan

            (2)
            Di koran pagi wajahmu biru
            mengingatkan aku pada masa lalumu
            sebelum engkau ditembak hari itu
            Seperti tak ada kabar, tetapi terasa begitu tiba-tiba
            sedang dunia telah menjadi gulita
            melenyapkan semua rencana

            (3)
            Jika laut sama bergelombang
            sepasang naik dan turun
            Mengapa kau tuntut juga langkah yang lebih dalam
            dari derita. Sedang burung telah memberikan
            kebebasannya padamu, menukar sari
            yang menggantung di lehermu.
            Mengapa tak kau baca juga anugrah cahaya
            yang melepaskanmu dari bencana
            Sekarang apa yang menjadi api
            di dalam jasadmu selain dunia tanpa doa
            Gangga mengapung dan entah
            1991-2003

            Nah!