Info
IMM Ciputat Luncurkan Buku Antologi Puisi "Rubaiyat Merah"

IMM Ciputat Luncurkan Buku Antologi Puisi "Rubaiyat Merah"



Mahasiswa di Ciputat meluncurkan buku antologi puisi berjudul “Rubaiyat Merah” di Aula Fastabiqul Khairat, Ciputat-TangSel, pada Sabtu, (30/03/19). Buku puisi yang diterbitkan melalui Ajrie Publisher ini ditulis oleh para penghuni Laboratorium Pengkaderan atau yang lebih dikenal dengan nama Asrama Putra Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Ciputat.

“Karya ini merupakan sejarah buku pertama yang berhasil dilahirkan semenjak Asrama ini didirikan setengah abad yang lalu,” ujar Ilham Muttaqin selaku penanggung jawab  penerbitan buku.

Ilham yang juga Ketua Komunitas Oretan Liar ini lebih lanjut mengatakan bahwa hadirnya antologi puisi “Rubaiyat Merah” untuk menghidupkan kembali ruh puisi yang hampir terkubur di tanah Ciputat khususnya di jantung kesadaran mahasiswa.

“Kami berharap agar generasi selanjutnya meneruskan budaya puisi di Ciputat khususnya dilingkungan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Ciputat,” tuturnya.

Peluncuran antologi puisi “Rubaiyat Merah” dilakukan bertepatan pada Milad Asrama Putra IMM Ciputat yang ke 52. Putra kebudayaan itu di-launching secara resmi, ditandai dengan pemberian secara simbolik buku “Rubaiyat Merah” dari Muhammad Haydar Pasha Lubis selaku Ketua Asrama Putra IMM Ciputat kepada Pembina Asrama, Arief D. Hasibuan. Satu persatu para penulis “Rubaiyat Merah” naik ke atas panggung setelah peluncuran secara simbolik selesai dilakukan.


Arief Hasibuan, yang juga pengurus Yayasan Hari Puisi, memberikan apresiasi yang luar biasa kepada semua penulis dan menobatkan mereka sebagai Penyair IMM Ciputat malam itu juga.

"Malam ini saya nobatkan semua penulis “Rubaiyat Merah” sebagai penyair IMM Ciputat, jagalah anak kebudayaan kalian ini, jika kalian nanti mati, percayalah anak kebudayaan ini akan tetap hidup" tegasnya.

Simak satu di antara puisi yang ada di dalam buku antologi Puisi "Rubaiyat Merah" berikut ini:

MATA BELATI

maafkan daku, Tuan 
aku tak mampu mengasah belati ini terlalu tajam
karena malu pada teduh matamu

Jumat 23 November, seterik ini
ada malu yang menghujam
menusuk terlalu dalam
setelah pendengaranmu membekukan ucapan

biarkan belati ini tumpul
tak melukai terlalu sadis
biarkan dada ini terhunus sendiri
sesak dan tekapar sendiri

mencipta nganga luka
menyisit batin yang terdalam

mataku terbelalak
wajahmu menghancurkan semuanya

dan aku bertaubat di persimpangan waktu
kembali saat anyir malu berubah wangi mawar
tertunduk, menjauh meninggalkanmu
membawa luka busuk ini ke lorong sunyi

- Ilham Muttaqin