Info
Sedikit Cerita  Musikalisasi Puisi  di Jambi

Sedikit Cerita Musikalisasi Puisi di Jambi

Oleh Fikar W Eda

SETELAH KARANGAN BUNGA DI TAHUN 2006


19/12/2018, JAMBI --Festival Musikalisasi Puisi pertama kali diselenggarakan di Jambi pada 2006. Terinspirasi --setelah  tak sengaja-- mendengarkan puisi "Karangan Bunga" karya Taufiq Ismail yang dimusikalisasikan Devaies Sanggar Matahari.

Kenangan ini disampaikan Pandu Gusti, dari Balai Bahasa Provinsi Jambi, dalam dialog kenangan musikalisasi puisi Jambi, di Taman Budaya Jambi, Rabu (19/12/2018).

 "Itu karya musikalisasi puisi keren yang saya dengar. Sangat menggugah. Saya kemudian bertemu dengan Deavies Sanggar Matahari di Banda Aceh makin menguatkan rencana Festival Musikalisasi Puisi. Inilah ide festival musikalisasi puisi di Jambi pada 2006," kata Pandu.
Sejak itu ia intensif berkomunikasi dengan Papa Fredie Arsi, pendiri Sanggar Matahari.

Tapi menurut Pandu,  karya musikalisasi puisi sudah lebih dahulu ada di Jambi, tapi tidak menggunakan istilah "musikalisasi puisi."

"Ternyata Jambi bukan dari nol  soal musikalisasi puisi. Sebab sudah ada karya-karya musikalisasi puisi sebelumnya. Dan  festival musikalisasi puisi baru diselenggarakan untuk melihat petanya dan itu Alhamdulillah bisa dilaksanakan pada 2006," kata Pandu.

Ricky A. Manik Ketua KOMPI Provinsi JAMBI,   mengharapkan bisa menggerakkan kembali komunitas musikalisasi puisi di Jambi dan Indonesia.

"Yang menggembirakan, dalam Kompi,  kita bukan rival. Tapi persaudaraan," kata Ricky yang mendapat mandat sebagai Ketua KOMPI JAMBI  pada 2009 dan ikut dalam delarasi KOMPI di TIM Jakarta, 1 Januari 2009.(*)

----------------------
BERMULA DARI BATANGHARI...

JAMBI, 19/12/2018 --Menindaklanjutihasil Festival Musikalisasi Puisi 2006, tahun berikutnya, 2007,  Kantor Bahasa Jambi  menyelenggarakan program  pembinaan musikalisasi puisi di Kabupaten Batanghari.

Berikutnya berkembang begitu rupa.
Balai Bahasa Jambi kemudian mendirikan Bengkel Sastra yang bergerak ke kabupaten-kabupaten di Jambi. Dalam rentang waktu tidak terlalu lama, berdirilah komunitas musikalisasi puisi di Batanghari, Bungo, Kerinci, Kota Jambi.

"Itu yang sempat saya kerjakan dalam rangka pembinaan," ujar Ricky A.Manik, Ketua Kompi Jambi.

"Papa Fredie Arsi  nara sumbernya. Itu awalnya saya bertemu  dengan Papa. Sosok yang sangat menghargai orang lain. Anak-anak yang masih awam, bisa paham dan mudah mencerna musikalisasi puisi," ujar Ricky tentang kenangannya bertemu almarhum Papa Fredie Arsi.

Ia mengaku sangat menyukai cara pengajaran Papa dalam kerja musikalisasi puisi.  "Beliau selalu memposisikan diri sebagai orang tua, yang siap menerima segala keluh kesah," ujarnya.

Selain Ricky dan Pandu, masih ada sosok penting lainnya di Jambi yang terlibat langsung dalam pembinaan musikalisasi puisi, yaitu Nukman, dan Teguh, keduanya juga dari Balai Bahasa Provinsi Jambi.

Juga ada penggiat musikalisasi puisi di Jambi yang selalu ikut dalam aktivitas musikalisasi puisi, Idey dari Teater Q, yang kini mendirikan Anjungan Puisi.

"Saya mengenal musikalisasi  saat bersama Teater Bohemian dan Mbah Wiro. Saya  berkenalan dengan Deavies Sanggar Matahari melalui dokumen Taman Budaya. Saya lihat bagaimana Sanggar Matahari begitu ekspresif," kata Idey.

Ia terus aktif mengikuti even musikalisasi puisi, seperti pada 2003  ikut  acara di Cibubur  mewakili Jambi.

Pada 2004 Idey dan kawan-kawan  menyelenggarakan konser musikalisasi "Kidung Matahari."

"Kami semangat. Jadi kalau di Jambi, dulu sudah ada Ari Setyahadi, Teater Bohemian. Sanggar matahari sangat memberi inspirasi kita di sini," kata Idey.

Pertunjukan musikalisasi puisi kerap diselenggarakan di Jambi. Deavies Sanggar Matahari sendiri hadir ke Jambi pada 1994, 1996, 2009, dan 2018.

Catatan lain yang tak bisa dilupakan Ricky adalah saat Papa Fredie Arsi  mendorong dirinya melanjutkan sekolah setelah Nukman dan Pandu. Kini mereka sukses meraih titel dari program pasca sarjana.(*)

---------------------


MUSIKALISASI PUISI ITU PROSES, BUKAN KOLABORASI MUSIK DAN PUISI


JAMBI, 19/12/2018 -- Dalam pertemuan itu, Devie K. Syahni,  dari Deavies Sanggar Matahari, menceritakan riwayat singkat terbentuknya  Deavies, yang bermula di Priok Jakarta Utara.

Devie anak ketiga dari Papa Fredie Arsi  dan Mama Rosnila Djalal. Anak pertama Dediesputra, putra kedua Almarhum Andrie S Putra, putra keempat Denie S Putra, putra ke lima Herie S Putra, dan si bungsu Irma Koma Syahni. Mereka memperkenalkan diri dengan cara bernyanyi. Seperti yang terjadi di Jambi pada saat Deavies Sanggar Matahari pertunjukan malam itu.

Devie, mengaku pertama kali berkenalan dengan teater dan seni baca puisi. Sejak umur dua tahun, sering ikut lomba baca puisi tingkat RT, RW dan sebagainya.

Sejak kecil juga diajak nonton pertunjukan, termasuk pertunjukan baca puisi Sutardji Calzoum Bachri yang selalu pake minum bir.

Saat kelas 1 SMA ikut lomba musikalisasi pada 1990. Jurinya  Rendra, Sutardji, Hamid Jabbar dll. "Saya menang. Kelompok Bang Dedi yang juga ikut mewakili kelompok lain, semua menang," cerita Devie.

Juri lainnya, Arifin C Noer kaget saat mengetahui ternyata mereka  bersaudara dan membawa nama sekolah masing-masing. Setahun kemudian, 1990, Lalu Papa Fredie membentuk Deavies sanggar Matahari, khusus bergerak di bidang musikalisasi  puisi.

"Kami dulu trio, saya, Bang Dedie dan almarhum Bang Ane. Makanya namanya Deavies. D itu Dedie, A itu Ane, Vie itu Devie dan tambahan s di ujungnya adalah bentuk bersaudara," cerita Devie.

Cerita latar terbentuknya Deavis Sanggar Matahari juga ditambahkan Dediesputra siregar. Ia menyebutkan pintu masuk musikalisasi puisi dilalui melalui deklamasi.

 "Spirit utamanya adalah membaca puisi. Musikalisasi puisi itu adalah proses, bukan kolaborasi musik dan puisi. Itu dua hal berbeda," katanya.

Mengutip hasil penelitian mahasiswa S1 salah satu perguruan tinggi, istilah musikalisasi puisi pernah tercetus pada 1967, saat MC yang juga seorang penyair memandu acara pertunjukan Bimbo.

Tapi baru 1990 istilah musikalisasi puisi meluas, diperkenalkan melalui lomba yang diselenggarakan Pusat Bahasa dan Dirjen Kebudayaan.

Kata Dedie, Sanggar Matahari mencoba lebih mendalami lagi pendekatan musikalisasi puisi melalui apresiasi puisi. "Kita bisa memusikalisasikan dari puisi apapun, sebab pendekatan kita adalah apresiasi puisi," ujar Dedie.

Seniman Jambi yang pernah menjabat Kepala Taman Budaya Jambi, Jafar Rassuh, dalam pertemuan itu menguraikan Jambi sudah lama mengenal raktek musikalisasi puisi. "Dulu istilahnya dramatisasi puisi," katanya.

Pertemuan berlangsung sampai menjelang maghrib. Selepas Isya, diselenggarakan pertunjukan Deavies Sanggar Matahari di Teater Arena Taman Budaya Jambi, sebagai bagian merayakan dengan penutupan Festival Teater Remaja Jambi.

Penontonnya ramai dan sangat apresiatif. Penyair Jambi, EM Yogiswara juga tampil baca puisi. Seniman asal Jakarta, Joserizal Manua juga baca. Ia datang ke Jambi dalam rangka juri Festival Teater Remaja. Juri lainnya EM Yogiswara, dan  Conie Sema. Joserizal menyanyikan puisi dengan iringan musik yang diputar melalui telepon seluler. Seperti biasa, ia tidak melewatkan "Inilah Lagu Terpanjang Di Duniaaaaaaaaaaaa."

Kepala Taman Budaya Jambi, Didin Siroz, menyampaikan apresiasi kehadiran Deavis Sanggar Matahari. Ia berharap ada pertunjukan Deavies lagi di tempat itu. Mungkin saja sekalian pelatihan untuk menyamakan persepsi tentang musikalisasi puisi. Semoga.