Info
Puisi Irvan Mulyadie, Selendang Sulaiman, dan Ni Putu Putri Suastini,

Puisi Irvan Mulyadie, Selendang Sulaiman, dan Ni Putu Putri Suastini,

Mukadimah
Apa yang membedakan manusia dengan makhluk hidup lain? Kreativitas! Sumbernya entah berada di bagian kepala yang mana. Manusia kreatif adalah mereka yang pemikirannya tak dapat dipenjara. Maka, hanya manusia kreatif yang gemar menjelajahkan pikirannya, imajinasinya ke dunia tak bertepi. Itulah mengapa, ngembara merambah kebun raya pemikiran, bagi manusia kreatif merupakan kenikmatan tamasya yang tiada tara. Tentu saja perumpamaan itu dalam kaitannya dengan puisi dan perpuisian. Puisi sebagai olah pemikiran dan puisi yang cuma sekadar diguratkan di atas kertas, sudah pasti menyimpan martabat, wibawa dan aura yang  berbeda  neracanya. Berbeda pula pembaca membuka wilayah tafsir dan sentuh nilai rasa estetiknya. Inilah yang menghadirkan ketidakgampangan dalam menulis puisi. 

Sebagai kerja kreatif, penyair mengolah fakta dan pengalaman empiris lewat intelektualisme dan sentuhan batinnya yang terdalam. Oleh karena itu,  puisi pada hakikatnya punya nilai-nilai intelektualitas personal yang menjelma jadi pengalaman bersama. Maka, puisi dapat didedah dalam ranah ilmiah dengan pendekatan dan disiplin ilmu pengetahuan apa pun. Itulah pintu gerbang puisi dapat diapresiasi, ditafsirkan, dan dimaknai oleh manusia yang punya kapasitas sosok intelektual. Begitulah Subagio Sastrawardoyo memosisikan penyair--puisi--pembaca. Itulah produk dari ketidakgampangannya menulis puisi itu. Agar lebih yakin, mungkin kita butuh mengingat kembali apa yang dikatakan Albert Einstein: "Agama, Seni, dan Ilmu adalah percabangan dari  pohon yang sama."

Tatkala penyair tengah berada dalam proses kreatif menulis puisi, hakikatnya dia sedang berada dalam kancah eksperimen, seperti saat Thomas Alfa Edison menemukan lampu pijar setelah mengalami 1000 kali kegagalan! Demikianlah riwayat hidup puisi. Boleh jadi punya kaitan dengan penampilan tiga penyair dengan masing-masing puisinya. Kita coba menghadirkannya dalam edisi kali ini. Mukadimah ini cukuplah kiranya dijadikan jalan setapak bagi pembaca untuk dapat menuju ke kebun raya pemikiran. Biarkan ia bebas memetik bunga-bunga tafsir sambil mendalami puisi Irvan Mulyadie, Selendang Sulaiman, dan Ni Putu Putri Suastini.  Tabik!


Irvan Mulyadie
Bingkisan Tahun Baru

Sebelum salju terakhir
Benar-benar telah mencair
Dari saban atap rumah yang membeku
Tahun baru sudah terlahir
Di luar, orang-orang bermantel tebal
Dengan langkah-langkah cepat
Menuju keresahannya sendiri
Meninggalkan jejak dalam di belakang

Sebagai kenangan, musim dingin
Di kotamu yang nyaris lumpuh
Telah menjadikan tungku-tungku perapian
Selalu hangat dan menyala – seperti cintamu
Aroma pekat anggur merah memabukan
Yang kaukirim ke negeriku
Dengan kotak-kotak kemasan berbungkus koran
Beritanya kebanyakan tentang perang
Ledakan bom bunuh diri di ruang publik
Politisi bermain sirkus di parlemen
Perampokan di kawasan rumah elit
Kejadian pemerkosaan di gang sempit
Juga tentang perceraian selebritis yang gemerlap
Mengalahkan kisah-kisah genosida

Di televisi, ketika aku membuka hati
Dengan mata yang terpejam
Siaran langsung sepakbola tengah bergulir
Di sini masih musim penghujan
Aku pakai syal nan lembut yang kaurajut
Dari bahan benang katun
Benang-benang yang terikat dengan rumit
Seperti kisah kasih kita yang berbelit
Kuhirup aroma jahe, wangi biji kapulaga
Dan pedasnya air cabe dalam bandrek
Di antara jeda rehat pertandingan
Sebuah iklan rokok elegan
Begitu paradoks sebagai sponsor olahraga
Sedang aku mengutuknya dengan gemas
Seperti sedang menyesali kenyataan
Bahwa rindu, kekasihku, hanya debu
Dari derai-derai dingin uap salju
Harum manis rempah-rempah di tubuhmu
Yang meruap sepanjang waktu

2017

Irvan Mulyadie, lahir di Tasikmalaya 18 Maret 1981. Mulai menulis karya sastra sejak remaja. Tidak hanya puisi, dia pun sesekali menulis cerpen, naskah drama, esai, reportase budaya, pariwisata dan skenario film. Karya-karya tulisnya telah dipublikasikan di media massa lokal maupun nasional seperti di Pikiran Rakyat, Harian Radar Tasikmalaya, Kabar Priangan, Majalah Sastra Aksara dan Majalah Annida, dll. Antologi puisi tunggal yang pernah terbit diantaranya Panututan Sebuah Kampung Kenangan (2014), Tembang Kembara (2008), Sahabat Sunyi (2004), Lidah Petir (2004). Karya puisinya termuat juga dalam antologi bersama seperti Memo Anti Terorisme 250 Penyair Indonesia (2016), Pasie Karam Antologi Puisi Temu Penyair Nusantara (2016), Cimanuk, Ketika Burung-burung Kini Telah Pergi (2016), Kampung Bulan (2012) dan lain-lain. Kini selain tetap menulis, sejak tahun 2006 dia bekerja sebagai ASN di Pemerintah Daerah Kabupaten Tasikmalaya.

Selendang Sulaiman
Kidung Jagad Raya

misteri cinta menyusuri lubuk bumi
membangkitkan arus air ke langit
hujan turun, sungai mengalir lalu muara
menampung rahasia kidung jagad raya

benih cinta tumbuh di dasar kolam
dicipta tanpa bunga ritual
siapa terapung di atas daun talas yang licin?
Matanya merekah, bersenggama dengan matahari

wahai, pemilik segala rahasia langit dan bumi
tempat rahasia dicipta dan misterinya cinta
tiupkanlah wewangian surga-neraka di dada ini?

tetes hujan bersenandung di atas payung
menyanyikan lagu-lagu semesta
di kitab-kitab para nabi

Yogyakarta, 07 Oktober 2013

Selendang Sulaiman, lahir di kampung kecil Pajhagungan, Sumenep, Madura 18 Oktober 1989. Alumnus Jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam, Fakultas Adab dan Ilmu Budaya, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Menulis puisi, cerpen, dan essai. Karya-karyanya baik puisi, cerpen, maupun essai tersiar di berbagai Koran Nasional. Puisi-puisinya juga tergabung dalam banyak antologi bersama, di antaranya Yang Tampil Beda Setelah Chairil (2016) Ketam Ladam Rumah Ingatan (2016), Pelabuhan Merah (2015), Mekarnya Kehidupan (2015), Bersepeda Ke Bulan (2014), Bendera Putih untuk Tuhan (2014), Indonesia dalam Titik 13 (2013), Igau Danau (2012) dan lainya. Antologi Puisi Tunggalnya, Hymne Asmaraloka (2014) dan Kitab Soneta: Omerta (2017). Kini bermukim di Jakarta.
Ni Putu Putri Suastini
Gending Semesta

Denting dawai getarkan semesta
menyusup ke sapta patala
naga Besuki beringsut di dasar padma
entah terusik, entah menelisik
kabar apa hendak disampaikan sang nada

Tanpa kata ungkap gundah jiwa
guncang bayang di air telaga
kaburkan wajah moreng bertopeng jelaga

Air hujan tercurah diterik surya
tadahlah untuk membasuh gerah sukma
seperti air mata dewa yang tak kuasa melihat
ada laknat di antara kepercayaan tersemat

Yoni kukuh tegakkan lingga
siram dengan susu lembu senantiasa
sang pemralina jalankan murtinya
Pawestri tuntaskan sakti-Nya

Bila kau lupa syair memuja
bertanyalah pada gemerisik daun bambu
mungkin di sana angin menyimpan aksara
pungut satu-satu ronce dalam kata
tapi angan pinjamkan pada lidah yang ambigu
karena ular berkepala dua penghuni goa karang empunya

Luruh pada yang dituju dan bawahlah segenggam garam
dan sepotong arang batang pule
lemparkan ke raksasa mata satu yang hadang langkahmu
itulah kutukan Baruna 

Waspada Surpanaka terbangun dari tidur panjang
jangan biarkan taringnya menancap di kedalaman nalar
dan nuranimu

Kau punya nyali, lawanlah!
itu seteru!


Ni Putu Putri Suastini, lahir di Denpasar, Bali, 27 Januari 1966. Jenjang pendidikan ditempuhnya di SD Negeri Panjer Denpansar, SMP Negeri 1 Denpasar, SMA Negeri 1 Denpasar, dan lulus di Fakultas Ekonomi Universitas Udayana Denpasar. Kegemarannya menari, membaca sastra, terutama puisi, telah dilakukannya semenjak kanak-kanak hingga sekarang. Sejak remaja aktif bermain teater dan kemudian menjadi satu di antara anggota penting Sanggar Putih. Semasa sekolah menengah hingga perguruan tinggi juga aktif di lembaga kemahasiswa, aktif berorganisasi di luar kampus. Selain menggumuli dunia sastra, juga aktif bermain sinetron di televisi swasta dan negeri di Bali. Kumpulan puisi tunggalnya adalah Bunga Merah (2017).