Info
Rida K Liamsi

Rida K Liamsi




Rida K Liamsi, peraih Penghargaan Sastra Badan Bahasa 2018 untuk buku puisinya Rose ini lahir 17 Juli 1943 di Bakong, Lingga, Kepulauan Riau dengan nama Ismail Kadir dari sepasang Muslim, Abdul Kadir bin Samad, dan Zainab Binti Usman. Karena dibesarkan di lingkungan keluarga penyuka pantun dan syair, dia sudah jatuh cinta pada puisi sejak kelas SD. Namun baru tahun 50-an, dia mulai menulis puisi. Saat itu puisinya mulai dimuat majalah sekolah dan majalah sastra lokal.

Rida sempat menjadi guru SD di Tanjungpinang sebelum akhirnya dia berhenti dan pindah ke Pekanbaru, Riau. Proses kreatif kepenyairannya kian intens saat dia berkarib dengan Sutardji Calzoum Bachri, Ibrahim Satta, dan lainnya. Puisi-puisinya pun kian bermunculan di berbagai media lokal Tanjungpinang, seperti Sempena, Solarium, dan lainnya. Barulah pada tahun 59-an, puisi-puisinya merambah media nasional dengan nama pena Iskandar Leo, antara lain: Horison,  Zaman, dan lain-lain.

Tahun 1990, empat puluh tahun dari sejak dia menulis puisi, Rida baru menerbitkan buku puisi pertamanya  Ode X dalam bentuk stensilan untuk keperluan pembacaan puisi tunggal di aula Universitas Islam Riau, Pekanbaru. Tiga belas tahun kemudian, terbit buku puisi kedua Tempuling (2003). Rida kian menjadi-jadi dalam dunia puisi dengan disusul buku puisinya yang lain, Perjalanan Kelekatu (2007), Rose (2013) dalam Dwi Bahasa: Indonesia-Inggris, dan Kopi Sekanak (2018).

Selain menulis puisi dan terlibat sejumlah buku antologi puisi bersama, misalnya Matahari Cinta, Samudera Kata setebal 2016 halaman (2016), Rida juga menulis buku prosa berlatar sejarah, seperti  Bulang Cahaya (2008), dan Megat ( 2016). Dia juga menulis buku ‘nonfiksi dengan gaya fiksi’ semisal Prasasti Bukit Siguntang dan Badai Politik di Kemaharajan Melayu, 1160-1946 (2016), dan Mahmud Sang Pembangkang (2017). Atas dedikasinya tersebut, Rida diganjar penghargaan: Anggota Kehormatan Masarakat Sejarawan Indonesia ( 2016), dan gelar kehormatan Datuk Sri Lela Budaya dari Lembaga Adat Melayu.

Rida juga tercatat sebagai pendiri sejumlah lembaga penggerak kebudayaan, mulai Yayasan Hari Puisi (Jakarta), Yayasan Sagang (Riau), dan  Yayasan Jembia Emas (Kepri). Tidak hanya itu, Rida yang berlatar wartawan juga dikenal sebagai pengusaha media yang rajin mendirikan sejumlah media cetak, daring, dan televisi di sejumlah daerah. Rida tercatat sebagai salah satu penerima Kartu Pers Nomor ONE dari Persatuan Wartawan Indonesia ( PWI), dan predikat Wartawan Utama dari Dewan Pers Indonesia.

Tidak hanya di Indonesia, Rida kerap diundang mengisi acara atau baca puisi di sejumlah negara, semisal Malaysia, Korea Selatan, Vietnam, dan lainnya. Pengembaraannya ke sejumlah negara tersebut, ke Vietnamlah yang menurutnya paling diingat. Saat itu dia mengikuti perayaan Hari Puisi Asia. Dari sanalah kemudian muncul gagasan untuk membuat Hari Puisi juga di Indonesia. Bersama kawan-kawannya, dan sejumlah penyair Indonesia, gagasan tersebut benar-benar nyata. Sekitar November 2012, dideklarasikan Hari Puisi Indonesia di Pekanbaru tiap tanggal 26 Juli, di mana Chairil Anwar lahir.

Tahun 2014, barulah berdiri Yayasan Hari Puisi sebagai bentuk komitmennya terhadap Hari Puisi Indonesia bersama Sutardji Calzoum Bachri, Abd Hadi WM, Maman S. Mahayana, Ahmadun Yosi Herfanda, Asrizal Nur, dan lain-lain. Sebuah lembaga nirlaba yang berjuang menyelenggarakan acara Hari Puisi Indonesia setiap tahun sampai hari ini.