Info
Puisi Wanda Lesmana dan  Gansu Karangnio

Puisi Wanda Lesmana dan Gansu Karangnio


Mukadimah Puisi lahir dari dunia imajinasi yang disampaikan melalui kata-kata sebagai medianya. Dia otonom. Dia berdiri sendiri. Dia mempunyai dunianya sendiri. Meskipun demikian di dalamnya ada bangunan fisik dan psikis yang lahir dari pengalaman penyair. Ada yang berpendapat bahwa kesendirian puisi tidak harus dihubungkan dengan realitas, atau proses kreatif penyairnya. Tetapi ada juga pendapat lain bahwa puisi tidak jatuh dari langit, dia hadir berdasarkan tanggapan evaluatif penyairya terhadap problem sosio-kultural yang berada di sekelilingnya. Ada pula yang berpandangan bahwa kata-kata dalam puisi memiliki hubungan dengan teks sebelumnya atau yang se-zamannya. Maka, memungkinkan kita dapat membandingkan teks yang satu dengan teks lain yang se-zaman atau yang sebelumnya. Di situlah akan terjadi berbagai penafsiran yang beragam.

Mengingat teks puisi bisa ditempatkan dalam berbagai konteks. Maka, penafsiran pembaca sangat bergantung pada pengalaman empiris yang menempatkan teks dalam konteksnya. Ketiga puisi yang dimuat berikut ini menegaskan kepada kita bahwa dunia puisi dan realitas dapat diperlakukan sebagai dua entitas yang berbeda tetapi bisa saling terhubung. Puisi yang menggambarkan dunia di entah-berantah misalnya tetap saja lahir dari dunia pengalaman penyairnya. Maka, pembaca bisa menempatkan puisi itu sebagai dunia otonom yang tersendiri, bisa juga terhubung dengan realitas yang terjadi pada diri penyairnya.

Puisi Wanda Lesmana dibangun melalui kata-kata yang disusun menjadi kalimat, larik yang penafsirannya menimbulkan hal yang lain, yang mungkin tidak ada hubungannya mungkin juga ada keterikatan dengan laut atau suasana di tepi pantai. Dia coba menghubungkan peristiwa kenyataan pelaut yang hendak menuju dermaga. Konsep dermaga dapat ditafsirkan sebagai tempat perhentian atau titik berangkat untuk mengarungi kegelisahan batinnya. Di sana ada beberapa kata kunci yang dapat kita gunakan untuk menyelami pesan yang akan disampaikan penyair: keterpencilan, kebisuan dan mimpi yang ingin terus dihidupinya.

Sementara itu puisi Gansu Karangnio yang berjudul Tubuh Daratan terkesan hendak menampilkan sebuah pengembaraan imajinatif singgah dari kota ke kota, dari penyair satu ke penyair lain. Di satu pihak, ia hendak menampilkan dunia Basho (Jepang) dan dunia Qabbani (Damaskus), di pihak lain, lompatannya yang serta-merta menjadikan segalanya terkesan masing-masing berdiri sendiri. Sebuah problem yang sering terjadi pada seseorang yang hendak menampilkan gagasan besar dalam sebuah puisi yang padat dan ringkas.

Tentu saja, puisi tidak sepenuhnya memiliki dunia sendiri. Sering kali, ia merujuk pada realitas dan peristiwa tertentu. Oleh karena itu dunia puisi dapat menimbulkan reaksi langsung pada kita dalam menyikapi realitas. Persoalannya bukan pada adanya garis demarkasi antara fakta dan fiksi melainkan pada pengalaman empiris masing-masing individu. Selamat Menikmati!


Wanda Lesmana
Desir ombak

Antara persembunyian dan kebisuan,
berdesir hati melahap ganggu
biar mereka pergi semua.
aku pikir; mimpi belum terpenuhi
sedang di kaki terkait pahat
mencari desir ombak,
sedang pantai tak dihadap.

coba rangkai jemari tanganmu
labuhku mendung menuju dermaga
suasana hati gerus cekam
malam gelap mandikan kelam
cuma bulan serbukan bayang
genggam asaku harap tenang
aku pula selaksa kau,
kerap berang kerap terang
mimpi ialah dakian panjang

            2016

Wanda Lesmana, seorang penyair asal Palembang Sumatera Selatan, menyukai sastra walau bidang yang ditekuninya tidak terkait dengan sastra telah mengeluarkan buku sehimpun puisi pertamanya berjudul sebait asa dalam semangkuk rasa dan buku keduanya angin pun berselingkuh.

Gansu Karangnio
Tubuh Daratan

tubuhmu daratan-daratan puisi.

kutemui Basho
di bibir tipis itu
lalu kutepis lengannya yang coba
mereka-reka Haiku tentang ciuman pertama.
lima lidah tujuh waktu
dan lima musim guguran Sakura
turun di Hokaido
hari panjang membosankan
sajak-sajak unggun perapian
menunggu saat tuk padam

aku tamasya ke perutmu
yang Damaskus
dihujani peluru-peluru rindu
kanak-kanak dahulu, sementara
jari Qabbani tak mampu menulis
sebab cinta romantis kau pendam
dalam usus.
tak ada satu sungai pun menghayutkannya
sebelum kau putuskan ke selatan
tinggalkan tanah utara
yang telah lara
serta luka terbangkai

payudaramu membentuk kubah Basilica
di kota Florence yang kudus
lukisan Venus itu kau ubah
serupa Athena di malam hari
menghunus pedang ke leherku
tapi Alighieri sudah lama mati
kulihat ketenangannya
mengusap rambutmu;
bimbang antara lorong neraka
atau ke taman Firdaus.

setibanya di ujung kuku kakimu,
tungkai sudah gelayut setapak
di jembatan bantaran kali
tempat terakhir Chairil menerjemah
cakrawala
mata menatap langit
kau teriakkan serak
kecemburuan pada Sri Ajati
yang lebih pantas mati,
bukan dirimu saat ini.

Bengkulu, April 2018

Gansu Karangnio, lahir di Talang Leak, Lebong 16 September 1992. Menamatkan pendidikan di program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Bengkulu. Juara 1 seleksi tingkat provinsi baca puisi putra mengantarkannya menjadi wakil provinsi Bengkulu dalam ajang dua tahunan Pekan Seni Mahasiswa Nasional (PEKSIMINAS XI) 2012 di Mataram NTB tangkai lomba baca puisi putra. Puisinya yang bertajuk “Laki-laki Yang Bersajak Lupa” menjadi puisi pilihan dalam antologi puisi Di Ujung Benang Ikatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia se-Indonesia (IMABSII), Belistra, Jakarta, 2013. Lima puisinya juga tergabung dalam antologi Kado Puisi untuk Bengkulu (2014). Menulis esai “Anak Muda dan Semangat Bersastra” yang dimuat Harian Rakyat Bengkulu, 2014. Karya tunggal pertamanya antologi puisi Akrostik Dari Balik Jendela, komunitas Titik Awal, Palembang, 2014. Tiga tahun bergelut di dunia teater sebagai aktor. Teater Petak Rumbia Bengkulu menjadi rumahnya dalam beberapa pementasan, salah satunya di “Kala Sumatera-Festival Legenda se-Sumatera” Taman Budaya Lampung yang diadakan Teater Satu Lampung, 2012. Tahun 2016 lalu menerbitkan buku antologi puisi Empat Penyair Muda Bengkulu Melihat Kabut. Berkirim kabar di gandasucipta02@gmail.com