Info
Puisi-Puisi Rida K Liamsi

Puisi-Puisi Rida K Liamsi

Mukadimah

Untuk menandai momentum 100 ribu lebih kunjungan Haripuisi.info, kali ini kami tayangkan puisi-puisi pilihan Rida K Liamsi dari buku Tempuling. Ulasan lengkap mengenai puisinya yang berjudul "Tempuling" bisa dibaca di: Menikmati Puisi, Menafsiri Tempuling  


Rida K Liamsi
Tempuling

Sebatang tempuling tersadai di gigi pantai
sehabis badai
Seorang bocah menemukannya
sehabis sekolah
: Tuhan
Siapa lagi yang kini telah menyerah!

Tak terlihat tanda-tanda
Tak tercium anyir nasib
Tak tercatat luka musim
Kecuali tangis ombak
Pekik elang
yang jauh dan ngilu
di antara cuaca
dan gemuruh karang

Sebatang tempuling tersadai di gigi pantai
sehabis badai

Seorang bocah menatapnya
penuh gelisah

: Tuhan
Diakah kini yang telah menyerah?
telah kalah?

: Tuhan
Dia memang telah berbisik

Pindahkan pancang
sebelum pasang

Hatiku memang telah terusik
ketika sehelai waru
guru
lesap
lewat tingkap
tersuruk
di antara tungku
menunggu gelap

Sebatang tempuling tersadai di bibir pantai
sehabis badai
Seorang bocah merasakan pelupuk nya
telah basah

: Tuhan
Bawalah seorang menemukan nya
menguburkan nya di antara pantai
memberikan nya satu tanda
dan jangan biarkan arus
membawanya jauh ke lubuk dalam
yang akupun tak tahu
di mana akan kutuliskan
rinduku

[1982/1996/2000]

Di Stockholm
kepada : DI

Dari sebuah taman di Stockholm, suatu petang
kita menyaksikan monumen sebuah jangkar
di antara pelabuhan dan tiang-tiang perahu
dan kau berkata :

Seberapa jauh kita berlayar
kita harus sampai
harus melabuh sauh
dan turun ke pelabuhan
tapi jangan menoleh ke belakang
sebab di belakang adalah laut
sebab laut adalah misteri
yang menyimpan rindu
yang mengeram takut
yang menulis cinta
yang memendam benci

Dari sebuah taman di Stockholm, suatu petang
kita memandang cuaca dan gemerisik angin
dan kau berkata :
Seberapa jauh kita berlayar
kita harus menyimak cuaca
kita harus menghitung angin
tapi jangan menoleh ke belakang
sebab di belakang adalah sepi
sebab sepi adalah misteri
yang menyimpang dendam
yang membunuh mimpi

[2000]


Kemejan

Ke lubuk paling ceruk manakah kau
akan menyuruk
ke palung paling ujung manakah kau
akan berselindung
Akan sampai juga jejak tempuling
menghentak punggung
membiarkan engkau
melepas dendam zaman
ke puncak laut

Apa lagi rahasia mu memenangkan pertarungan ini?

Ada pada mu ombak
tapi tak berbadai
Ada pada mu arus
tapi tak berangin
Ada pada mu taring
tapi tak bergeming

Apalagi rahasiamu...
Kecuali lubuk
ke mana sebelum menyerah
kau akan kembali

Kecuali nasib
kepada siapa kau
akan berdamai
Kecuali dendam
ketika kau mengibaskan
ekor mu

ketika kau hitung detak detik
jejak langkah mu
di antara amis musim
di antara ngilu waktu
di antara tikam
dan kilat tempuling

Kecuali pekik pedihmu
:           Tuhan
Inikah nasib ku
Inikah cinta Mu

[1982/1996/2000]

Bulang Cahaya

Elang putih
berekor panjang
mengigal berahi
di ujung tanjung
mengirim isyarat
ke semua pintu :
Terimalah cintaku
cinta tak berkeris
cinta tak bersuku
cinta yang tak tersurat
dalam lagu-lagu

Angin berkisar
perahu berlayar
kudengar sendumu
di ujung sitar :
layang-layang
bertali benang
putus benang
tali belati
cinta ku lepas, cinta ku kenang
cinta sejati, ku biar pergi
hati ku kusut
rindu ku hanyut
berahi ku luput

Ombak gemuruh
mengobar dendam
membakar hari
mengubur mimpi
mengirim rindu
ke semua pintu :
Inilah cintaku
ku dulang jadi timah
ku pahat jadi patung
ku rendam jadi rempah
ku gulai bagai rebung
ku simpan duka ku
sampai ke ujung

Kemarau menderau
padang kerontang
sedih
pedih
dendam
rindu
sangkak
pantang
sumpah
seranah
jadi barah
jadi luka
sejarah

Elang putih
berekor panjang
mengigal sendiri
di ujung petang
mengirim rindu
ke semua pintu :
Kini cintaku
jadi sembilu

[1975/2001]

Biografi Rida K Liamsi selengkapnya: Rida K Liamsi