Info
Hari Raya Puisi (Antologi Puisi Pemenang Anugerah HPI 2013-2017)

Hari Raya Puisi (Antologi Puisi Pemenang Anugerah HPI 2013-2017)

HARI RAYA PUISI
(Antologi Puisi Pemenang Anugerah Hari Puisi Indonesia 2013-2017)

Prolog: Maman S. Mahayana
Epilog: Abdul Hadi W.M.

Penanggung Jawab: Rida K Liamsi

Tim Penyusun:
Ariany Isnamurti, Arief D Hasibuan, Asrizal Nur, Bastian Zulyeno,
Maman S Mahayana, Nana Sastrawan, Sihar Ramses Simatupang, Sofyan RH. Zaid

Atak: Indra Kusuma
Sampul: Kamil Dayasawa
Lukisan Sampul: Bambang Wibawarta
Cetakan Pertama: November 2018
ISBN 978-602-50502-1-3

Penerbit:
Yayasan Hari Puisi
Gedung Indopos Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama No.72, Jakarta 11540
penerbithpi@gmail.com
www.haripuisi.info | www.haripuisi.com

Spesifikasi:
A5, 494 hal, Bookpaper BW, Softcover (doff embos spot UV), wrapping.

Harga: 150k
Order: Hari Puisi (FB) / 087877513761 (WA)

-----
Buku ini diterbitkan oleh Yayasan Hari Puisi dalam rangka perayaan Hari Puisi Indonesia 2018 dan menandai momentum lima tahun perjalanannya. Buku yang menghimpun puisi-puisi dari 27 penyair Indonesia yang telah memenangkan sayembara buku Anugerah Hari Puisi Indonesia dari tahun pertama, 2013 sampai 2017. Salah satu buku yang layak dikoleksi untuk melihat sejauh mana capaian estetik dan tematik perpuisian Indonesia mutakhir dalam kurun waktu lima tahun. Melalui buku ini kita bisa mengenal berbagai karakter puisi dari 27 penyair yang terpilih sebagai pemenang, baik kategori Buku Puisi Terbaik maupun Buku Puisi Pilihan.


DAFTAR ISI

Prolog: Sebuah Sikap, Sebuah Apresiasi - Maman S Mahayana

Acep Zamzam Noor
Suara
Kekuasaan
Jejak
Di Sebuah Taman
Seperti Cinta dan Maut
Aku Ingin Menemanimu
Bagian dari Kegembiraan
Rambut Kesedihan
Amanat Galunggung
Mengukur Dalamnya Lautan

Hanna Fransisca
Kota Suci
Ziarah ke Kota
Anjing Punya Rika
Anjing Punya Saya
Kucing Kecilku
Musyawarah Katak
Perahu Kayu
Baju Orang Biasa
Malaikat
Kuburan Batu
Puisi Mei
Daun

Marhalim Zaini

Moluska
Hikayat Orang Laut
Dilanggar Todak: Mitos-Mitos Kota Pendurhaka
Akulah Penyamun Sirih Besar
Bakar Tongkang
Semua Sepi, Padam Sendiri
Di Daun Tingkap yang Patah Sebelah
Solilokui Para Penunggu Hutan
Di Batu Belah Kita Bertangkup
Agama Kopi

Ulfatin Ch
Ziarah Rindu
Tanda Ibu
Jalan Pulang
Kepada Ibu
Catatan Tugu
Sajak Gugur
Selembar Daun Jati
Kekasih Hujan
Yang Pergi dan Kembali
Di Koran Pagi Wajah Perempuan Devi

Iverdixon Tinungki
Tikung Kiawa
Jendela Kamar
Pada Senyum Istriku
Rumah Nenek Mertua
Mubeca
Orang-Orang Salingkere
Perempuan Mari Menikah dalam Ombak
Anak-Anak Itu pada Akhirnya
Sahabatku Joni
Pada Kata Luka Mahoni

M. Anton Sulistyo

Musyawarah Burung*)
Lelaki  di Depan Cermin
Sesudah Cinta
Memberi Nama Segelas Air
Kota Lama
Tubuhmu yang Pualam
Paspor
Musim Gugur Bersama Arianna
Nota Bulan Madu Kesekian
Nota Akhir Tahun

D. Zawawi Imron
Ibu
Zikir
Sungai Kecil
Nagasari
Bulan Tertusuk Lalang
Dialog Bukit Kemboja
Surat untuk Rasulullah
Celurit Emas
Langkah II
Kerapan

Hasta Indriyana
Rumah Kita Penuh Cinta
Sebuah Lukisan Dinding
Seekor Naga yang Melilit Kota
Buat Frans Nadjira
Menjelang Subuh
Sesaat Sebelum Magrib
Baiturrahman
Di Depan Patung Nyi Ageng Serang
Pelajaran Bahasa Indonesia
Di Atas Kereta Ekonomi

Isbedy Stiawan Zs
Kau tak Lagi Menanti
Menuju Kota Lama
Moro Moro, Kubiarkan Kau Bercerita
Pakaian Para Kaisar
Sajak dari Witte De Withstraat
Pelajaran Ibu
Seseorang Keluar dari Telepon Genggam
Kepada Toean Dekker
Bengkulu
Peristiwaperistiwa Kecil Hari Ini

Ni Made Purnama Sari
Jalan Cilame
Weltevreden
Bayam Pasar Banjaran
Lewat Rotterdam Tengah Malam
Salam Perpisahan dari Paslaan
Kucing Putih
Kasuari
Aku dan Jiwaku
Borneo
Doa Puisi

Yudhistira Anm Massardi
Ibu
Jogja Kembali
Kematian Itu #4
Kepada Penari
Lombok Air Mata
Malioboro Express
Medan #2
Cahaya
April di Malioboro
Aurora

Soni Farid Maulana
Literatur Seorang Buruh Pabrik  Tengah Gemuruh Kota Jakarta
Langgam Biasa
Gamelan Mati
Sebuah Potret Dunia Ketiga
Panorama Alam Benda
Bintang Mati
Sea Food Kaki Lima
Sop Buntut
Kuku si Mati
Kucing Persia
Tukang Daging

Nissa Rengganis
Kepergian Puisi
Pernyataan Cinta Menjelang Ajal
Kabar dari Rohingya (1)
Kabar dari Rohingya (2)
Hujan di Matamu
Perempuan Suriah
Malalayousufzai
Di Stasiun (1)
Di Stasiun (2)
Romusha

Aspar Paturusi
Senandung Maghrib Cinta
Puisi Pengantar Tidur
Gerbang Waktu
Januari ke Desember
Kolam
Namamu Siapa
Perempuanku, Senyumlah
Pelaut Tua
Rayap Dosa
Bunga Akhir Tahun

Gus tf
Susi: Nama Kosmik
Susi: Merah Padam
Susi: Jerat Jantan
Susi: Lubang Semesta
Susi dari Siang dan Malam
Susi dari Rumah Gadang
Susi, Bila Tidak
Susi, Malam Itu
Susi, Saat Kautahu

Hamdy Salad
Cermin Matahari
Kembali ke Bumi
Jalan Persimpangan
Menunggu Waktu
Nyaris Pingsan
Di Sini, di Kolam Ini
# 00.00
Kaca Benggala
Metafora Bunga
Sebelum Kata
Meditasi Batu

Taufik Ikram Jamil
Menulis
Menulismu
Menulismu Lagi
Menulismu Lagi dan Lagi
Sejak 1824
Catatan Terakhir oleh Raffles
Selepas Traktat London 1824
Membaca Prasasti Kedukanbukit-Kotakapur - Minyetujoh
Melayari Pohon Perhimpunan
Di Kitab Sulalatus Salatin
Di Kitab Tuhfat Al-Nafis

Hasan Aspahani
Orang-Orang Baru dan Hal-Hal Lama yang Kutemui Lagi Sebagai Sesuatu yang
Baru Setelah Merayakan Hujan di Banjarbaru
Tempat-Tempat Baru yang Kukunjungi dengan Sejumlah Catatan Baru atas
Kenangan Lama yang Teringat di Sana

Ahmadun Yosi Herfanda
Sajak Keranda
Ziarah Senja
Kabar Duka di Antara Tawa
Kesaksian Sepotong Kuku
Suatu Hari di Kamar Operasi
Dalam Sunyi Itu
Catatan  Ngungun  Awal Tahun
Aku Sudah Lelah Berteriak
Catatan Sepercik Banjir
Berapa Usiamu Hari Ini

Rini Intama
Bawalah Aku Berlayar ke Malaka (1)
Bawalah Aku Berlayar ke Malaka (2)
Seribu Doa di Tanah Siak
Perempuan Bajo
I Lagaligo
Perempuan  di  Lereng  Meratus
Tujuh Malam
Sasirangan
Klenteng Tjo Soe Kong
Kucium Wangi Ibu

Sosiawan Leak
Gugurnya Risang Endrasena
Agustusan Di Palestina
Santri Nusantara
Dari Bagaze, Monte Carlo ke Baju Kurung Merah Hati
Gusjigang
Ditembak saat Memasak
Jasadnya Digantung
Jasadnya di Pohon
Punggung Berdarah Menyusui
Gus, Bicaralah!

Tjahjono Widarmanto
Surah Cinta ke-11
Surah Cinta ke-12
Ombak Terakhir
Himne Laut
Kitab Batu (3)
Hikayat Pohon Nur
Perjalanan Suci
Beranjak Tua
Sejak Terusir
Tamsil Ulat
Yang Tersisa di Secangkir Kopi

Umi Kulsum
Yang tak Hilang
Pelajaran Merdeka
Rumah tak Berpagar
Lukisan yang Sama
Silsilah Keramat
Bersajak Tentang Pohon
Monolog Sampan
Tulisan Panjang
Akar Ketuban
Lukisan Anonim

Irawan Sandhya Wiraatmaja
Mencari Ideologi
Seoul: pada Waktu Dinihari
Di Atas Sepucuk Daun
Sebutir Garam di Secangkir Air
Giang, Surat Itu
Bocharov Rucey
Air Mata Topeng
Penari Malam
Tarian Topeng Monyet
Nubuat Kerinduan

Din Saja
Ruang Hilang
Pikir Hati
Kalam
Eksistensi Cinta
Alif
Hanya Engkau Cinta
Ada dan Tiada
Teror
Waktu
Jalan Gelap

Candra Malik
Tubuh Senjakala
Kupeluk Erat
Taklimat dari Langit
Cinta yang Meredupkan Nyali
Kalya
Sunyi Merampas Keyakinan
Kenangan
Tulang Rusukku
Asal Muasal Pelukan
Andaikata Tidak

Raedu Basha
Mayat Sepi
Radarparana
Hadrah Kiai
Serat Azmatkhan
Bunga Ibriz Kiai Bisri*
Tasrifan Kiai Maksum Jombang*
Madah Ziarah Waliullah
Narasi Gandul Makna Miring*
Gerbang Siti Jenar
Matahari Muhammadiyah Kiai Ahmad Dahlan

Epilog: Hakikat Puisi - Abdul Hadi W.M


Baca juga:
Prolog: Sebuah Sikap, Sebuah Apresiasi - Maman S Mahayana
Epilog: Hakikat Puisi - Abdul Hadi W.M