Info
Empat Puisi Penyair Indonesia asal Riau Menjadi Naskah Teater FIB Unilak

Empat Puisi Penyair Indonesia asal Riau Menjadi Naskah Teater FIB Unilak


Teater tak bisa dipisahkan dari puisi. Selalu ada muatan puisi dalam pementasan teater. Ada juga naskah teater yang langsung dibuat dari puisi. Program Studi Sastra Indonesia, FIB, Universitas Lancang Kuning, Pekanbaru merencanakan menggarap pementasan teater dari puisi karya empat penyair Indonesia yang berasal dari Riau, yakni “Tanah Kelahiran" karya Idrus Tintin, “Sejarah Kami” karya Ediruslan Pe Amanriza, “Kelekatu” karya Rida K Liamsi, dan “Minyak Bumi Bagian Akhir” karya Taufik Ikram Jamil.  Naskah tersebut akan dipentaskan  pada pertengahan bulan Januari 2019 dengan judul “Tentang Kita (Riau)”. Pementasan ini akan diperkuat 15 personel yang semuanya dari mahasiswa Sasindo FIB Unilak.

Puisi Idrus Tintin berjudul Tanah Kelahiran membentangkan kegelisah penyair tentang tanah kelahirannya (Riau):

Tanah Kelahiran

Di sini kapal oleng-gemoleng
angin tak ramah
nakhoda asyik di kemudi
kelasi tertimbun tali-temali
penumpang mendengar degup jantung
jantung sendiri.
Lelaki keras berpacu jalan
perempuan memetik dawai hatinya
waktu malam tiba
perahu menyusuri puncak ombak
hidup di padang perburuan
tak pernah usai
tak pernah usai.


Di tanah kelahirnnya yang diibaratkan seperti perahu berada di pusaran hantaman gelombang yang besar. Tidak peduli satu sama lain menjadi kekhawatiran “perahu” ini akan tenggelam. Makhoda sibuk dengan kedudukkannya di kemudi. Kelasi pula ditimpa ‘tali temali’ (kerumitan) yang tak mampu berkoordinasi dengan nakhoda. Sementara penumpang dihantam kecemasan, tak tahu berbuat apa, hanye merasakan ketakutan sepanjang hidup mereka. Di tengah kekhawatiran tenggelam negeri ini tanpa mampu berbuat apa-apa disebabkan disebukkan mengurus kepentingan sendiri, negeri ini dirambah orang asing. Negeri ini menjadi padang perburuan yang tak pernai usai, tak pernah usai.

Puisi Rida K Liamsi berjudul “Kelekatu” menjadi puisi urutan kedua dalam pergelaran ini:

Kelekatu
Kepada : Thab

Ada ketika kita menjadi seperti kelekatu
Terbang dari lampu ke lampu
Dari pintu ke pintu
Dan akhirnya terdampar di bawah bangku
Tapi tak ada yang menyapa
Tak ada yang bertanya
Kesepian seperti degup maut yang berdetak di ujung
stateskop
Hanya kita yang merasa Aduhai
Aduhai
       Aduhai
Hanya kita yang tahu, apa yang tak pernah sampai

Ada ketika kita menjadi seperti kelekatu
Memandang kilap air dan terhunjam ke batu
Tapi tak ada yang menyapa
Tak ada yang bertanya
Keterasingan seperti sebuah lemari masa lalu tercuguk
di balik pintu
Hanya kita yang merasa kepedihan yang mengalir dalam
kabel lampu-lampu
Hanya Senyap
      Senyap
Senyap
Hanya kita yang tahu, apa yang tak sempat terucap

Ada ketika kita menjadi seperti kelakatu
Menunggu resa angin, menjadi isyarat musim
Memburu cahaya, dan gugur saat gelap tiba
Tapi kita tak tahu Bila
Bila
       BILA

2006

Puisi yang mendedahkan pesan bahwa untuk mengatasi sesuatu kesuraman (kekalahan negeri ini) perlu perlawanan. Sekecil apapun perlawanan akan memperlihatkan eksistensi manusia yang mendiami negeri ini. Walaupun seperti kelekatu yang memperlihatkan keberadaannya pada waktu badai, yang terbang dari satu lampu ke lampu, dan akhirnya menyerah pada takdirnya. Paling tidak kelekatu telah memperlihatkan keberadaannya untuk ada di masa yang sulit. Begitulah seharusnya, perlawanan harus didengungkan dan diperlihatkan untuk memperjuangkan membebaskan diri dari ketertindasan.

Sementara itu, puisi Taufik Ikram Jamil berjudul “minyak bumi bagian akhir”:

minyak bumi bagian akhir

jangan sebut air mata kamilah yang disedot
dari perut bumi selama janji
sebab kami tak bisa lagi menangis
telah tidak bersua antara pipa dengan rig
barrel hanya menghitung kenangan
dideret crown block ke samping angan
sementara kerek bor terlentang pasrah
abaikan substructure
dipadati keluh blow out prever
mengejek dog house dalam bahasa beku
sebelum mud gas separator terbujur
dalam shale shaker mengingkari degasser

telah kami lupakan segela reservoir
saat lumpur tak lagi berhajat pada hidrokarbon
hidrogen dan oksigen serta sulfur maupun nitrogen
adalah sesuatu yang makin asing
apalagi perkara old deep yang dihisap waktu
tiga puluh juta tahun tidak tertunggu
menyerupai endapan kesepian
tak terbaca oleh kisah seribu satu malam 
bahkan dalam khayal pun tak bersepadan
kempunan dan tekilan-kilan digali kenyataan 
mengeringi dugaan yang basah oleh harap
menjadi kerikil berupa pasir
saat humus tak lagi mengenal hijau
sebab sebarang warna adalah dusta
kecuali merah gersang sejauh mata memandang
juga segunung bayang yang disebut malang

begitu pula di lepas pantai anjungan ditegakkan
dengan mata bor bercerancam tajam
arus dan gelombang mengendap ke dasar laut
tiba di palung mejadi hantu jembalang
bersama kraken menghadang siang 
sedang malam adalah pelumat setiap arti
hingga air tak lagi berkongsi dengan bening
sampai vam dam dengan the flying duchman
terkurung di samudera kedelapan
tak tahu lagi jalan kembali

apa susahnya pula kami acuhkan steam flood
dengan beribu derjat celcius air menghugut
mendidihkan kasih menjadi sisih
yang begitu cepat beralih dalih 
sebab di atas mahapanas tak ada lagi hangat
sehingga sebutan terpanggang jauh terlewat
melebihi hangus dari hangus
tinggal angguk-angguk yang begitu khusyuk
menandai bagaimana kehidupan segala makhluk
dipuruk kemaruk tamak tanpa suruk

kepada hydrocracker usahlah sebut
sebab tuju sudah luput dengan maksud
tapi telah bertemu pisah dengan taut 
atom dan molekul-molekul terurai tanpa diri
hingga bensin dan solar bagai anak haram
adik kandungnya adalah greencock 
dengan sifat pembakar sebagai takaran
menyulut setiap perasaan sejauh pesan
mencecerkan perih di setiap jejak
lewat kesumat udara berupa asap
awan yang terlungkup dengan mata terkatup 

ada pun minas sampai houston taxas
kami layani dalam mimpi
betapa petro dollar adalah bagian tersendiri
yang tak mengenal rumus pembagi
daulat pun telah hampir menjadi dongeng
menghitung dirinya dalam bohong yang ulung
hingga negara bisa saja membelakangi rakyat
untuk kepentingan-kepentingan sesaat
menempatkan pikat di mana sempat
melarat telah menjadi kata sifat
digenangi laku si empunya tabiat

lalu adakah kami masih disebut kecundang
di negeri sendiri nasib terbuang
minyak ditampung tak sebat di tangan
terasa-rasa ada tertampak tidak
bagai gas yang tak dapat diraba 
tak tersentuh kulit tak tercapai tangan
segera hilang di alam terbuka

Mengisahkan kepedihan memiliki kekayaan alam di negeri ini. Kekayaan alam yang ada di negeri ini rupanya tidak berpihak kepada masyarakatnya. Segala aktivitas pengeboran minyak bumi, mengeksploitasi kekayaan alam, menjadi derita yang tak selesai-selesai. Negeri (Riau) ini hanya menjadi padang perburuan dan meninggalkan kedukaan yang maha pedih. Ini bukan suatu kelukaan yang harus dihiasi dengan pesimis, sehingga menjadi luka semakin dalam. Ini kenyataan yang harus dilawan untuk suatu keadilan, bahwa negeri penghasil haruslah mendapat lebih dibandingkan daerah lain. Ini luka semakin mengangga, haruskah ada durhaka terlebih dahulu baru negeri ini diperhatikan?

Lain lagi dengan puisi “Sejarah Kami” karya Ediruslan Pe Amanriza mengabarkan bahwa penderitaan di negeri ini menyebabkan ketidakberdayaan di segala lini. Walaupun demikian, kekalahan tidak mesti didiamkan, maka pada sejarah ada energi untuk mengenal diri. Dari sejarah, yang hari ini dianggap seperti  dongeng, ada diri yang sesungguhnya. “Sejarah Kami” pun memunculkan semangat bahwa dalam tubuh negeri ini dibangun dengan keberanian. Keberanian para lanun yang tak kenal rasa takut berhadapan dengan sembarang musim, merambah segala tempat. Dalam diri manusia yang mendiami negeri (Riau) ini, ada semangat mengebu untuk kebebasan yang disemat dalam karya sastra, seperti pantun dan gurindam. Kebebasan untuk mengurus negeri ini juga dilantunkan dari tindakan religius yang disampaikan terus menerus dalam kehidupan manusia negeri ini.

Pertimbangan menggarap ke empat puisi ini menjadi pergelaran utuh merupakan upayah mengenal kondisi Riau kepada generasi muda. Selain itu, mahasiswa dapat membongkar makna puisi dengan cara mempraktekkannya melalui visual. Puisi lebih bermakna ketika pesannya dapat ditangkap oleh pembaca berdasarkan tafsiran masing-masing.