Info
Rida K Liamsi: Masa Depan Sastra Tergantung Media Online

Rida K Liamsi: Masa Depan Sastra Tergantung Media Online



Haripuisi.info - Sejarah mencatat surat kabar (koran) punya peran yang penting dalam perkembangan dan kemajuan sastra Indonesia, khususnya puisi. Sehingga sering kita mendengar istilah sastra koran.

Tapi kini media cetak itu sedang berada dalam masa-masa suram. Banyak surat kabar yang memilih memangkas halamannya dan menghilangkan rubrik sastra. Bahkan tak sedikit juga yang tenggelam karena perkembangan zaman yang serba digital.

"Terbukti bahwa surat kabar punya peran yang luar biasa terhadap sastra. Surat kabar dulu kerap memberi kehormatan kepada sastra lewat rubrik dan memberi apresiasi. Tapi kini surat kabar sedang berada dalam masa yang suram dan berat," kata Pembina Yayasan Hari Puisi, Rida K Liamsi, saat menjadi pembicara dalam Seminar Internasional bertema "Sinergi Sastra dan Ilmu Komunikasi sebagai Sarana Diplomasi Budaya dalam Membangun Peradaban di era Milenial" di Universitas Pakuan Bogor, Kamis (15/11).

Rida lebih lanjut mengatakan, meski dibatasi oleh ruang, halaman, dan redaktur, namun surat kabar sudah memberi sastra di tempat yang paling terhormat. Masing-masing surat kabar memiliki mazhab tersendiri dalam menentukan sebuah karya sastra itu layak dimuat atau tidak.

Mazhab itu, lanjut Rida, semacam aliran dari koran itu sendiri. Jadi redaktur yang menanggungjawabi rubrik sastra menjadi panglima yang menentukan karya dimuat atau tidak.

"Terlepas dari itu, ada hal lain yang membuat sastra menjadi terhormat. Yakni apresiasi lewat honor yang diberikan kepada penyair atau sastrawan atas karya-nya yang telah dimuat," ungkap Pria yang tak lama ini meraih penghargaan Sastra Badan Bahasa 2018 dari Kemendikbud RI.

Dikatakan Rida, sastra tak hanya mendapat ruang rubrik saja tapi menjadi bagian konten surat kabar.

"Bahkan ada surat kabar yang menempatkan puisi di halaman 1. Itulah bagaimana surat kabar memberikan tempat terhormat bagi karya sastra sehingga karya sastra berkembang," ujar Rida.

Kini, banyak surat kabar yang memilih jalan keluar untuk menyesuaikan dengan era digitalisasi. Surat kabar melakukan konvergensi cetak dengan online (portal online). Kehadiran portal online ini ikut memberi tempat sastra masuk ke wilayah online.

"Hanya saja media online ini kebanyakan belum mampu menyeleksi dan menghasilkan karya yang berkualitas. Di tambah belum bisa memberikan penghidupan kepada para Penyair dan sastrawan. Di sinilah saya menyebutkan bahwa masa depan sastra Indonesia tergantung bagaimana media online berperan," tandasnya.

"Tak ada pilihan lain bahwa sastra di media online harus ada, sekarang harus ada ikhitar bagaimana agar sastra termuat di media online. Tak hanya itu, harus juga bisa memberikan kehidupan bagi sastrawan. Ini yang kita cemaskan," tutup Rida kemudian. (adh)