Info
Puisi-Puisi Ratna Ayu Budhiarti, Imam Budiman, dan Encep Abdullah

Puisi-Puisi Ratna Ayu Budhiarti, Imam Budiman, dan Encep Abdullah

MUKADIMAH

Berikut ini cuplikan interogasi pendek antara seorang hakim perempuan dan seorang lelaki yang jadi terdakwa.

Hakim (H): Apa pekerjaan Anda?
Terdakwa (T): Menulis puisi.
(H): Pekerjaan tetap?
(T): Saya pikir jadi penyair itu pekerjaan tetap! 
(H): Siapa yang menyebut Anda ini penyair? Siapa pula yang menderetkanmu di antara para penyair?
(T): Tak seorang pun! Tapi, siapa yang menderetkan saya di antara manusia-manusia?
....
Itulah sepenggal interogasi yang terjadi antara hakim perempuan dan lelaki yang duduk tenang di kursi pesakitan. 
Peristiwa pengadilan itu terjadi antara Februari-Maret 1964 yang berlangsung di Leningrad sekitar enam bulan sebelum Nikita Khrushchev, penguasa lalim komunis, turun dari pucuk pimpinan Uni Soviet. Dan, si pesakitan itu tidak lain: penyair Joseph Brodsky (1949-1996), peraih hadiah Nobel Sastra 1987.

Dari kisah tadi, dapatlah kiranya kita mentadaburi,  bahwa siapa pun boleh jadi penyair. Syaratnya satu: dia seorang manusia! Tak lebih tak kurang. Mengapa manusia? Ya, sebab hanya makhluk Tuhan yang satu inilah yang punya kesempurnaan afeksi dan kognisi. Lewat kedua unsur itu pula puisi direproduksi menjadi nyata sempurna, tidak sekadarnya, sebagaimana puisi yang ditulis Ratna Ayu Budhiarti, Imam Budiman, dan Encep Abdullah.

Di tangan Ratna, sungai Cimanuk dibiarkannya berkeluh-kesah. Mengalirkan protes dan peringatan, yang apabila manusia menyiksa alam,  kelak ia akan menerima secara kontan hasil penyiksaannyanya. 
Di hulu, hutan menjelma petak-petak kebun,
Vila, dan tempat wisata
Manusia mencukur gunung hingga tak lagi hijau
Mulutnya sibuk mengunyah uang, laba proyek,
Dan melupakan aturan

Tampak, Ratna tak sepenuhnya membiarkan penanya digunakan Cimanuk untuk mengadvokasi dirinya.  Penyair itu pun turut pula membubuhkan empatinya lewat sebait doa. Nah, konteks pernyataan Brodsky tadi menegaskan, hanya Manusia (dengan M kapital) yang terganggu rasa kemanusiaannya ketika ada sesuatu yang merusak hakikat keberadaannya. Persaudaraan manusia dengan alam, tercemar oleh keserakahan. Dan, penyair mestinya menyuarakan empatinya.

 Imam Budiman lain lagi. Ia berusaha keras membetot Yogjakarta ke sana-sini,  agar kota yang sarat romantisisme itu menjadi benda surealistik dalam kajiannya terhadap "gerimis" : kata yang dipakai oleh nyaris segenap penulis puisi untuk memperoleh efek puitik nan spesifik,  sebagaimana 'gerimis mempercepat kelam' Chairil Anwar pada Senja di Pelabuhan Kecil.

pagi tadi wajah kita begitu terik,
kini mendadak jadi gerimis yang kemayu

Tidak adakah kata lain untuk mengganti metafora gerimis? Jadi penting artinya menemukan metafora lain agar kita tak terjerumus pada kebasian.

Encep Abdullah pun bermain dengan alam. Ia mempergunakan sebuah lokus: Gunung Merapi. Lokus dimanfaatkan jadi lanskap kehidupan sepasang manusia.  Oh!  Ternyata ada pula Lembah Anai dan segelintir kuliner di dalamnya. Barangkali,  Encep seorang backpacker yang juga petualang kuliner. Maka, semua itu menjadi diksi dalam bangunan puisinya,. Tentulah upaya kita sebagai pembaca mesti sedikit sabar dalam mengeja puisi  "Suatu Pagi di Gunung Merapi" itu,  agar apa yang hendak disampaikan penyair tertangkap utuh dalam ruang imajiner kita. 

Demikianlah pada akhirnya. Ketiga penyair itu menawarkan tiga gelas puisi hangat ke hadapan kita. Reguk dan nikmatilah. Hanya manusia yang diberi hak prerogatif oleh Tuhan untuk menulis puisi. Jangan hiraukan segala teori, sebab mereka kadang berlaku penuh, meski sering kali seperti segulung tisu yang tersedia di atas meja warung makan. 
Salam ngopi!



Puisi Ratna Ayu Budhiarti
Dari Tepi Sungai Cimanuk

Di sini setahun lalu, aku mendengar jerit
Dan tangan yang menggapai-gapai
Ternak hanyut, mobil hanyut, bahkan atap rumah
Bermandikan lumpur, beberapa perabot
pergi tak kembali

Semua mengalir ke hilir, menuju gerbang
Kematian sesuai garis takdir

Di hulu, hutan menjelma petak-petak kebun,
Vila, dan tempat wisata
Manusia mencukur gunung hingga tak lagi hijau
Mulutnya sibuk mengunyah uang, laba proyek,
Dan melupakan aturan

Di ruang-ruang kecil, kita sudah tak lagi sibuk
Menyiram kembang atau membeli pupuk
Untuk tumbuhan yang menyapa dari balik jendela
Setiap pagi

Di sini setahun lalu, air mata tak bisa kukenali
Di deras banjir bandang
Sebab yang lantak bukan saja rumah dan harta,
Tapi jiwa mereka yang ditinggal pergi
Orang-orang terkasih

Hari ini dari tepi sungai Cimanuk,
Kutitipkan doa lewat mataku
Nanar menatap gunung yang semakin cokelat.
Tak lagi hijau.

#RAB, 2018

Ratna Ayu Budhiarti, Lahir di Cianjur, 9 Februari 1981. Saat ini menetap di Garut. Menulis puisi, cerpen, artikel, dan fiksi mini bahasa Sunda. Karyanya dimuat di beberapa media cetak dan online, seperti majalah Femina, majalah Good Housekeeping Indonesia, majalah Preanger Slide Story, HU. Pikiran Rakyat, Media Indonesia, Suara Karya, Indopos, Bali Post, SK. Priangan, tabloid Qalby, majalah Kandaga, koran Mingguan Pelajar, majalah Sahabat Pena, Puitika, juga di radarseni.com. Sampai saat ini karya-karyanya terhimpun dalam 31 antologi bersama dan 6 buku tunggal. Beberapa puisinya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan Perancis. Namanya tercatat dalam buku Profil Perempuan Pengarang dan Penulis Indonesia (2012). Beberapa antologi bersama yang diikutinya: Ziarah Kata 44 Penyair (2010), Antologi Festival Penyair Internasional Indonesia 2012: What's Poetry? (2012), Antologi Sastra MPU VIII Mistis (2013), Antologi 153 Penyair Indonesia, Dari Negeri Poci 5: Negeri Langit (2014), Nun (2015), dan Antologi Fiksimini Basa Sunda Serat Sapamidangan (2016). Buku tunggalnya Dusta Cinta (2008), Surat Menjelang Lepas Lajang (2011), The Untold Stories Cerita Kita: Aku, Kamu, dan Mereka (2012), Dada yang Terbelah (2012), Bintang di Alir Hujan (2014), dan Magma (2017). Menghadiri Festival Penyair Internasional Indonesia (April 2012), Ubud Writers and Readers Festival (Oktober 2012), juga Ekspedisi Literasi kerjasama Pena-ITBM dan DBP Malaysia (Februari 2016).


Puisi Imam Budiman
Gerimis Kecil di Yogyakarta

pagi tadi wajah kita begitu terik,
kini mendadak jadi gerimis yang kemayu

pelan-pelan rintik kecil berjatuhan
membentuk sungai buatan
di pinggir jalan

basah daun mangga di depan rumah,
menguarkan aroma anak tunas

kapan anak tunas itu tumbuh dewasa
mencoba rumus cara menakar usia
bila tunai batas napas dan masa

2017

Imam Budiman, kelahiran Loa Bakung, Samarinda, Kalimantan Timur. Bergiat di Komunitas Sastra Rusabesi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Buku kumpulan puisinya yang akan segera terbit: Pelajaran Sederhana Mencintai Buku Fiksi (2018).

Puisi Encep Abdullah
Suatu Pagi Di Kaki Gunung Marapi

suatu pagi di kaki gunung marapi
embun-embun tak saling berebut
siapa yang paling likat
menjamah pohon-pohon dan rumput
yang saling gigil mencari selimut

tak seperti aku dan kau yang selalu
bertengkar tentang terjalnya liku hidup

hidup kita memang tak laiknya
air terjun lembah anai di padang panjang itu
yang ricik airnya selalu menghantar kesejukan
bagi para tetamu

sesekali aku ingin mengajakmu ke sana
untuk saling merapatkan rindu
dalam pelukan dalam kabut atau hujan
atau sembari menikmati dakak-dakak atau sanjai
di lorong-lorong cinta kita yang semakin menua

Februari 2018

Encep Abdullah, dilahirkan di Serang pada 20 September 1990. Karyanya tersebar di koran dan majalah. Bukunya yang sudah terbit: Tuhan dalam Tahun (Puisi, 2014), Cabe-cabean (Esai Bahasa, 2015), Lelaki Ompol (Kumcer, 2017). Kini sedang menyiapkan buku puisi teranyarnya Berdandan sebelum Kawin. Meraih Anugerah Seni dari Dewan Kesenian Banten di Bidang Sastra sebagai Penggerak Sastra Generasi Muda 2017. Saat ini penulis bermukin di Kompleks Puri Delta Kiara, Gang Edelweis, Blok DD 23-24, RT 06 RW 01, Kelurahan Kiara, Kec. Walantaka, Kota Serang, Banten. Penulis bisa dihubungi 087771480255 atau email encepabdullah@rocketmail.com.