Info
Blues Sastra Kita

Blues Sastra Kita

oleh jimmy s johansyah

Sialan, kok saya tidak dapat mengerjakan apa-apa. Tangan dan kepala terasa mati. Kabut menggumpal dan memberati kepala dan dada.

Itulah kabut keresahan dari dunia lain yang apatis dan anti-perubahan.
Saya tidak ingin bergantung pada satu pekerjaan dan menggantungkan diri pada orang-orang yang meragukan perjalanan masa depan saya. 

Saya seperti lagu-lagu blues yang sendu, kelam dan kehilangan. Tetapi, itu bukan dasar yang dapat dijadikan alasan, mengapa saya jadi terpenjara. 

Banyak ragam keragu-raguan. Ah! Bukan! Saya tak pernah ragu, hanya banyak pertimbangan tentang baik-buruk. Salah-benar. Haram-halal. Pokoknya polarisasi dualisme yang tarik-menarik dan bikin gregetan para eksistensialis.

Barangkali terlalu banyak yang dipikirkan dan sedikit yang dikerjakan? Tapi, saya bukan tipe manusia seperti itu. Élan untuk menjadi (to be) lebih besar daripada élan untuk tegak berdiri ada (to exist).

Mengangkangi dunia ini dengan penuh hasrat birahi menyetubuhi kehidupan yang tak setara mutunya dengan kecintaan kita kepada Hidup Besar di Sana. Akan tetapi, bukan itu permasalahan yang diprioritaskan. Lagu sebuah perwujudan dari permasalahan manusia, yang tentu saja mau tak mau memang selalu bermuka-muka – vis a vis – dengan manusia sebagai penderitanya. Mau tak mau harus mengalami dialektika kesempurnaan yang sampai kapan pun selalu jadi pokok bahasan terbesar dalam kehidupan fana ini.

Demikianlah, sesuatu itu. Kehidupan yang sastrawiah. Dengan majas-majas yang selalu mendapat tempat terhormat dalam kesusastraan  kita saat ini. Bukan hanya itu, dunia prosa pun mengalami percepatan yang tak berhingga. 

Siapa pun silakan saja menulis, mereka-reka dan merangkai ulang (re-ensambled) mengungkapkan kembali, surut ke masa depan atau undur beberapa saat ke masa silam.

Saya tak pernah tahu, bahwasanya, apa pun, atau entah apa, semacam igauan kesebentaran, yang meliputi personifikasi antara manusia dan benda-benda, antara benda dan bunga, binatang atau lagu blues yang kelam menyayat itu.

Saya, penyair yang mengabdikan sebagian hidup ini di jalanan. Di dalam bus-bus kota megapolitan yang mengerikan ini. Kota yang dihuni para Mephistopheles, di mana Faust tak pernah aman dan selalu memperjuangkan diri keilahian untuk tetap survive dalam lingkungan hedonistik yang parah. Keluarga diancam manusia-manusia yang punya hobi (sementara) menolak Tuhan dan terus melakukan kemaksiatan konyol dan menjengkelkan karena telah memperhina kemanusiaannya sendiri. 

Siapa yang peduli pada keadaan seperti tatkala para intelektual, katakanlah mereka yang sudah hebat mengolah pikirannya; menolak seluruh kebutuhan manusia terhadap Tuhan?Tentu saja di baliknya tersurat agama dengan segala macam keterbatasan tindak yang “tidak nyaman”  bagi manusia-manusia bebas yang hendak mengecap seluruh sisi kenikmatan tanpa reserve. Agama hanya memberikan sedikit peluang sedemikian tak berhingga (unlimited) manfaat yang akan kita didapatkan. Manusia tak mau itu, apalagi para penulis muda belia (new comer) seperti beberapa yang namanya ada dalam phonebook saya – atau beberapa yang lain yang tak perlu disebutkan namanya. Wilayah kelamin, racun king cobra yang mematikan keimanan (kita boleh tertawa ngakak, kok!). 

Saya juga tidak mengatakan bahwa hal itu tidak boleh, najis atau haram. Terminologi kata yang mengerikan bagi mereka yang ingin menjadi manusia bebas tak terkendali. Keliaran tanpa harapan. Dan saya pun tidak akan setuju bagi mereka yang tidak bersepakat dan mencela ganre sastra seperti itu. Boleh-boleh saja nulis jorok dengan imajinasi tanpa kendali tapi tetap terjaga secara etis dan logis.
Puisi pun demikian. Beberapa penyair coba memasuki wilayah aurat(isme) terlebih dahulu untuk memecahkan kesunyian batin tokoh-tokohnya, layaknya Freud atau CG Jung. Dan kini diikuti para tukang syair baru tetapi hanya dapat menuliskan kekotoran dan keruwetan imajinasi lingga-yoni itu dengan mengabaikan kedalaman tidak seperti yang diucap-ucap Sutardji Calzoum Bachri: 

Ada apa dengan kelamin? Mengapa kelamin yang dituliskan menjadi lambang kebebasan bersuara dan berpendapat seperti yang termaktub di dalam pasal kitab UUD ’45? Apakah ini ada kaitannya dengan era reformasi di mana masalah kegenitan genital jadi bagian dari wicara politik yang sebelumnya haram dan berbahaya dibicarakan. Sementara kita – aku dan kau – berkarib-karib nyerempet pada wilayah tersebut?

Tak ada yang mau bersetuju, terutama hal ini dilakukan oleh sastrawan angkatan tua usia (sastrawan manula) yang enggan bersandingan dengan mereka yang masih muda dan tentu saja potensi literaturnya di atas rata-rata (belum lagi bicara masalah kekayaan imajinasi).

Jadi, tak ada kehebatan jika seseorang, penyair atau prosais cq cerpenis dan penulis skenario atau novelis menuliskan kelamin sebagai komoditas yang menarik dan enak dinikmati seperti lagu blues. Dan, saya teringat akan Pengakuan Pariyem, Linus Suryadi AG.

Berarti, menurut saya, jika kita berpikir lebih jauh dan  mendalam, karena sastra merupakan salah satu sarana pencerahan yang sangat mudah merasuki jiwa manusia.

Saya memikirkan perjalanan masa depan. Ada yang getol mengutip dan mendewakan berbagai teori barat. Teori-teori fisika kuantum, dan berbagai macam frasa filsafat yang demikian banyak nama disertai curiculuum vitae seabreg. Saya tak dapat mengkalkulasikan berapa banyak biaya yang dikeluarkan untuk sekolah meraih gelar ini dan itu. 

Oke, nanti saya sambung lagi. Ada film bagus yang akan saya tonton: Film Perancis! 

Menikmati film Prancis berarti kita menoton hidup manusia, lain kalau kita menikmati film-film Holywood yang penuh sensasi futuristik dan terkadang banyak onaninya sebab kerap mengemukakan diri (Amerika) sebagi hero dunia (semoga Amerika insyaf, sebab sudah banyak negara raksasa dengan kekuatan setara di belahan timur Bumi ini).

Sastra kita (Indonesia) apakah cukup mampu merepresentasikan dirinya menjadi matahari sastra dunia walaupun kita memiliki Pramoedya Ananta Toer, Sutardji Calzoum Bachri, Sutan Takdir Alisyahbana, Amir Hamzah, Hamzah Fansuri, dan Chairil Anwar yang saya termpatkan secara spesial ke dalam puak tersendri pada dunia sastra kita ini.

Halo …, apa kabar para kritikus seni? Sudah selesai dengan kerja kalian yang tak membawa hasil apa-apa itu? Boleh tanya? Kok, kritik seni kita tidak berjalan seiring dengan perkembangan dunia seni kita? Sudah capek, ya? Atau memang kurang niat sebab keterbatasan intelektual yang kehilangan organ otak kanan? Lalu, terkubur hidup-hidup dalam lumpur masa lalu nostalgia sambil berkata: “Dulu …."

Saya, sebagai pendekar jalanan tak pernah risau dan cemas pada lingkungan sastra kita ini. Saya tak peduli pada ruang-ruang formal yang cuma seukuran kuburan itu. Mimbar saya akbar. Penuh debu berterbangan dalam udara sesak bertimbal. Siapa berani mempertaruhkan harga dirinya di tengah-tengah masyarakat kita yang selalu bikin waswas. Sorry! Anda tidak perlu menafsirkan kata-kata saya barusan itu dengan sinisme berlebihan. Sebab, kenyataannya memang demikian. Mau diapakan lagi? Toh, jika Anda merasa hal yang saya kemukakan atau action on the street saya itu hanya bagian kecil dari perilaku seorang penyair pinggiran yang menyingkir dari ruang besar pergaulan dalam konstelasi perpuisian kita, juga tidak apa. Tetapi, kenyataan mau dibuang ke mana? Dan hal ini terpaksa wajib anda terima saja sebagai sebuah anugerah dunia sastra kita. Sebuah koreksi kecil sudah terlaksana, tentu saja orang-orang yang hebat yang menjadi makelar kebudayaan, istilah saya bagi mereka yang tidak berkarya tapi ikut ambil bagian dalam meramaikan kegiatan sastra. Mana ada penyair yang mengembara di jalanan selama bertahun-tahun hingga punya banyak keturunan, dan dapat (secara ekonomi) berhasil mengentaskan kemiskinannya lewat menulis dan terus saja beraktivitas di dalam bus kota mendatangi orang-orang yang perlu tercerahkan (ternyata manusia biasa pun dapat membuat pencerahan terhadap manusia lainnya, asalkan memang betul mempunyai niat baik dari hati yang paling dalam, dari jiwa yang paling bersih – the purificationness of goodwill. Tapi, saya tidak akan sesombong itu. Buat apa. Toh saya lebih senang dengar lagu blues. Dan saya lebih menggemari kehidupan di atas awang-awang tanpa perlu mengonsumsi narkoba, walaupun saya senang bir sebotol dua botol. Sebab Tuhan cinta kepada mereka yang memabukkan jiwanya karena Dia.

Masuk ke wilayah kesufian sastra. Ini yang seharusnya dilakukan  kawan-kawan sastra saat ini. Tak ada ambisi lain selain tingkah-laku dedikatif. Jangan cari nama. Jangan cari pangkat seperti yang dilakukan para penyair yang berafiliasi pada penerbit kakilima atau para pemula lainnya. Biasa-biasa saja. toh sastra layaknya harta tidak dibawa mati. Nama baik yang kelak akan tertinggal justru bukan karena sastra tapi yang lebih besar dari itu, yakni pengabdian agung serupa Bunda Theresa, umpamanya.

Seperti lagu blues, tentu sastra kita menggelepar di tangan mereka yang kurang bertanggung jawab, kendati sudah bikin kumpulan puisi, cerpen atau menulis artikel di koran-koran.

Saya kok risih, mungkin sedang terjadi krisis kepercayaan terhadap lembaga-lembaga kesenian, semacam Taman Ismail Marzuki (TIM) yang selalu mau menang sendiri, kurang akomodatif dan agak mafioso itu serta dekat dengan klik-klik tertentu. Membangun sebuah kelompok kecil yang sebetulnya tidak pernah peduli pada perkembangan sastra Indonesia yang ingar-bingar seperti musik rock, namun kesunyian yang melanda adalah bagian dari aksi pembisuan yang sengaja dibangun untuk mengganjal para eksponen yang tersebar di seluruh pelosok Nusantara ini. Mengapa harus Jakarta, atau mesti berdiam di Jakarta? Sebetulnya tidak perlu jika konstelasi kesenian kita sudah menjaring seluruh negeri. Namun, kita saling tak mengenal nama-nama karena tidak publikatif atau memang tidak popular sebagai seorang sastrawan. Kawan-kawan di Kalimantan Barat, tepatnya di Pontianak, di sana ada beberapa nama yang muda maupun yang senior. Kalimantan Barat, tanah yang menumbuhkan pemberontakan saya terhadap kondisi kesenian yang pada saat itu, sekitar tahun 1989 ke bawah begitu memuakkan, sehingga saya terpaksa harus mencari wilayah yang lebih baik. Wilayah yang saya cari itu adalah Jakarta, yang kebetulan juga tempat saya lahir, dan saya mulai membangun diri. Mengutamakan keinginan untuk terus menulis, tanpa pernah berpikir harus berumahtangga atau mengarahkan pandangan kepada how to be making money! Tak pernah! Saya mengalir saja. Saya menjadi sosok makhluk multi-dimensional. Saya menjadi penyair multi-media. Saya menjadi air yang menggenangi dan membentuk diri dengan lingkungan dan kondisi batin saya sendiri. Saya bukan bunglon, kendati bunglon lebih baik daripada seekor tikus atau kecoa kehidupan yang dijalani sebagian manusia Dajjal yang hampir berhasil menghancurkan rumahtangga susastra.

Seperti lagu blues. Saya dan kesusatraan saya selalu menjerit, penuh keluh kesah. Penuh dinamika pemberontakan dan perbaikan pada nasib bangsa yang mulai dilirik bangsa asing!

Siapa mau jadi budak kebiadaban dan kebudayaan bangsa asing,  bangsa tempat lagu blues lahir dari para negro yang terpuruk di kafe-kafe dan gang-gang jalan yang kumuh dan penuh ancaman.
Saya suka lagu blues, saya suka mendengarkan BB King, atau Gary Moore. Mereka bukan orang kita, tapi, mereka juga bukan bangsa mana pun, hanya mereka kebetulan tinggal di Barat. Hanya kebetulan, seperti Edgar Allan Poe, Dario foo, Hamingway, Nawal el-Saadawi, Osama bin Laden; Mahatma Gandhi, Tan Malaka, Mao Zhe Tung atau siapa saja, termasuk Rolling Stones, Stephen Hawkings, Abraham Lincoln, Beatless, Soekarno, CCR atau Vanessa Mae (sorry, saya terlalu banyak menyebut nama-nama. Mereka adalah sejarah, setidaknya sejarah yang menghidupkan dunia ini dari impian-impian yang sekiranya, konon, tak masuk akal sehat. Dan nama-nama tersebut,  bagian dari sastra kita, bukankah kita butuh nama, figur citraan untuk merepresentasikan isi kepala dan isi hati kita kala gagasan akan dituangkan. Saya, atau anda sekalipun adalah figur – sosok – representatif. Mungkin di antara kita ada seorang atau beberapa yang menjadi persona non grata, tetapi dibutuhkan pula dalam kancah kehidupan wacana dan intelektual untuk diambil saripati  kejayaannya.

Condet, 28 Juni 2013/ 14 Oktober 2018.