Info
Manusia Langka Ahmad Tohari

Manusia Langka Ahmad Tohari

oleh Maman S. Mahayana

Pengalaman Mahasiswa Korea, Yun Hyun Sook

Ahmad Tohari adalah kisah manusia langka. Setidak-tidaknya, itulah kesan mahasiswa Korea, Yun Hyun Sook, yang mengambil novel Ronggeng Dukuh Paruk untuk tesis pascasarjana (S-2) tahun 2012 di Hankuk University of Foreign Studies, Seoul, Korea Selatan. Ia tidak habis mengerti, bagaimana di sebuah desa yang bernama Dukuh Paruk, nun jauh di sana, lahir kisah anak manusia yang dapat mengaduk-aduk segala perasaannya. Novel itu seperti sebuah wadah yang menampung berbagai macam perasaan: marah, benci, kasihan, prihatin, kesal, geregetan, muak, kagum, terpesona, dan seterusnya. Di balik kisah orang-orang yang lugu itu, ada sisi lain yang berkaitan dengan sistem kepercayaan yang menegaskan manusia menjalin persudaraan dengan alam dan penghormatan pada leluhur. Itulah salah satu alasan Yun melakukan penelitian terhadap novel itu. Ia melihat sistem kepercayaan yang terungkap dalam novel itu dan coba membandingkannya dengan shamanisme masyarakat Korea.


Ternyata, Yun makin penasaran. “Saya harus bertemu dengan pengarangnya. Ada beberapa pertanyaan yang ingin saya sampaikan,” begitulah kegalauannya yang terprovokasi oleh sebuah novel. Sebagai perempuan, Yun ingin tahu banyak tentang profesi ronggeng, tentang status ronggeng dalam dunia laki-laki, dan tentang perempuan Jawa macam Srintil dalam pusaran politik pada zamannya. 

Kami kemudian merencanakan pergi ke Tinggar Jaya, tempat tinggal Ahmad Tohari.
Liburan musim dingin, Desember 2012, saya mudik ke Tanah Air. Yun dari tempat tinggalnya di Incheon, Seoul, ikut bersama kami. Ia ingin menuntaskan rasa penasarannya.

***

Sepanjang perjalanan ke Tinggar Jaya, Purwokerto, entah apa yang dipikirkan Yun. Tetapi, sempat terucap rasa bangganya akan bertemu dengan salah seorang sastrawan besar Indonesia. Sejauh yang saya tahu tentang profesi dan status sosial sastrawan di Korea, negara dan masyarakat memberi tempat terhormat, sejajar dengan profesi dosen yang berada sangat dekat dengan dewa. Rakyat biasa hampir tidak dapat bersentuhan dengan sastrawan karena peranannya yang reputasional dan statusnya yang sangat disegani. Sastrawan jauh lebih dihormati daripada pejabat negara, apalagi politikus. Dengan latar belakang sosio-budaya yang berbeda, Yun datang ke sebuah desa yang bernama Tinggar Jaya.

Kami tidak mengalami kesulitan mencari tempat tinggal Ahmad Tohari, berkat informasi penduduk yang rupanya sudah mengenalnya dengan sangat baik. Ahmad Tohari bersama istrinya menyambut kami dengan riang gembira. Saya lihat Yun terpana, entah takjub, heran atau tak percaya dengan bayangan yang diidealisasikannya sendiri. Di hadapannya kini berdiri sastrawan besar yang menyedot kekagumannya. Kontras dengan yang dibayangkannya. Di hadapannya kini berdiri manusia langka: sederhana, apa adanya, welcome, dan berada jauh dari singgasana para dewa. Ia hadir di bumi manusia, di tengah rakyat biasa, di antara tetangganya yang ramah dan penuh takzim. Yun memang tidak dapat menyembunyikan keterpesonaannya. Sebab, pada sosok sastrawan yang begitu dikaguminya itu, tidak sedikit pun muncul kesan jaim atau sikap menjaga jarak sebagaimana yang jadi pengalamannya sehari-hari di negerinya.

Barangkali cuma sekejap keterpanaan Yun. Sebab, setelah itu, semuanya cair, mengalir begitu saja, dan kami berbincang tanpa sekat. Ahmad Tohari kemudian mengajak Yun ke belakang. Wawancara yang dilakukan Yun berlangsung di dekat pagar bambu, di sebuah kebun entah milik siapa. Saya meninggalkan sesi wawancara kedua orang itu.

Bagi Yun sebagai orang Korea dengan segala adab dan etikanya, pengalaman jumpa dengan sastrawan yang menjadi idolanya, wawancara yang sangat cair dan cenderung sebagai obrolan santai, dan empatinya yang besar pada sosok tokoh imajiner, Srintil dan Rasus, adalah peristiwa luar biasa. Dalam kepalanya sebelum jumpa langsung dengan Ahmad Tohari, belum tersedia kosa kata yang menjadi karakteristik manusia bersahaja. Setelah itu, Yun punya banyak kosa kata baru yang mungkin tak akan dia temukan di negerinya. Tetapi, justru karena itu pula, Yun kadang kala menempatkan Ahmad Tohari secara hiperbolis: Manusia langka yang lebih dekat malaikat!

Saya sangat yakin, sepanjang hayatnya, Yun Hyun Sook (hampir) mustahil bisa melupakan Ahmad Tohari dengan segala kebersahajaannya! 

(Diceritakan kembali oleh Maman S. Mahayana, Pembimbing tesis Yun Hyun Sook)