31 Juli 2018

Sisi Lain Sutan Iwan Soekri Munaf

Share On Facebook ! Tweet This ! Share On Google Plus ! Pin It ! Share On Tumblr ! Share On Reddit ! Share On Linkedin ! Share On StumbleUpon !
oleh Maman S. Mahayana

Sutan Iwan Soekri Munaf (Medan, 4 Desember 1957 – Bekasi, 24 April 2018), saya kenal pada dekade 1980-an lewat esai-esainya yang kerap muncul di berbagai media massa. Kadang kala muncul cerpen dan puisi-puisinya, berselang-seling dengan nama-nama Afrizal Malna, Nirwan Dewanto, Seno Gumira Ajidarma, dan sederet panjang nama-nama sastrawan seangkatannya; Fakhrunnas MA Jabbar, Adri Darmaji Woko, Korrie Layun Rampan, Adhie M Massardi dan entah siapa lagi. Nama-nama itulah yang pada dekade 1990-an menciptakan persaingan dalam memperebutkan halaman sastra dan budaya di setiap hari Minggu. 

Persaingan itu terus dipelihara sampai awal tahun 2000-an. Maka, perjumpaan kami dengan nama-nama itu, jika tidak pada saat diskusi sastra dan budaya dalam suasana yang agak riuh, terjadi di ruang sempit di depan loket bagian keuangan sebuah media massa. Selalu, ketika kami jumpa di ruang sempit itu, terpancar rasa kesal dan was-was. Kesal lantaran nyaris harus selalu menunggu secarik kertas dengan tanda tangan sakti, dan was-was jika menerima jawaban: “Mohon kembali minggu depan.” Meski begitu, setiap jumpa dengan siapa pun –sesama penulis—di ruang sempit itu, rasa was-was dan kesal, cair seketika. Hampir selalu tercipta diskusi yang melupakan seseorang yang duduk di loket depan kami. Iwan Soekri adalah tokoh paling piawai menciptakan kegembiraan. Perjumpaan kami dalam acara diskusi atau di ruang sempit di depan loket bagian keuangan atau di mana pun, selalu, Iwan hadir sebagai sosok yang menampilkan kesan no problem! 

Di ruang sempit itulah, jalinan kasih sesama penulis, muncul begitu saja, tanpa pretensi, tanpa ideologi, tanpa kubu-kubuan. Iwan Soekri termasuk sastrawan yang lepas dari segala perkubuan itu. Ia melenggang sendiri; suka-suka gue; tak mau jadi pembebek dan epigonis; tetapi tetap hormat pada senior atau teman seangkatannya. Ia bebas tak terkungkung ketiak maesenas. Profesinya yang berada di dua kaki, wartawan—sastrawan, memungkinkan ia bersahabat dengan berbagai kalangan apa pun status sosialnya. Iwan sadar dengan profesi gandanya itu. Maka, kepedulian pada problem bangsa dan sikapnya pada sastra dan kebudayaan kita, sejauh yang saya tahu, tak mencla-mencle. Konsisten pada sesuatu yang diyakininya sebagai kebenaran.

Boleh jadi lantaran sikap itu pula, ia lebih memilih menulis sejumlah cerita anak-anak daripada merendahkan kualitas karyanya, menjilat maesenas, atau menjadi hamba sahaya yang taklid pada Pemred. Iwan Soekri adalah tipe sastrawan—wartawan yang tak mempan iming-iming dan bujuk rayu proyek pencitraan. Baginya, sikap adalah harga paling mahal sebagai manusia. Mencari nafkah dengan cara apa pun, sejauh halal, dilakoninya dengan bahagia. Belakangan, ketika ia menjadi sopir taksi, ia melakoninya juga dengan bahagia: no problem!
Ketika terjadi gonjang-ganjing sastra Indonesia, penghasilannya sebagai sopir taksi menurun drastis. Bolak-balik ia harus ke kantor polisi di daerah Jatinegara memenuhi panggilan aparat kepolisian. Dan sikapnya teguh pada apa yang diyakininya benar. Saya, Ahmadun, Sihar yang diminta menjadi saksi kasus itu, tentu saja berpihak pada fakta. Iwan tak melakukan pelanggaran apa pun, sebab yang dilakukannya sekadar mengutip.

Di FIB-UI, kami sempat berdiskusi lagi dengan Iwan tentang kasus itu bersama seorang ahli bahasa yang kelak dijadikan sebagai saksi ahli. Fakta menegaskan, Iwan tak bersalah. Meski begitu, saya berduka, sebab penghasilannya sebagai sopir taksi morat-marit gara-gara kasus itu. Tetapi Iwan Soekri Munaf, tetaplah Iwan yang saya kenal. Tegar, bahagia, dan no problem.
***

Suatu sore di Johor Baharu, Malaysia, saya, Iwan, dan Isbedy, menggelandang menyusuri daerah perkampungan hingga sampai ke kawasan minum kopi. Entah apa yang kami cari, tetapi minum kopi bersama penyair Indonesia, di mana pun, selalu menjadi pusat perhatian. Penduduk setempat kerap dibuat bengong oleh tawa lepas tanpa beban, gaya cuek tanpa rasa takut. Pada saat kami ketawa-ketiwi, seseorang datang. Entah bagaimana ceritanya, Iwan bisa tahu, jika seseorang itu, sang penguasanya. Belakangan, Iwan pula yang memberi tahu, bahwa peguasa kawasan itu, tidak lain adalah wong arek. Oh, pantas saja kami dibiarkan ketawa-ketiwi seenaknya di sana.
***

Sutan Iwan Soekri Munaf termasuk penyair yang kiprahnya dimulai sejak tahun 1980-an. Sebagai wartawan—sastrawan, ia leluasa “memotret” banyak hal di berbagai kota. Maka, tema-tema yang diangkatnya juga beragam. Sejumlah puisinya memperlihatkan pengelanaannya saat bergentayangan memasuki berbagai wilayah dan ceruk-ceruk kehidupan. Caranya menumpahkan ekspresi kreatifnya juga tidak terikat oleh bentuk penulisan puisi yang konvensional. Ia mungkin tidak merasa harus terikat oleh bentuk atau tipografi. Suka-suka gue!
Boleh jadi, bagi Sutan Iwan Soekri Munaf, menulis puisi dalam bentuk apa pun dan dengan cara apa pun, sah-sah saja, sejauh dapat mewakili luapan kreativitasnya. Lihat saja, misalnya, puisinya yang berjudul “Sajak tentang Olly” –Aku ingin sekali Rasakan—. Di sana, selain tidak ada huruf kapital yang menandai awal sebuah kalimat, larik-lariknya disusun tanpa ada pembagian bait. Maka semuanya seperti mengalir begitu saja. Perhatikan puisinya itu di bawah ini:

SAJAK TENTANG OLLY 
Aku Ingin Sekali Rasakan

aku ingin sekali menatapmu. tapi dari kafe ini hanya barisan gelas demi gelas yang menertawai diriku. sesekali suara botol memecahkan sepi dalam busa mulutku. dan namamu tersebut-sebut dalam bualan botol dengan gelas. mataku masih mencari dirimu dari kursi ini. dan gelas demi gelas datang berkisah sambil hantarkan mabuk dari dalam botol. sesekali wajahmu mengajuk dari dalam busa di mulutku dan botol demi botol berteriak ke tengah hari yang dilewati gelas demi gelas: kemana dia?

aku terdiam. mataku masih tak lepas untuk menatapmu. tapi gelas ini bukanlah dirimu dan botol ini bukanlah diriku. hanya aku ingin sekali semesra botol dan gelas membagi rasa dalam dirimu padaku. aku masih mencarimu dari balik gelas dan botol
ya, dari kafe ini masih ingin kurasakan mesranya gelas dan botol, barangkali hangatmu singgah ke dalam hatiku

Kuningan, Jakarta, Juni 2001

Tampaknya Munaf sengaja menggunakan pola seperti itu untuk membangun suasana (di dalam kafe) menggelinding begitu saja. Memang ada jeda, baik melalui tanda baca titik (.) atau bentuk alinea (yang tak lazim). Maka, suasana perasaan si aku lirik yang berada dalam keadaan mabuk, di antara minuman dan perempuan, terus saja mengalir. Jadi apa pun yang terjadi di sana, dirasakan oleh si aku lirik dalam keadaan sadar dan tidak sadar. Dengan begitu, botol-botol, gelas, kursi, perempuan, busa minuman, pandangan mata, kafe, kehangatan, semuanya itu berada di antara sadar dan tidak sadar.

Jika puisi tadi menggambarkan si aku lirik yang berhadapan dengan dirinya sendiri, pengalaman personal, maka puisinya yang berjudul “Pulang” coba mengungkapkan peristiwa tragedi Semanggi yang merenggut sekian banyak korban.

PULANG

Aku hilang kata
yang berseri dulu,
Tuhan!
Lihat
Begitu gampang nyawa terbang
...

Bagaimanapun juga, puisi ini tetaplah akan menjadi bagian dari catatan sejarah, meskipun sebagai puisi, catatan sejarah itu berdasarkan pandangan subjektif penyair. Oleh karena itu, peristiwa Semanggi yang menjadi bagian dari sejarah pergolakan reformasi yang dilakukan mahasiswa, ia tetap saja sebagai catatan subjektif yang sifatnya sangat personal. Yang diangkat penyair dalam peristiwa itu adalah sisi lain dari peristiwa besar itu. Bait awal yang mengungkapkan goncangan jiwa mahadahsyat dan keterpanaan luar biasa si aku lirik yang menjadi saksi peristiwa itu. Maka aku hilang kata laksana hendak mewakili perasaan keterpanaan itu. Dan kata: Tuhan! (dengan tanda seru) sebagai bentuk gugatan yang tak terperikan. Apakah ia hendak menggugat Tuhan, marah luar biasa kepada entah siapa, atau bentuk permohonan, agar Tuhan turun tangan menyelesaikan peristiwa tragis itu.

Begitulah puisi, boleh digunakan sebagai alat untuk keperluan apa saja, diperlakukan sesukanya, atau sekadar catatat gebalau jiwa. Segalanya diizinkan. Itulah puisi! Itulah Iwan yang dalam hal kreativitas, suka-suka gue, tak mau jadi hamba sahaya maesenas, tak mau jadi epigon siapa pun. No problem!

Ketika saya—kini— digencet kekuasaan ecek-ecek, saya mesti bercermin kepadamu: No problem! Seperti katamu: Tuhan! Biarlah kekuasaan ecek-ecek itu, berhadapan dengan Tuhan.
Selamat jalan sahabat!
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama
 
Copyright ©2018 | Hari Puisi | All Rights Reserved | Publisher: Yayasan Hari Puisi
infoharipuisi@gmail.com