Info
Puisi Norham Abdul Wahab dan Daviatul Umam

Puisi Norham Abdul Wahab dan Daviatul Umam

MUKADIMAH

Kematian. Ya, puisi ini seolah bangkit dari kubur. Bagaimana tidak? Di masa lampau kita mengenal pantun, syair, gurindam, dan puisi-puisi lainnya yang menjadi warisan karya intelektual, seakan-akan hendak dihadirkan kembali dalam puisi ‘Eh, Rupanya Mati’ karya Norham Abdul Wahab dalam setiap lariknya. Akan tetapi, tidak seperti judulnya, puisi ini tidak mengalami kematian sebagai sebuah ajal, melainkan menghadirkan kehidupan. Metafora yang dituangkan dalam puisi ini memiliki simbol-simbol yang memantik pikiran untuk masuk lebih dalam, mencari jawaban. Meskipun puisi ini belum tentu hadir sebagai jawaban, ia terkadang muncul sebagai pertanyaan-pertanyaan yang memaksa pembaca menjawab sendiri. Ada kesan main-main yang menyimpan keseriusan. Atau, puisi ini hendak mengangkat sesuatu yang serius dalam ekspresi yang seolah-olah main-main. Sebuah paradoks yang lincah.
Selanjutnya, puisi ‘Pemetik Buncis’ karya Daviatul Umam menawarkan visual tentang kehidupan yang subur dan makmur. Ada harapan untuk meraih suatu kebahagiaan setelah hidup yang sengsara. Sebuah tema klise yang disajikan lebih segar. Setiap lariknya menghasut untuk memetik makna yang lain dari kehidupan seorang petani yang memetik buncis. Mungkin bisa saja, si pemetik itu sesuatu yang lain, dan buncis itu adalah hal yang berbeda. Setiap kata membentuk kalimat yang menuju ke ruang tafsir berbeda, meskipun pada akhirnya ada makna kematian yang kental tersirat.
Silakan simak puisi-puisi itu, boleh jadi sesaat kita terkejut dengan kematian yang hidup kembali. Lalu muncul kisah lain tentang sesuatu yang fana, terus berubah: fanta rei!


Norham Abdul Wahab
EH, RUPANYA MATI

//1
eh, rupanya dia, mati
tiba-tiba, datang lagi
tak berkabar, tak bikin janji
senyap-senyap, lalu lesap
pulang ke rumah, kembali

//2
tak dapat tahu, bagaimana
hanya menduga sebab sahaja
latar di belakang peristiwa

//3
sepertinya, napas sudah berhenti
di dada tak terdengar degup lagi

padahal paru-paru bersih, masih
jantung juga, tergantung di sana

pun mata, masih bola masih bulat
namun, tak dapat dipakai melihat

telinga yang tegak bagai layar
tak mampu lagi tuk mendengar

bibir-lidah-gigi, rapi dan lengkap
alat ucap, tapi tak dapat bercakap

ya, semua ada di tempat semula
semenjak pertama, kala dicipta
namun sayang, tak lagi berguna

//4
malam hari, kita bertatapan
dikau cantik, menyenangkan
mesra, kita duduk berduaan
jemari kaki pun bersilangan

pagi hari, dikau telah kembali
masih cantik, menakutkan tapi
aku ngeri, berduaan tak berani
minta segera dikau dikebumi

//5
dikau bak bidadari, simbol kecantikan
di semua tempat, dambaan dan pujaan
dijadikan istri, banyak yang berangan

tubuhmu rancak, semua hendak
berapa pun mahar, akan dibayar
dikaulah mawar, gambus gitar
yang lain gong, drum kosong

tapi kini, tingkap pintu telah dikunci
lampumu padam, siang jadi malam

tubuhmu lesu, badan diam membeku
dijual dikilokan, tak laku-laku
gratis pun dikau, tak ada yang mau
ikan asin lebih, daripada cantikmu

//6
woi, akulah kematian
sempadan dua perjalanan
di sini kini x di sana nanti

tapi, di sana lebih letih daripada di sini
bahkan sedihmu pun akan diinterogasi
bukan hanya harta dan tawa gembira
dari mana dan untuk apa, namun

setetes air di retak tanah musim kemarau
semua telah tercatat dan terus dipantau
kita tak mungkin dapat bengak meracau

woi, akulah kematian
lebih dua puluh kali sehari
aku datang mengamati
cerdaslah, persiapkan diri

//7
eh, rupanya dia, mati
bikin hati jadi meringis
dari mata turun gerimis

MBoro, 2018

// biodata penulis

NORHAM ABDUL WAHAB
Dulu dikenal juga dengan nama Norham Wahab. Alumni Fakultas Sastra (Sekarang FIB) UGM Yogyakarta ini lahir di Bengkalis, Riau. Karya cerpen, puisi, esai dan tulisan kolomnya pernah dimuat di berbagai media massa dan buku antologi bersama. Buku kumpulan cerpennya “Ulat Perempuan Musa Rupat” diterbitkan Yayasan Sagang Intermedia, Pekanbaru (Februari, 2018). Sedang buku puisi “Preman Simpang” diterbitkan TareSI Publisher, Jakarta (Juni, 2018). Menghilang cukup lama, jurnalis senior ini kini aktif di jalan dakwah wa tabligh, sambil menjalankan sejumlah perniagaan. Sekarang ia lebih banyak menghabiskan waktu di sebuah desa kecil tidak jauh dari Gunung Lawu: Desa TeMBoro, Kec. Karas, Kab. Magetan, Jawa Timur. ”Sebuah kampung ‘Madinah Indonesia’, kampung idaman yang indah dan nyaman, untuk beribadah dan berkarya,” katanya.

Daviatul Umam
Pemetik Buncis

jauh setelah jagung dipulung
buah buncis kau petik dari cabang-cabang sengsara
yang silang-menyilang
dengan rerintik keringat mengairi wajah ladang
menyuburkan doa moyang

tak perlu renyah daging ikan untuk nyeri rusuk hari
biji dari kulit hijau kau lumat di atas keras kefanaan
rempah-rempah mengangkat derajatnya sedemikian
sementara kuah kelor senantiasa bertuah tabah
nasi kuning selalu mengajarkan rendah

bagaimana cara tungku nyala kalau tanganmu sudah hampa?
biji dari kulit kering menjadi jawaban di gersang musim
tandusnya di hatimu tiada reda
bertakar-takar kepiluan kau jual
menjemput bekal sehari-semalam
dipastikan habis sebelum sepekan

hanya pada buncislah kau titip desah
daun-daunnya hadiah bagi hewan ternak penunggu gemuk
harap bertahun suntuk
menahan desak air mata
seperti kesabaran negeri menampung lautan sampah

Sumenep 2018

Daviatul Umam, lahir di Sumenep, 18 September 1996. Alumni Pondok Pesantren Annuqayah daerah Lubangsa ini pernah menjabat sebagai ketua umum Sanggar Andalas. Puisi-puisinya dimuat di sejumlah antologi bersama serta media cetak dan online. Sesekali juga dinobatkan sebagai juara atau nominasi di antara sekian lomba cipta puisi, lokal maupun nasional. Berdomisili di Poteran Talango Sumenep, Madura.