14 Juli 2018

Puisi Aspar Paturusi dan Mohammad Saroni

Share On Facebook ! Tweet This ! Share On Google Plus ! Pin It ! Share On Tumblr ! Share On Reddit ! Share On Linkedin ! Share On StumbleUpon !

Mukadimah

Nah, kita jumpai kini: puisi sebagai saluran suara hati. Catatan perjalanan dan tempat persembunyian berbagai peristiwa atau pengalaman hidup. Setidak-tidaknya Aspar Paturusi memperlakukan puisi seperti yang disebutkan tadi. Sengaja kami hadirkan puisi “Gerbang Waktu” karya penyair yang punya seabrek pengalaman hidup dalam kiprahnya berkesenian. Pernah jadi wartawan, salah seorang pendiri Dewan Kesenian Makassar, menghasilkan beberapa novel, dikenal sebagai dramawan, aktor yang sampai kini kerap bermain sinetron, deklamator andal dan entah bidang seni apalagi yang dimasukinya.


Aspar menulis puisi sejak SMP dan sampai kini, ia tdk dapat lepas dari panggilan puisi. Maka, catatan perjalanan hidup, dianalogikan sebagai gerbang waktu: pintu raksasa ketika makhluk manusia hijrah ke alam keabadian. Pilihan bahasanya sederhana, tapi muncul dari perenungan yang amat mendalam. Itulah yang disebut kesederhanaan dan kedalaman. Jadi penyair sengaja memilih diksi--metafora dan analogi-- yang tak perlu membuat pembaca berkerut kening. Sebab, pesan puisi itu hendak berbagi isyarat. Sentuhan pesan itu dihadirkannya lewat dramatic poetic: wassalamu'alaikum. Pertanyaannya: siapakah yang menjawab salam kita saat melewati gerbang waktu? Ke kamar mana kita akan ditempatkan? Jawabnya: silakan hitung sendiri kebaikan dan keburukan yang sudah kita lakukan selama menempuh perjalanan hidup ini.


Kemudian puisi "Gili Terawangan" karya Mohammad Saroni, juga bermain dengan diksi yang sederhana. Tetapi, tak berarti puisi itu juga sederhana. Citraannya kuat menggiring kita masuk ke dalam wilayah puisinya. Maka teks itu berhasil menghidupkan saklar asosiasi kita melayang membayangkan pemandangan laut, riak ombak, dan keciprat air. Tidak mudah mengangkat peristiwa alam ke dalam larik-larik puisi. Dan Saroni berhasil menghadirkan peristiwa itu sebagai suasana batin. Maka cantelan metaforanya tidak perlu melacaknya ke dunia entah-berantah yang berada nun jauh di sana. Sebuah puisi yg cenderung filmis.


Perhatikan juga pola persajakannya yang coba memanfaatkan rima dalam larik: datang/bertandang/ angan/kusimpan/dalam-dalam dan seterusnya yang terkesan mengalir begitu saja, tampak wajar, tanpa paksaan, justru mendukung komposisi puisi itu. Ada kesadaran penyair pada pilihan diksi. Ya, itulah puisi. Meski pesannya sekadar "Selamat datang Gili Terawang", penyair telah menjalankan tugasnya mewartakan peristiwa biasa menjadi luar biasa!


Itulah puisi...


Jakarta, 15 Juli 2018



Aspar Paturusi

GERBANG WAKTU


lembar demi lembar hidupku

telah kusalin ke dalam deretan kata

tak semua bisa tercatat

ada yang harus ditinggalkan

biarlah tersimpan di buku tua

semoga selamat dari sengatan rayap

lembaran rindu tak mau disisihkan

dia selalu ingin bersama lembar cinta

mereka mudah dijinakkan

lewat bisikan doa-doa

sehabis sujud yang khusyuk

lembaran hidup yang tersimpan

tetap tak melupakan masa lalu

ada lambaian selalu memberi salam

kepingan kenangan yang indah

suatu ketika bila tiba masa

lembar demi lembar berbaris perlahan

memasuki gerbang waktu 

yang segera tertutup selamanya

semoga masih terdengar suaranya 

walau berbisik: wassalamu'alaikum


Jakarta, 11 Maret 2018


Aspar Paturusi lahir di Bulukumba, Sulawesi Selatan, 10 April 1943. Selain menulis puisi, ia juga dikenal sebagai penulis naskah drama, dramawan, aktor film/ sinetron dan novelis.  Ia juga dikenal sebagai pendiri Dewan Kesenian Makassar dan menjadi pengurusnya selama 17 tahun, Anggota/Ketua Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta (1990-2002)Wakil Ketua Umum PB Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI) 1990-1993  dan Sekretaris DP Organisasi PARFI 2006-2010.

Sebagai penyair, puisi-puisinya dipublikasikan di berbagai media massa.  Antara lain pernah dimuat di Mimbar Indonesia asuhan HB. Jassin (1960).Puisi-puisinya ikut diberbagai antologi puisi:  Sajak-sajak dari Makassar (1974), Tonggak  III (1985), Ombak Losari (1992), Ombak Makassar (2009),  Bangga Aku Jadi Rakyat Indonesia (2012) dan Negeri Abal-Abal: Dari Negeri Poci 4 (2013). Buku puisi tunggalnya, Sukma Laut  (1985), Apa Kuasa Hujan (2002), Badik (2011) dan Secangkir Harapan (2012).


_____________________________________


Mohammad Saroni

GILI TERAWANGAN


Perahu melaju,

air laut tersibak,

perlahan pantai ditinggalkan menuju pulau seberang,

riak air yang terputus oleh laju perahu terciprat

hingga membentuk lidah air yang menjilat-jilat angin,

dan angin bergerak menggoda sehingga lidah air semakin liar


Gili terawangan,

aku datang bertandang,

segala angan kusimpan rapi dalam-dalam

atas berbagai keinginan yang melayang,

gili terawangan wajahmu mengumbar tarik

pada hamparan pasirmu yang terik,

perahu, biduk, selancar dan tamu-tamu manca

telentang menantang matahari,

berharap mampu membakar pigmen diri

hingga sewarna anak negeri


Gili terawangan,

kupijakkan telapak kakiku di pasirmu yang basah,

bergerak oleh ombak pecahan lunas perahu,

dan, pijakan pertama kakiku terkalahkan oleh sirobok pandang mataku,

langit berdesir, angin gemuruh mengibarkan daun cemara yang melambai


Aku terus melangkah,

menyusuri tanah pijak bumimu,

gili terawangan


Mohammad Saroni, lahir di Mojokerto, Jawa Timur pada tahun 1965.

Alumni IKIP Surabaya Jurusan Teknik Mesin Produksi, aktif menulis buku pengetahuan pendidikan. Waktu kuliah aktif dalam kegiatan Teater Institut (TI) kampus IKIP Surabaya. Saat ini mengabdikan diri sebagai Pendidik di SMK Swasta Brawijaya di Kota Mojokerto. Sejumlah buku fiksi dan nofiksi telah ditulis dan diterbitkan, seperti Orang Miskin Harus Sekolah; Orang Miskin Bukan Orang Bodoh, Pendidikan Untuk Orang Miskin, Empunala dan Bupati Roller Coaster dan Sandal Jepit Ayu. Sedangkan buku puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Surat Cinta Untuk AimelKata – Kata Lelaki. Puisinya juga terkumpul dalam buku puisi bersama, seperti Sepasang Merpati dari Bukit TsurSang Perawi Laut; Melipat Waktu. Kontak: 0857 8499 0514



«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama
 
Copyright ©2018 | Hari Puisi | All Rights Reserved | Publisher: Yayasan Hari Puisi
infoharipuisi@gmail.com