24 Juni 2018

Puisi Mahdi Idris, Irwan Sofwan, dan Faris Al Faisal

Share On Facebook ! Tweet This ! Share On Google Plus ! Pin It ! Share On Tumblr ! Share On Reddit ! Share On Linkedin ! Share On StumbleUpon !
Mukadimah

Dengan gembira, kali ini kami tayangkan tiga puisi dari tiga nama, yaitu Dalam Diriku karya Mahdi Idris (Aceh Utara), Hakikat karya Irwan Sofwan (Banten), dan Dialog Ikan dan Perahu karya Faris Al Faisal (Indramayu).

Kesannya, Mahdi asyik bermain dengan dirinya sendiri, padahal ia coba menempatkan metafora diri sebagai representasi jagat besar manusia: dunia mikro dalam jagat makrokosmos. Maka, 'diri dalam diri' adalah kegelisahan individu sebagai problem manusia. Mahdi berhasil menggali diri sampai memancar mata air keberadaannya. Dalam puisinya, diri seolah jagat tempat kita bisa menemukan apa saja. Dari situlah sesungguhnya laku manusia bermula, tetapi bisa juga berhenti di sana.

"Hanyalah satu / seperti siang dan malam yang menyadarkanmu akan adanya waktu". Demikianlah Irwan Sofwan mengakhiri puisinya. Sebuah puisi dengan kelenturan bahasa yang nyaman. Irwan membawa kita pada sebuah renungan perihal hakikat puisi sebagai suara hati, kegetiran, pulang pergi, dan waktu yang fana atau isyarat menuju keabadian.

Sementara Faris menyodorkan perihal perahu dan ikan yang berdialog. Puisi yang unik secara tema karena mampu menghadirkan sisi lain dari laut. Meski berbeda dengan tamsil perahu Hamzah Fansuri, hubungan perahu dan ikan mengingatkan pada kisah-kisah para aulia. Di sinilah tugas penyair untuk mencari dan menemukan sisi lain yang tersembunyi dari segala hal yang lazim. Maka, ia jadi khas, memberikan sesuatu yang unik.

Pengantar ini sekadar pemantik. Masih banyak hal yang belum terungkap dalam ketiga puisi di bawah ini. Silakan menafsir dan memaknainya dari perspektif yang lain. Dan ketiga puisi itu memberi ruang yang luas untuk itu. 

Selamat menikmati!

Jakarta, 24 Juni 2018
Tim Redaksi


Mahdi Idris
Dalam Diriku

Kau akan menemukan dalam diriku sepasang lebar, siap menampung hujan pertama pada musim kemarau. Atau hawa panas dari gurun, atau dari yang entah. Serba samar dan muram, serta kemurungan yang datang tiba-tiba. Memberimu isyarat agar segera pergi, meninggalkan aku dalam diri.

Dalam diriku akan melesat keping-keping kesedihan, kebahagiaan, dan ketakutan yang terlalu dini. Datang menerjang, merabai tubuh dalam tubuhku, dalam diriku. Jarum jam berdetak membawa kabar baru, bahwa kabar lama hanya ilusi dan kau takkan mengenangnya lagi.

Seperti dalam diriku yang lain, darah menjadi nanah, cahaya menjadi gelap. Darah dan cahaya menjadi sung-sang, mencari dari ketiadaan. Atau dalam diriku, kau akan menemukan apa saja; layang-layang, kerang dan siput, serta sebuah cangkang mimi yang sering kujadikan bahan mainan masa kecil. Kau akan menemukan apa saja. Dalam diriku segala terhimpun, juga kenangan masa kecil di bawah angsana menebar harum bunga mekar.

Dalam diriku terbenam yang kau cari seperti cangkang kerang kosong, ia terbenam saat pasang dan timbul saat surut. Pasang-surut dua pertanda bagi kehidupan air di hulu sampai muara, mengalir ke laut terdalam. Sebuah kehidupan yang baru akan muncul bertemu riak, lalu gelombang. Juga seperti dalam diriku, sesuatu yang muncul akan tenggelam.

(Pondok Kates, 03 Mei 2017)

Mahdi Idris lahir di Aceh Utara, 3 Mei 1979. Karyanya dimuat di berbagai media massa lokal dan nasional. Buku puisinya yang telah terbit Lagu di Persimpangan Jalan (2014), Kidung Setangkai Sunyi (2016), dan Kutukan Rencong (2018). Karyanya juga terhimpun dalam beberapa antologi, antara lain: Kerdam Cinta Palestina (Folipenol, 2010), Munajat Sesayat Doa (Leutika Prio, 2011), Bingkai Kata; Sajak September (Leutika Prio, 2012), Narasi Tembuni (KSI Awards, 2012), Ayat-Ayat Ramadhan (AG Publising, 2012), Epitaf Arau (Senikata, 2012) Secangkir Kopi (TGI, 2013), Merengkuh Asa (DKA Langsa, 2014) Antologi Penyair Dari Negeri Poci 6; Negeri Laut (2015), Pasie Karam (Meulaboh, 2016), Matahari Cinta Samudera Kata (Hari Puisi, 2016) dan Antologi Puisi Kopi 1.550 Mdpl (TGI, 2016). Saat ini menetap di Desa Hueng, Kec. Tanah Luas, Kab. Aceh Utara.
___________________________________________________________________

Irwan Sofwan
Hakikat

Keberadaan mencari perkara bagaimana aku harus mengingatmu
sebab puisi hanyalah kebahagiaan sekelebat yang akan segera lewat
lalu kembali menjemput takdirnya sebagai kata

Membayangkan semua yang akan datang dan hilang
mungkin salah satu jalan. Bagaimana aku harus bertahan
dalam keresahan
dalam menyisir getir yang terseret di setiap perjalanan

Sebab kesenangan hanyalah suatu permainan
yang pada akhirnya  akan tamat dan ditinggalkan
tak ada yang harus disayangkan ketika tiba saatnya untuk pergi
karena pergi hanyalah kembali

hanyalah  satu
seperti siang dan malam yang menyadarkanmu akan adanya waktu

Selangor, 2016 – 2017

Irwan Sofwan Lahir dan tinggal di Serang-Banten. Aktif berkegiatan di Kubah Budaya (Komunitas untuk Perubahan Budaya), Artist Resident Rimbun Dahan-Malaysia. Kontak: wans_24@yahoo.com / 08170703440.
___________________________________________________________________

Faris Al Faisal
Dialog Ikan dan Perahu 

bila ikan dan perahu bercakap-cakap
maka penuhlah kembu dari anyaman bambu
sesungging senyum dari lelaki pelaut
membuat air segara menjadi tawar

naiklah kau ke atas papan geladak
samudera biru berputar memusar di dasar
sebab angin lalu memendam rindu
di palungmu di selingkung waktu
tak tentu pada tuju

biarkanlah arus mendorongku ke muara
mereda gemuruh ombak dan perburuanmu
ikan-ikan yang kaku dan membeku
dalam lumuran butir-butir garam

tak ada yang dapat memahami perbincangan
kecuali gelap malam dan kerlip bintang
sementara ombak terus mengejar
kepiting di sela akar-akar bakau
menghujam di dalam hati

Indramayu, 2018

Faris Al Faisal lahir dan tinggal di Indramayu, Jawa Barat. Bergiat di Dewan Kesenian Indramayu. Antologi Puisi yang telah terbit adalah Bunga Kata (2017), Puisi-puisinya tersiar di berbagai media massa, seperti Kompas, Tempo, Media Indonesia, Republika, Kedaulatan Rakyat, Suara Merdeka, Pikiran Rakyat, Lampung Post, Padang Ekspres, Rakyat Sumbar, Radar Cirebon, Radar Surabaya, Radar Sulbar, Radar Banyuwangi, Radar Bromo, Media Jatim, Merapi, Minggu Pagi, Banjarmasin Post, Bali Post, Bangka Pos, Magelang Ekspres, Malang Post, Solopos, Suara NTB, Joglosemar, Tribun Jabar, Tribun Bali, Bhirawa, Koran Pantura, Riau Pos, Tanjungpinang Pos, Fajar Makasar, Serambi Indonesia, Majalah Simalaba, Majalah Hadila, Majalah Suara Muhammadiyah, Tabloid Nova, IDN Times, Sportourism.id, Puan.co, Nyontong.Com, takanta.id, galeribukujakarta.com, SastraPurnama.Com, Simalaba.Net, Jurnal Asia, dan Utusan Borneo Malaysia. Kontak: ffarisalffaisal@gmail.com / 085 224 107 934.
___________________________________________________________________


«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama
 
Copyright ©2018 | Hari Puisi | All Rights Reserved | Publisher: Yayasan Hari Puisi
infoharipuisi@gmail.com