Info
Maman S. Mahayana: Puisi Bukan Sekadar

Maman S. Mahayana: Puisi Bukan Sekadar

Info Hari Puisi - MAMAN S. Mahayana, anggota dewan juri Anugerah Buku Hari Puisi Indonesia 2014, diwawancarai oleh Sastra Digital, tentang penjurian, proses pemilihan buku, puisi Indonesia, kepenyairan, harapan pembaca, dan lain-lain. Berikut petikannya:
Bagaimana sistem kerja penjurian lomba buku puisi terbaik Festival Hari Puisi Indonesia (FHPI) 2014?
Penjurian untuk memilih buku puisi yang berhak menerima anugerah Hari Puisi Indonesia (HPI) dimulai lewat ketentuan yang sesuai persyaratan: (1) antologi perorangan, (2) tahun penerbitan, (3) memiliki ISBN atau barcode, (4) menggunakan bahasa Indonesia, (5) diterima panitia sebelum batas waktu yang ditetapkan, (6) setiap judul buku puisi dikirim kepada panitia sebanyak empat eksemplar, (7) buku yang dikirim belum pernah mendapat anugerah atau hadiah dari pihak mana pun, (8) tidak sedang diikutkan lomba lain, (9) karya asli, bukan karya terjemahan dari bahasa asing atau bahasa daerah, (10) meskipun syarat teknis ini terpenuhi, jika dalam buku puisi itu ada komentar, kata pengantar, atau endorsemen salah seorang juri, maka buku puisi tersebut, gugur demi objektivitas.
Jika persyaratan teknis terpenuhi, buku dikirim ke masing-masing juri untuk dinilai. Setiap juri punya hak mutlak untuk menerima atau menolak pilihan juri lain. Meskipun demikian, setiap juri menghormati kredibilitas dan kapabilitas masing-masing. Oleh karena itu, langkah awal adalah masing-masing juri memilih 10 buku puisi sebagai nomine.
Jika ketiga juri memilih satu atau beberapa buku yang sama, maka buku puisi tersebut secara otomatis masuk 10 besar untuk nanti dipilih lagi menjadi enam besar. Langkah ini dilakukan demi efektivitas kerja dan efisiensi waktu mengingat juri harus membaca dan memilih 120 judul buku. Tahun lalu malah jauh lebih banyak lagi. Urusan perdebatan, dilakukan pada saat penentuan 10 besar yang mengerucut pada enam besar, dan kemudian memilih satu buku puisi yang dianggap layak dan pantas mendapat anugerah HPI. Jika dua juri memilih satu atau beberapa buku yang sama, maka buku puisi tersebut secara otomatis masuk 10 besar untuk nanti dipilih lagi menjadi enam besar.
Meskipun demikian, juri yang tidak memilih buku tersebut berhak setuju atau tidak setuju berdasarkan argumentasinya. Hasil perdebatan itu bisa menjadikan buku itu dikeluarkan sebagai nomine 10 besar, atau bisa juga tetap masuk 10 besar. Dari 10 nomine itu disepakati enam nomine, dan dari enam nomine itu dipilih satu buku puisi yang dianggap pantas dan berhak menerima anugerah Hari Puisi Indonesia. Untuk menentukan 10 nomine dan enam pemenang, dewan juri melakukan rapat dan masing-masing mengajukan pilihannya serta argumen yang mendasarinya. Terbuka kemungkinan terjadinya perdebatan dan kompromi.
Dari perspektif konsep estetika dan kebaruan, bagaimana MSM melihat lomba buku puisi terbaik FHPI tahun ini?
Pada dasarnya kebaruan yang coba ditawarkan para penyair dalam pemilihan anugerah Hari Puisi—jadi bukan lomba atau sayembara—tidaklah terlalu radikal, eksperimental, atau eksploratif. Konsep estetik mereka masih bertumpu pada konvensi puisi dengan menonjolkan sarana puisi berupa metafora, simbolisme, paradoks dan sarana puisi lainnya. Jadi, nyaris tak dijumpai usaha kebaruan berkaitan dengan penggalian atau eksplorasi bahasa.
Yang cukup menonjol adalah penerjemahan sebuah tema menjadi kesatuan yang tampak dari satu puisi ke puisi lainnya, sehingga kesannya buku puisi itu disusun dengan mengusung satu tema tertentu. Buku puisi itu jadinya bukan sekadar buku kumpulan puisi, melainkan buku yang di dalamnya memperlihatkan kesadaran wawasan estetik yang berdasarkan keseluruhan puisi. Wawasan estetik, sarana puitik, dan eksplorasi bahasa, tampak saling mendukung dan komplementer.
Mengangkat tema yang bersumber dari kultur leluhur atau problem masyarakat kota, misalnya, disajikan sebagai sebuah wacana utama yang fondasinya berasal dari keseluruhan puisi yang terhimpun dalam buku itu. Dalam konteks ini, buku antologi puisi itu hadir utuh sebagai sebuah pesan estetik yang dibangun dengan kesadaran pada konsep puisi dengan segala sarana puitiknya.
Dari perspektif kualitas sastrawi, apakah buku-buku puisi yang diikutkan dalam FHPI tahun ini telah bersesuaian dengan cakrawala harapan dewan juri?
Semangat Hari Puisi Indonesia adalah pemberian apresiasi pada puisi sebagai kerja penyair yang tidak sekadar. Penyair bukanlah profesi sebagai penulis puisi an sich, melainkan menulis puisi dengan pemahaman dan pemaknaan atas kebudayaan dan problem sosial dan bangsa, bahkan juga problem kemanusiaan. Jadi ada kategori orang yang menulis puisi sebagai kerja iseng atau sekadarnya atau tanpa kesadaran pada substansi dan ruh puisi yang memberi inspirasi, yang mengungkapkan kegelisahan kultural, dan yang memperkaya bahasa.
Mereka –para penyair—dengan kesadaran itu, perlu diberi apresiasi selayaknya dan peranannya perlu ditempatkan secara proporsional. Jadi yang terutama adalah pemberian apresiasi itu. Bahwa kemudian mereka menampilkan karya-karya yang berkualitas, maka mereka itulah yang lebih layak mendapat penghargaan. Jadi, kualitas sastrawi ditempatkan sebagai akibat dari kesungguhan mereka menulis puisi. Bagi kami—dewan juri—jika boleh mewakili horison harapan dewan juri—kesungguhan menulis puisi bukanlah pada usaha merumit-rumitkan kalimat secara sintaksis atau metafora yang maknanya hanya diketahui oleh diri penyairnya sendiri dan oleh tuhan.
Puisi yang baik—meski cenderung sebagai puisi gelap— tetap mempertimbangkan adanya semacam lanjaran yang memungkinkan pembaca dapat masuk dan menyelami dunia puisi yang bersangkutan. Tambahan pula, Hari Puisi Indonesia tidaklah dimaksudkan sebagai hari para penyair belaka. Jadi, HPI mesti menjadi milik masyarakat, milik bangsa, siapa pun dan dengan profesi apa pun. Bahwa yang terlibat sebagian besar adalah penyair, ya tentu saja lantaran para penyair punya tanggung jawab moral dan tanggung jawab budaya untuk melegitimasi HPI sebagai bentuk pengakuan pada profesi penyair dan peranan puisi dalam kehidupan bangsa ini.
Demikian, pemberian anugerah HPI untuk buku puisi sama sekali tidak didasarkan pada horison harapan dewan juri, tidak pada nama-nama yang sudah mapan, tidak juga pada faktor usia dan pertemanan. Anugerah HPI juga tidak mempertimbangkan semangat arisan, yaitu memberikan anugerah itu kepada mereka yang belum (pernah) menjadi pemenang. Iverdixon Tinungki, misalnya, tahun lalu masuk enam besar, dan tahun 2014, juga bukunya masuk enam besar.
 Apakah cakrawala harapan dewan juri yang dimaksud dalam pertanyaan nomor 3 dapat dipandang mewakili cakrawala harapan pembaca dan peminat puisi Indonesia pada umumnya?
Horison harapan dewan juri tidak berpretensi mewakili horison harapan pembaca atau peminat puisi. Dewan juri memilih buku puisi dan memberi anugerah HPI atas dasar kualitas buku puisi itu sendiri. Jadi, dewan juri tidak berpretensi membangun model estetik tertentu. Biarlah para penyair bekerja keras dengan caranya masing-masing menelorkan puisi yang tidak sekadar. Bukankah kita akan dengan mudah menemukan buku puisi yang sekadar terbit, dan buku puisi yang sungguh-sungguh dikerjakan dengan sangat serius, memperlihatkan wawasan estetik penyairnya, dan kesadaran melakukan eksplorasi bahasa bukan dengan cara merumit-rumitkan atau menjungkirbalikkan sintaksis.
Menurut MSM, sebagai seorang kritikus dan peneliti sastra yang telah bertahun-tahun terlibat dalam banyak penjurian serupa, apakah kelebihan dan kekurangan lomba buku puisi terbaik FHPI?
Kelebihan: secara kuantitas, buku puisi yang dipilih untuk mendapatkan anugerah HPI adalah karya-karya dari berbagai kalangan dan profesi. Ada guru, dosen, pengangguran, kiai, pengacara, pensiunan, dan seterusnya. Dilihat dari sudut ini, pemasyarakatan HPI sudah memperlihatkan hasil yang positif dan menggembirakan. Artinya, puisi tidak lagi sebagai milik para penyair atau yang merasa dirinya penyair. Siapa pun punya hak untuk menulis puisi dan mendapat predikat sebagai penyair.
Secara kualitas, buku-buku puisi itu belum secara merata menunjukkan kerja yang sungguh-sungguh dalam menulis puisi. Masih banyak—bahkan di antara mereka yang dianggap sebagai penyair—menulis puisi dengan kesadaran “main-main” atau sekadarnya itu. Maka, ada begitu banyak buku puisi yang cuma menghimpun 20-30 puisi. Meskipun kriteria ketebalan buku puisi tidak menjadi hal utama dalam penilaian, setidak-tidaknya kini zamannya sudah bukan lagi zaman Chairil Anwar. Cara itu juga sebagai salah satu pertimbangan—meski bukan yang utama dan penting—untuk menghindari kesan “nyicil”: sekarang terbit buku puisi yang menghimpun 20-30 puisi, tahun depan terbit buku puisi lain dengan jumlah puisi yang seperti itu. Lain halnya jika keseluruhan puisi itu memang memperlihatkan kualitas dan kesungguhan penyairnya dalam melakukan eksplorasi bahasa.
Kelemahan umum adalah penerbitan buku puisi itu terkesan sekadar ingin meramaikan HPI dan siapa tahu mendapat anugerah. Maka, tidak begitu jelas, apakah buku puisi itu menyebar ke masyarakat, atau cuma diterbitkan sendiri dan dibaca sendiri. Apakah buku yang mendapat anugerah HPI itu juga dengan mudah dapat dibeli oleh masyarakat luas atau cuma diterbitkan secara terbatas? Kalau itu yang terjadi, maka HPI baru menyentuh masyarakat yang gemar menulis puisi. Demikian jawaban saya.
Sumber: Sastra Digital, Edisi Khusus M. Anton Sulisyo, Agustus, 2014 melalui www.haripuisi.com