HARI INI

14 Agustus 2018

Slamet Sukirnanto: Mengenang Penyair yang Merawat Kesusastraan Indonesia


Oleh Sihar Ramses Simatupang

Hanya rawa/Aku ingin bicara/Roh padang terbuka/Merintih ke angkasa.//

Hanya rawa/Dirimu di sana/Cermin tubuh dan jiwa/Makin melebar/Membelah luka.//

Jarak waktu antara periode 1960-an hingga sekarang yang setengah abad lebih, membuat kenangan generasi milenial ketiga pada kisah prahara politik, ideologi dan kebudayaan hanya menyisakan dokumentasi yang tercatat di buku sejarah. Di dalamnya, tentu saja termasuk peristiwa Manifestasi Kebudayaan dan Lembaga Kebudayaan Rakyat yang keras menentangnya.

Slamet Sukirnanto, penyair yang berpulang 23 Agustus 2014 pada usia ke 73 tahun adalah sastrawan Angkatan 1966, sebagaimana halnya kita mengenal sosok Taufiq Ismail, Wahid Situmeang, dan banyak lagi sastrawan lainnya.

Sebelum tahun 2010, Slamet Sukirnanto sering terlihat dalam aktivitas kesenian di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Lelaki bertubuh kecil dan berambut pendek itu tampil dengan gaya sederhana. Pakaiannya rapi, lebih suka mengenakan kemeja ketimbang kaus oblong, sama sekali tak mengesankan sosok yang “tak hanya” pernah mengisi kebudayaan Indonesia, tetapi juga sejarah kebangsaan dan politik Indonesia di masa silam. Dialah salah satu sastrawan yang pernah mengukir sejarah Manifestasi Kebudayaan.

Seperti dikatakan sastrawan Eka Budianta lewat surat elektroniknya, "Slamet Sukirnanto tidak pernah jaga gengsi, apalagi jaga jarak dengan sastrawan muda atau penyair marginal. Saya senang bersamanya membantu beragam acara Komunitas Sastra Indonesia di Tangerang.”

Kepergian Slamet Sukirnanto, seketika mengurut kembali puisi-puisinya. Buku puisinya: Kidung Putih (1967), Jaket Kuning (1967), Gema Otak Terbanting (1974), Bunga Batu (1979), dan Catatan Suasana (1982).

Ciri khas karya penyair ini selain lembut nuansanya, plastis, juga kerap mengangkat berbagai lokasi alam setiap dia berkeliling mengunjungi wilayah baru di Indonesia. Petikan teks di atas adalah bagian dari puisinya yang berjudul “Hanya Rawa” yang ditulis dengan titimangsa Banjarmasin, Mei 1979. 

Karya Slamet Sukirnanto menjejak sendiri di tengah protes blak-blakan seperti disuarakan Taufiq Ismail atau sajak-sajak liris Sapardi Djoko Damono. Puisi-puisi Slamet kadang tampak simbolik, meski masih terang mengacu pada situasi nyata yang dihadapi publik.

Dengan demikian, kendati ada terasa bentuk liris dan kontemplatif pada puisinya, Slamet tetap tak menihilkan kondisi sosial-politik yang terjadi di luar dirinya. Hal ini bisa jadi dipengaruhi jejak perjalanannya.

Putra dari pelukis R Goenadi itu juga pernah aktif menentang Orde Lama, antara lain lewat kumpulan sajaknya dalam bentuk stensilan yang berjudul “Jaket Kuning” (1967).

Ia pun pernah menjadi anggota DPRGR dan MPRS sebagai wakil mahasiswa pada 1967-1971. Fenomena ini dilihat Eka Budianta sebagai peran pentingnya dalam perpuisian Indonesia “mengesahkan sastra di kancah politik. Ia terpilih menjadi anggota MPR(S) karena artikulasinya sebagai penyair muda sekaligus mahasiswa pejuang."

Hal itu sangat berguna sebagai legitimasi untuk sajak-sajak lain sebagai alat perjuangan bagi angkatan 1966. Sejak saat itu puisi selalu dipakai untuk berdemo, unjuk-rasa, pidato politik.
Maka bersama Slamet ada Taufiq Ismail, Mansur Samin, Goenawan Mohamad, dkk yang tampil membawa angin baru, zaman baru. Sebelumnya, politik bisa masuk sastra tapi tidak sebaliknya. “Sayang cuma sebentar - karena Pak Harto kurang memanfaatkan sastra untuk mengisi program pembangunan yang dipujanya. Jadinya - cuma fisik,” papar Eka lagi.

Slamet Sukirnanto, sebagaimana sastrawan lain dari kalangan mana pun, mulai LKN, Lesbumi, Manifestasi Kebudayaan hingga Lekra, adalah zamrud panjang sejarah sastra Indonesia yang tak bisa lekang dari catatan kebangsaan kita.

Ia penggerak kesusastraan, kesenian sekaligus kebudayaan Indonesia. Untuk itu, perlu lagi disitir pendapat Eka, setelah kematian sosok penyair yang satu ini. “Untuk generasi sekarang, sebaiknya tidak melupakan Slamet Sukirnanto. Orangnya bersih, tegas, dan tak banyak pamrih. Ia contoh pekerja seni yang sederhana, jujur, dan teliti. Semoga di antara anak muda ada yang siap meneliti karya-karyanya,” ujarnya.

Dalam pembicaraan tentang Slamet, sastrawan yang dijuluki Presiden Penyair Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri, menyatakan kesedihannya. "Slamet, kawan seperjuangan dan kepenyairan. Kami kerap tampil bersama dalam berbagai kegiatan sastra," ujar Sutardji. Ditambahkan pula, penting artinya mengenal Slamet Sukirnanto, agar masyarakat dapat menghargai dunia kepenyairan kita.

Penyair lainnya yang juga Angkatan 1966, Taufiq Ismail, mengatakan, Slamet adalah pelaku sejarah dan termasuk golongan muda di masa itu – termasuk Taufiq yang usianya 6-7 tahun lebih muda.

Menurut Taufiq, pengalaman Slamet bersama kawan yang sebaya dengannya itulah yang menempanya untuk menulis jaket kuning. Aktivitas Slamet di bidang politik dan kehidupan sosial memerlihatkan wawasan dan perhatiannya yang luas sekali pada masalah kebangsaan. “Tak terlupakan, dia juga merespon masalah sensitif di Indonesia, termasuk apa yang harus dilakukan bangsa ini lewat puisinya seperti pembauran dan toleransi. Dia gigih dan terus menerus melaksanakan kegiatan tersebut,” ujar Taufiq.

Buku dan Keluarga

Bagi putra Slamet Sukirnanto, Fajar Sidiq, pribadi penyair besar ini dapat akrab sebagai seorang bapak yang menyenangkan, figur orangtua yang hangat namun juga tetap tertib di dalam kehidupannya. Para penyair kerap mampir ke rumahnya, sebutlah penyair Leon Agusta, Sutardji Calzoum Bachri, hingga Rendra. Mereka sering mampir ke rumah Slamet sehingga anak-anak penyair yang beristrikan Bulkis Sukirnanto ini terbiasa dengan dunia kesenian.

Namun, yang unik, ayahnya itu melarang anak-anaknya menjadi seniman. Slamet bilang, dirinya tak ingin ada dua seniman di rumah ini. Namun, kenyataannya, Fajar yang diterima di Fakultas Hukum Universitas Indonesia, justru memilih kuliah di Komunikasi Massa di Universitas Sebelas Maret dan Institut Seni Indonesia Jurusan Seni Rupa di Surakarta. Berkarya seni rupa, malah kerap aktif sebagai pengamat dan kurator seni visual di berbagai tempat dan di berbagai karya perupa Indonesia. Takdir yang tak dapat dicegah sang ayah.

“Ayah saya menyerah. Akhirnya, mau tak mau dia menerima penampilan baru rambut gondrong saya yang kelihatan nyeniman waktu itu,” ujar putra keenam Slamet ini, ketika diminta mengenang mendiang ayahnya.

Kecintaannya pada dunia pendidikan dan keilmuan ternyata dibawa Slamet Sukirnanto ke dunia keluarga. Buku-buku di dalam rak rumah berisikan banyak bidang keilmuan dari filsafat, buku sastra, hingga biografi. Buku-buku itu pun disosialisasikan kepada enam anaknya.

Hal itu diakui Fajar, "Ketika itu, bapak menjejali kami buku-buku biografi. Mulanya kami tak mengerti kenapa itu penting, ternyata biografi akan berefek, agar kita mencintai dan bangga kepada tokoh masa lalu. Termasuk keberhasilan mereka, para penemu, tokoh budaya dan teknologi,” tutur Fajar.

“Bapak tak pernah memaksa, tapi dia menjadikan rumahnya sebagai jendela dunia. Dia menggiring anaknya ke toko buku atau lapak buku loakan. Saya terbiasa ke Jalan Kramat (lapak buku bekas-red) untuk menemani ayah saya,” katanya.
   Begitulah sosok penyair Slamet Sukirnanto dan kita mengenangnya sebagai penyair yang menyadari peran kepenyairannya dalam kehidupan berbangsa!

12 Agustus 2018

Puisi Irawan Sandhya Wiraatmaja


MUKADIMAH

Kali ini kita boleh menikmati puisi “Giang, Surat itu,” karya Irawan Sandhya Wiraatmaja. Puisi ini termuat dalam buku antologi Giang Menulis Sungai, Kata-kata jadi Batu (Jakarta Kosa Kata Kita, 2017), yang kemudian mendapat Anugerah Hari Puisi 2017.

Sengaja puisi itu yang dipilih dan disajikan di sini. Tujuannya, agar kita dapat mencermati salah satu teks puisi dalam antologi itu secara lengkap. Dengan cara begitu, terbuka peluang hadirnya perspektif dan tafsir lain. Implikasinya akan lahir pula makna lain.
​Pada dasarnya, setiap karya sastra –dalam hal ini, puisi—bersifat unik, khas, dan berbeda satu sama lain. Karakteristik itu dimungkinkan lantaran setiap kata dalam puisi, selain bermakna denotatif, makna leksikal sebagaimana yang tercatat dalam kamus, juga menyimpan makna konotatif, makna kiasan yang menawarkan arti lain. Metafora selalu menyembunyikan makna konotatif.

Mengingat metafora merupakan salah satu unsur penting dalam puisi, maka puisi yang baik—puisi yang sebenar-benarnya puisi—akan mendorong pembaca mencantelkan teks puisi dengan pengalaman spiritual, keluasan wawasan, dan kedalaman menafsir dan memaknai.

Puisi “Giang, Surat itu” dibangun dengan kekuatan metafora yang tak lazim. Dalam beberapa larik puisi itu, ketaklazimannya menegaskan perbedaan dengan kecenderungan penyair lain yang memanfaatkan benda-benda alam sebagai leksem menyusun metafora. Meski begitu, diksi yang ditawarkan Irawan Sandhya Wiraatmaja, tidaklah berada dalam lorong gelap. Di sana ada clue, isyarat, tanda, trik atau kata kunci sebagai celah memasuki dunia puisinya. Di situlah puisi itu tidak tergelincir pada ruang gelap gulita, tetapi tidak juga memberi cahaya yang terang benderang.

 Jadi, ia berada dalam wilayah remang-remang: agak gelap dan tak benderang.
Tentu saja isyarat atau pesan dalam Mukadimah ini tidak serta-merta mesti dipercayai. Skeptisme perlu dipelihara agar kita tidak terjerumus pada golongan orang yang taklid buta. Tak termasuk pula sebagai umat yang memberhalakan konon kabarnya sebagai sumber rujukan. Mukadimah sekadar lanjaran belaka. Selebihnya terserah Anda.
Selamat menikmati!

Tim Redaksi



Irawan Sandhya Wiraatmaja 
GIANG,  SURAT ITU

1//
Giang,  menuju hilir kita mengayuh surat itu
Di antara orang-orang yang duduk di perahu satu-satu
Kaki-kakinya membagi ruang, dan arus waktu
Mengalir menyusuri tubuh  sungai yang pucat dan kotor

Mencari napas di lalu lalang perahu yang bergoyang
Tak akan karam, katamu. Karena surat itu adalah
Kehidupan yang selalu ditulis dan dibaca sebagai
Kitab perjalanan yang tak pernah tamat-tamat

Tapi kau selalu tersenyum
Membuka kembali surat-surat yang ada di mata-mu
Sebagai cerita yang panjang untuk istri
Yang menunggu di rumah: berbagi senyap dan hati

Untuk berlayar dengan perahu yang tua
Sebelum surat-mu selesai, dan kau masukan dalam kenangan.

2//
Giang, surat yang ditulis masa silam, di antara rimbun
pohon bambu di akar-akar  bakau menjadi napas
Dalam  jejak-jejak langkah  yang sembunyi
Di pinggiran sungai-sungai
Yang memanjang berliku-liku, dengan air coklat
Mengalir sampai muara, ketika ombak tidak sampai

Pada perahu kayu yang oleng, membawa tubuh kecil
Dengan tangan letih, gemercik kayuh membawa sauh
Hulu ke arah hilir, dan matamu seperti
Warna matahari yang terbelah di sela-sela daun
Bergoyang dimainkan arus yang tiba-tiba berputar
Dan kau terperangah oleh suara-suara cericit burung

Yang terbang memintas garis langit, di kaki laut
Tak pernah tercatat, dan tak selalu disebut
Sungai itu adalah kelahiran-mu.

3//
Jangan lupa kau tutup pintu  dalam  surat itu, Giang
Karena rumah-mu adalah kenangan
Yang selalu kau bawa dalam tas  yang kau sandang

Selalu kau menulis di daun-daun kelapa, yang bergayut
Sebagai helai dan halaman kitab, yang tak pernah luput
Untuk berbicara dalam bahasa yang kau pahami

Di atas garis langit, seperti tergambar matahari
Angin yang berdesir, dan sebuah senja
Yang  nanti akan menjadi buah anak-anakmu

Sebelum waktu menutup kelambu, di mana
Kau selalu berbaring, bergelinjang dengan napas istrimu
Ketika anak-anak bermain di bawah pohon, yang daun-daunnya

Memerah dan menguning di bawah semburat cahaya
Di tanah yang basah dan merekah: dan kau masih menulis.

4//
Jendela surat itu harus kau buka, Giang
Dan kau akan mendengar suara-suara rumpun  bambu
Bergesekan dengan masa lalu

Biar kau tulis kata-kata yang menghampir pada
Musim yang berdesir, di balik perahu kayu yang membawa
masa silam  sebagai  jarak dari kenangan

yang menjadikan suratmu sebuah jejak
di antara tanah yang menggaris kehidupan: tua dan senyap 

5//
Suratmu yang menulis di sungai adalah air yang mengalir
Menghilir-hilir, di antara pohon bakau dengan daun-daunnya
Terkulai berjuntai di sela-sela cahaya matahari
Siang yang terik, di tengah riak dan  suara kerinduan

Yang kau tulis dalam surat-surat yang tak pernah terkirim
Ketika kau masih mengayuh sampai ke tepian
Waktu yang menjadi arus menuju ke laut 
sampai ke tongkang perahu

Dan kau menarik tubuh, di ujung kemudi untuk membawa
Anak-anak angin kembali mendesirkan musim.

6//
arus muara, dari ujung laut yang membuka
mengalir suratmu membawa riak-riak kecil, sebelum
ada yang mengapung di atas air, hilir ke sebalik daun bakau

wajahmu tirus, di bayang-bayang matahari, yang terpejam
dalam waktu muram
ada yang temaram, dalam catatan surat, sepotong kalimat

yang kau bawa pulang ke rumah di kampung yang pernah hilang
sebuah kerinduan yang harum kekekalan, tanah yang coklat.

7//

Giang, tak ada rumahmu dalam surat  yang ditulis
di halaman depan, sebuah beranda kayu untuk masa lalu

mungkin kau lupa, karena terlalu sering
kau buka pintu dan jendelanya.  tak ada kata-kata

yang bisa jadi suatu ingatan, yang membuatmu ingin menulis
di lembaran kertas yang tua dan berwarna coklat

seperti  air sungai di depan matamu: berabad-abad mengalir
sebagai waktu yang memintas,  tak pernah kembali melihat

ke belakang, di antara daun-daun rumpun  bambu dan pohon
bakau yang berderetan seperti rumah dari masa silam

ketika kau masih anak-anak berlarian.....

8//
sudah malam Giang. Waktu pun telah larut di dalam
cangkir kopi yang hitam. Sudah terasa di belahan lidah
yang memanjang usia. Dan kau tersenyum

ketika menulis surat yang hampir selesai
sambil mematut kalimat di depan kaca: retak dan buram
matamu serupa lampu-lampu jalanan. Semakin temaram

berpijaran membagi cuaca yang sampai
di antara etalase bertubuh perempuan, dan kau tertawa
mengalirkan arus kota dalam kelelapan hotel-hotel.

9//
Giang, jangan kau lahirkan kembali anak-anak
di kota yang penuh asap dan ledakan
peperangan yang membakar  tubuh kemanusiaan

Diam  saja sudah. Tidak ada lagi api untuk membenci
agar bumi menjadi rumahmu yang teduh
untuk  menulis surat-surat kerinduan. Yang lama

tersimpan  dalam tumpukan
helai-helai waktu dan musim yang luruh
dari kitab nenek moyangmu

Sejarah dalam tubuhmu adalah luka
di jantung yang menjadi catatan muasal
rahim yang terkoyak di abad-abad lalu

Februari 2016


BIODATA
Irawan  Sandhya   Wiraatmaja 
Lahir tanggal 21 Juni di Jakarta. Pendidikan S3 diselesaikan di Universitas Indonesia. Korrie Layun Rampan  memasukan penyair ini ke dalam Angkatan 2000. Menulis sastra, kebanyakan puisi dan  pernah menulis cerita pendek (cerpen), esei sastra dan artikel sosial politik dan ekonomi. Karya-karyanya telah dimuat di berbagai surat kabar dan majalah terbitan Jakarta, Bandung, Banjarmasin, Padang, Tanjung Pinang, Semarang dan Yogyakarta, seperti Suara Karya, Suara Karya Minggu, Berita Buana dan Buana Minggu, Prioritas, Harian Merdeka dan Merdeka Minggu (alm), Rakyat Merdeka, Harian Pelita, Harian Terbit, Sinar Harapan, Suara Pembaruan dan Suara Pembaruan Minggu, Republika, Jurnal Nasional, Pikiran Rakyat, Indo Pos, Koran Tempo, Media Indonesia, Kompas, Haluan, Tanjung Pinang Pos, Majalah Panji Masyarakat, Zaman, Hai, Gadis, Wahyu, Buletin Sastra Kanal, Horison dan Basis. Sajak-sajaknya terkumpul dalam antologi bersama Sketsa Sastra Indonesia, Pendopo, Forum Penyair Muda Jakarta, Puisi Indonesia (1997), Angkatan 2000 (Gramedia, 2000), Palagan Sastra (2016), Antologi Puisi Matahari Cinta Samudera Kata (Hari Puisi 2016), Kopi Penyair Dunia (2016), Rumahku Jalan-Jalan Macet (2017), Cimanuk, Di mana Burung-Burung Kini Telah Pergi (2016), Lelaki Bercelana Kulot di Sebuah Pesta Pernikahan (Oase, 2017), Sejuta Suara Yang Anarki Dalam Nadi ( Oase, 2017), Ingatan dan Kenangan ( Sigi Media, 2016), Aku Pulang Ketika Segalanya Pergi (Kaifa, 2017), Penyair Nusantara (SSAN Publisher, 2017), Balada: Tak Akan Habis Dilahap Hari (Genio, 2017), Negeri Di Awan (2017), Batik Si Jelita (2017), Perempuan Era Teknologi Dalam Puisi (2018), Ketika Kata Berlipat Makna (2018), The First Drop of Rain (2017), Negeri Bahari (2018), Pesona Antologi Puisi 7 Negara (2018). Wewangian Kembang (Malaysia, 2018).  10 Nominator Kekata Kawindra Award 2016 dan CSH Award (2017).   Pemenang ke 2 Bebuku Publisher (2016) dan Pemenang ke 2 sayembara penulisan puisi Hari Bumi 2017 (Fam Indonesia).
Kumpulan puisi tunggalnya Anggur, Apel dan Pisau Itu (Teras Budaya, 2016), Dan Kota-Kota Pun ( Kosa Kata Kita, 2016), Giang Menulis Sungai, Kata-kata Jadi Batu ( Kosa Kata Kita, 2017) dan Air Mata Topeng (Kosa Kata Kita, 2017)  serta Serpihan Esei Sastra dan Sosial Politik, Teror Di Antara Dua Ideologi (Kosa Kata Kita, 2016). Buku Puisinya, Giang Menulis Sungai, Kata-kata Jadi Batu ( Kosa Kata Kita, 2017) memenangkan Anugerah Puisi Terbaik HPI Tahun 2017. Kumpulan Puisi terbarunya, Ideologi Ibu dan Baju yang Koyak (2018). Sejak awal tahun 2014 menjabat  sebagai kepala ANRI. Tahun 2014-2016 menjabat sebagai President of Sarbica (Southeast Asian Regional Branch of International Council on Archives).  Di samping itu pernah juga mengajar di Universitas Indonesia, Universitas Pajajaran, STIA-Lembaga Administrasi Negara, STIE IPWIJA, Universitas Az-Zahra dan STIMA Yaksi, Jakarta.

Pembahasan Orang-orang yang Kenes

oleh Asrul Sani

MENULIS tentang kesusastraan, ialah menulis perihal derita, kegembiraan, kepahitan, dan kemanisan yang telah dialami, pengalaman yang telah jadi kesadaran dan kemudian beroleh bentuk dalam kata yang membentuk kalimat dan kalimat yang menjadikan karangan. Tiada yang dapat mengingkari bahwa kesusastraan dan kata adalah kulit dan manusia. Kita tiada akan dapat menulis tentang kesusastraan jika pengarang-pengarang menyelesaikan deritanya dengan sebuah keluh atau ia berurai air mata ataupun mengepalkan tinju.Karena bagaimana murni pun perasaan yang menjadi sumber air mata itu, ia tak akan lebih dari air mata biasa: belum kesusastraan. Setiap puisi terdiri dari kata, kata yang liar dan kasar, kemudian dijinakkan oleh penyair dan dipatuhkannya kepada kehendaknya.

Dan air mata penyair? Itu adalah urusannya sendiri. Jika baru tinggal pada air mata, publik tiada hak mencampurinya, karena ia hanya sekadar menjalankan kehidupan pribadinya. Air mata itu baru penting jika ia telah jadi puisi atau prosa. Pengarang baru jadi penting kalau ia mengarang. Jika pekerjaan ini tidak ia lakukan, maka tidaklah ia mencampuri kehidupan orang lain dan karena itu, tidak akan kita campuri. Mungkin sekali seorang pengarang adalah manusia yang termasyhur. Tetapi jika selidiki apa sebetulnya arti kemasyhuran seseorang, maka akan nyatalah bahwa ia tidak lebih dari suatu pendapat umum atau suatu kepatuhan umum yang tidak diucapkan terhadap suatu pendapat, suatu zaman, suatu mode. Ada kata lain yang dekat sekali dengan kata ini, tapi sering orang kacaukan dengannya. Kata itu ialah “penghargaan”, dan kata ini lebih lagi bisa dipercayai karena penghargaan terhadap seorang sastrawan adalah soal orang-seorang, dan darinya tak dapat diceraikan sebentar juga hasil pekerjaan pengarang itu, tulisan-tulisannya.

Jika orang menulis perihal kesusastraan, maka orang dapat menulis untuk dua golongan: untuk pengarang, dan untuk orang banyak. Untuk pengarang, karena ia dengan menulis telah mencampuri kehidupan kita. Dan karena itu, kita mau menyatakan kepadanya apakah ia dalam perbuatannya itu telah berlaku sewajarnya. Apakah ia jujur, apakah betul dasar kenyataan yang ia kemukakan dan sebagainya. Kita menentangnya atau menyertainya, karena ia menulis. Yang ditentang dan disertai  ialah tulisannya.

Kita menulis untuk orang banyak karena kita mengakui bahwa orang banyak itu penting. Publik ini juga penting bagi seniman yang beranggapan bahwa tujuannya ialah hasil pekerjaannya itu sendiri, atau seniman yang beranggapan seni untuk seni.  Sebab sebuah karangan belum lagi mencapai tujuannya jika ia baru berbentuk buku dan belum dibaca. Seperti juga sebuah lukisan belum lagi mencapai tujuannya, jika ia baru berbentuk benda dan belum lagi dilihat. Karena setiap hasil seni mengandung “beban”, dan “beban” ini dikandungkan untuk  dikeluarkan kembali. Jika dilihat dari sudut ini, maka benarlah bahwa dengan perjuangan yang telah ia lakukan dan ketinggian tingkat kejiwaannya. Watak Awal atau dokter dalam buku Belenggu, atau Raskolnikov atau Josef K. tidak akan beroleh bentuk dan hidup jika pembaca tak dapat mengeluarkannya dari perumusannya.

Pengeluaran isi hasil seni adalah rahmat karena di dalamnya terkandung keterharuan dan kenikmatan. Ia adalah “nafkah” kita waktu membaca buku. Kritik kesusastraan dalam hal ini membenarkan hak hidupnya sebab ia tidak saja menyatakan dan menyebarkan kesusastraan yang telah dibuat itu, tapi lebih-lebih karena ia adalah semacam pasukan-pasukan yang termaju ke depan yang akan membebaskan daerah-daerah baru bagi kita dan dengan demikian mempertinggi nafkah kita waktu membaca hasil kesusastraan. Majalah-majalah kesusastraan baru dapat menghalalkan kehidupannya jika ia mempunyai kecondongan-kecondongan seperti yang dilakukan oleh pasukan-pasukan terkemuka ini. Ia membantu orang banyak membentuk kesusateraan.

Tetapi, baik kita menulis bagi golongan pertama, baik bagi golongan kedua, selamanya yang menjadi pokok pangkal ialah yang telah dituliskan. Jadi, kita senantiasa berada di belakang pengarang, karena tiada mungkin dan tiada ada gunanya kita mendahului pengarang dalam membicarakan kesusastraan. Saya mengikatkan segalanya pada kata, kepada yang dituliskan, malahan samapi saat ini ia saya pentingkan benar. Sebabnya ialah karena dalam kritik kesusastraan kita ada yang terbalik. Seperti juga dalam kehidupan politik, di mana tokoh lebih penting daripada pekerjaan, demikian juga kritik kesusastraan kita (sekiranya itu ada) lebih berpusat kepada pengarang dan tidak kepada karangan. Kalau orang mau membahas kesusateraan, maka yang orang pertengkarkan ialah pengarang dan sering bukan apa yang telah ia karang.

Jika seseorang menyerang pengarang lain, maka umumnya karangannya tidak lebih dari kekenesan dirinya sendiri. Barangkali ia tidak begitu lembut seperti biasa kita temui pada perempuan-perempuan pesolek. Ia mungkin sangat lantang dan keras. Tentu. Karena ia seorang yang “kesusahan” , karena ia sedang diterorisir kekenesannya sendiri. Tiada akal yang lebih baik untuk memuaskan keinginan bersolek ini daripada menyerang orang lain dan mencoba menjaga dalam perkelahian ini supaya pakaian sendiri jangan kotor. Orang ini mencoba menyelamatkan diri di balik kelancaran tulisan dan dengan itu mengelakkan permintaan orang kepada alasan. Pertengkaran ini adalah pertengkaran burung merak. Merak yang memakai bulu burung lain karena untuk menyatakan kecantikan dirinya sendiri ia perlu perbandingan. Untuk menyelamatkan diri sendiri diangan-angankannya sifat yang diserangnya, sifat-sifat yang dalam pembicaraannya tidak ia beri alasan.

Hanya dari sudut ini dapat saya lihat tulisan-tulisan Sitor Situmorang yang ia siarkan dalam Mimbar Indonesia (pelbagai surat) dan “Gelanggang” (pelbagai catatan), hanya dari sudut ini dapat saya lihat ucapannya yang mengatakan bahwa Jassin telah berlaku sebagai anak stambul dalam tulisannya “Selamat tinggal tahun 1952”. Hanya dari sudut ini dapat saya lihat ucapan Pramoedya Ananta Toer yang mengatakan bahwa para pembicara simposium di Amsterdam adalah pembicara-pembicara salon, hanya dari sini dapat saya lihat jika Jassin pada suatu saat dalam suratnya kepada saya yang kemudian ia siarkan dalam Zenith nomor dua tahun ini bahwa Rivai Apin adalah pengekor Camus. Segala yang mereka katakan itu tiada mereka beri alasan sama sekali, dan jika kita minta kepada mereka untuk mensitir bagian-bagian karangan pengarang-pengarang yang diserang, yang menyebabkan mereka beroleh pendapat seperti yang mereka tuliskan, maka saya kira tiadalah mereka akan dapat mengadakan. Jassin tidak dapat menyatakan karangan mana dari Rivai Apin yang dapat menunjukkan bahwa ia dalam tahun 1953 tidak akan bisa hidup jika tidak ada Camus. Apakah Saudara Situmorang dapat menunjukkan dalam tulisan-tulisan Asrul Sani, bahwa jika ia berbicara tentang keisengan adalah ia membicarakan keisengan dilihat dari sudut memiliki kulkas? Tiada seorang pun yang akan keberatan jika hal itu dituliskan dalam surat pribadi kepada seorang kawan. Di sana berlaku hukum-hukum lain. Tetapi jika surat ini disiarkan, maka sifatnya berubah sudah. (Demikan juga halnya dengan surat saya kepada Jassin yang ia siarkan dalam Zenith dengan tak ada persetujuan saya sendiri.

Karangan ini tidak saya maksud untuk menyambut berbagai hal yang dikemukakan oleh Saudara-Saudara Situmorang atau Ananta Tour atau siapa pun. Saya sebut nama mereka sebagai contoh dari keadaan yang ada dalam kehidupan kesusastraan kita sekarang ini. Permainan kekenesan dengan tak ada alasan ini telah begitu jauh, sehingga tak memperjernih pandangan kita terhadap kesusastraan. Orang barangkali akan mengatakan bahwa ini adalah suatu praktik dari vorm en vent (generasi Mennoster Braak di negeri Belanda) yang diperjauh. Tapi biarpun begitu, hal ini cuma bisa berlaku jika pengarang menulis. Ia didasarkan pada tulisan, tulisan yang menjadi hak milik orang banyak. Jika Dirk Coster tidak menulis, maka du Perron juga tidak akan bicara tentang dia. Kita bicara tentang Chairil Anwar sebab ia menulis sajak. Dalam hubungan sajak-sajaknyalah akan kita cari di mana tempatnya dalam kesusastraan Indonesia, tidak dalam hubungan kehidupannya di Karawang atau Cikampek. Tentu pengetahuan tentang kehidupan yang ia jalankan akan memperjelas beberapa sajak-sajaknya bagi kita. Tapi tidaklah ia berubah tempat karena ia pernah tinggal di sana. Orang selalu mensenyawakan sajak-sajak Chairil dengan seorang revolusioner. Mungkin ia dalam kehidupannya, dalam perjuangannya, tapi dalam sajak-sajaknya ia adalah suatu contoh dari “konsekuensi kebebasan”, konsekuensi yang harus dijalankan setiap orang yang mulai sadar akan harga dirinya, kesadaran yang membawa sertakan kesunyian. Kesunyian yang disebabkan bebasnya ia dari dan belum bebasnya ia untuk.

Tapi bagaimanapun harga Chairil dalam kesusastraan ialah harga dari sajak-sajaknya sendiri. Tidak usah ikut beramai-ramai ke kuburan Raden Saleh untuk memastikan bahwa ia seorang pencipta bangsanya dan mengganti “Ridder dan sebagainya” dengan “nasionalis”. Barangkali ia memang nasionalis dan ia cinta kepada bangsanya. Dalam zaman ini sudah menurut cara-cara kini namanya itu, jika ia disebut pahlawan karena kita perlu pahlawan. Mau tidak mau ia harus jadi pahlawan karena ia sudah mati. Tapi ia pelukis. Atas nama ini ia masuk dalam sejarah. Oleh sebab itu, maka ia baru jadi orang besar jika telah nyata tempatnnya dalam seni lukis kita.

Dalam kesusastraan, orang harus diberi tempat atau dibuang sama sekali karena kegiatan-kegiatan kesusastraannya. Untuk ini kita harus mengemukakan alasan. Baik hal ini kita teliti kembali. Angkatan muda kesusastraan telah menyerang angkatan sebelumnya dengan sejadi-jadinya. Ia masih muda dan karena itu, pengetahuannya tidak cukup banyak. Tetapi ia tahu apa yang ia mau dan apa yang tidak ia suka. Yang ia tidak suka ini, ia kumpulkan dalam beberapa garis besar, dalam beberapa generalisasi, dan sesudah itu ia hanya memusatkan pikirannya kepada apa yang ia maui lagi. Senjatanya bukan alasan, tapi kegiatan. Akhir-akhirnya kesusastraan Indonesia sekarang ini terbiasa dalam kegigihannya ini. 
Sekarang juga masih gigih, tapi makin lama makin nyata bahwa dengan kegigihan ini saja ia belum lagi dapat melepaskan senjata seterus-terusnya. Orang tidak bisa dianggap angin, mereka punya tempat berdiri di bumi Tuhan ini. Bukan itu saja. Jika tiada lagi yang berani mengingkari kita, maka lucu sekali jika kita masih tinggal gigih. Kita akan kehabisan energi karena mengasyiki diri sendiri. Kita harus gigih dengan alasan-alasan yang lahir dari kenyataan-kenyataan, Pengeritik harus bekerja dengan kenyataan (tulisan atau ucapan yang diperuntukkan bagi umum) dan alasan. Kalau tidak, “percakapan” yang akan berlangsung adalah seperti percakapan berikut ini:

“Saya tahu siapa pengarang terbesar di negeri ini. Si Anu itu tidak penting sama sekali,”
“Siapa pengarang terbesar itu? Mengapa?”
“Ah! Saya segan berbicara tentang diri saya sendiri.”

Bahwa seniman seorang pesolek adalah soal yang biasa. Sungguhpun begitu tidaklah dapat dibiarkan jika ia menyinggung hak bersolek orang lain dan tidaklah ia menjalankan kesusastraan lagi jika ia mencoba memasukkan keinginannya untuk bersolek itu dalam hubungan-hubungan sosial. Ini cuma bisa terjadi jika pengarang lebih menghargakan kedudukan lain daripada mempergunakan mediumnya sendiri, jika pengarang lebih menyukai untuk menjabat kedudukan penting daripada melakukan pekerjaannya:mengarang.
                                           
                                                      Siasat, 4 Oktober 1953

11 Agustus 2018

Perjalanan Puisi Naratif

oleh Maman S Mahayana

Hari Puisi - Ada banyak cerita tentang tradisi puisi kita. Konon, sumbernya dari Eropa, khususnya Belanda. Muhammad Yamin memperkenalkan soneta. Ia lalu dianggap yang mengawali tradisi puisi Indonesia (modern). Sutan Takdir Alisjahbana (STA, 1946) menyebutnya puisi baru untuk membedakannya dengan puisi lama. Garis pemisahnya terjadi abad ke-20. Bagi STA, sebelum abad itu, puisi lama sebagai pancaran masyarakat lama, zaman jahiliyah, pra-Indonesia. Selepas tahun 1900, bergeraklah puisi (baru) Indonesia. Gagasan itulah yang membentuk dikotomi puisi lama—baru, tradisional —modern. Buku yang disusun Sapardi Djoko Damono (2003), Puisi Indonesia sebelum Kemerdekaan, mewartakan lain. Ia menguak sejumlah puisi abad ke-19.


Sapardi juga tidak menafikan kuatnya pengaruh Barat, “… yang menyebabkan para penulis puisi kita mempertimbangkan cara penulisan baru,” meski juga jejak pantun dan syair tidak dapat dihilangkan. Jika A. Teeuw (1967, 1980) dan pengamat sastra lain, mengabaikan khazanah sastra di surat-surat kabar dan majalah, Sapardi justru memanfaatkannya sebagai sumber data. Maka, terbentanglah benang merah perjalanan perpuisian Indonesia.
***
Penerbitan surat-surat kabar berbahasa Melayu dengan huruf Latin, sesungguhnya menandai keterdesakan tradisi penulisan Arab-Melayu di Nusantara. Memang, tradisi itu tidak seketika mati, tetapi lambat-laun ia terpinggirkan juga. Bahasa Melayu dengan huruf Latin, makin menyebar luas. Mereka yang menguasai bahasa Melayu dengan huruf Latin dengan sendirinya dapat memegang kendali arah perjalanan bahasa dan sastra Melayu. 


Dalam hampir semua surat kabar awal yang berbahasa Melayu, seperti Bintang Utara (Rotterdam, 1856), Slompret Melayu (Semarang, 1860), Biang-lala (Betawi, 1867), Bintang Djohar (Betawi, 1873) atau Tjahaja India (Semarang, 1886)—sekadar menyebut beberapa, pemuatan karya sastra laksana jembatan yang menghubungkan sastra bertuliskan Arab-Melayu ke aksara Latin. Itulah sebabnya, pemuatan karya sastra di surat-surat kabar menjadi bagian penting untuk menarik jumlah pembaca yang belum dapat melupakan khazanah sastra yang berkembang sebelumnya. Dengan begitu, pemuatan karya sastra dapat meningkatkan juga oplah surat kabar. Untuk itulah redaksi membuka peluang bagi pembaca mengirimkan tulisannya yang berupa apa saja. Di sana, kita berjumpa dengan berita, surat pembaca, ucapan selamat, hikayat, cerita, syair yang dimuat bersambung, atau teka-teki yang ditulis dalam bentuk pantun. 


Biasanya, redaksi sengaja memuat karya sastra yang sudah dikenal publik, terutama dari khazanah sastra Jawa, Melayu klasik atau terjemahan cerita Timur Tengah. Tetapi syair, pantun, dan cerita pandak—yang kini dikenal cerpen—sebagiannya berasal dari kiriman pembaca. Pada saat itu pengertian pantun dan syair (selanjutnya disebut puisi), sering dipertukarkan tempatnya. Akibat tiadanya ketentuan yang ketat itu, para penulis puisi, leluasa mengangkat berbagai persoalan. Ada ucapan tahun baru, pertanyaan tentang harga langganan, penyambutan ulang tahun koran bersangkutan, penerka (teka-teki), peristiwa sehari-hari atau kejadian aktual yang pernah diberitakan. Semuanya ditulis dalam bentuk syair atau pantun.


Dalam surat kabar Bintang Barat (2 September 1890), misalnya, diberitakan di lapangan Gambir ada perayaan ulang tahun Wilhelmina. Berita itu jadi lebih berkesan, karena ada beberapa bait puisi diselipkan di sana. Menyelipkan puisi dalam sebuah berita ketika itu memang lazim. Tujuannya, untuk menambah daya tarik bagi pembaca. Tetapi, tidak sedikit pula puisi yang ditulis dalam konteks tertentu. Dalam surat kabar Bintang Djohar (1873), Tjahaja India (1886), Bintang Barat (1890), atau Pembrita Betawi (1896), ucapan selamat Natal, Paskah, tahun baru, pengangkatan bupati atau kedatangan pejabat Belanda, ditulis dalam bentuk puisi. Ketika Gubernur Jenderal Mr. A.J. Duijmaer van Twist ke Tondano, Minahasa, Bintang Oetara (8 Mei 1857), memuat puisi (tanpa judul) khusus untuk itu. 


Sebelumnya, di surat kabar itu (5 Mei 1857) dimuat pula 35 bait puisi “Toewan Djendral, J. Merkus” untuk mengenang kematiannya. N.N., penulisnya, menceritakan prosesi penguburan Sang Jenderal. 

Pemuatan puisi itu, dalam banyak hal, menggambarkan situasi sosial zamannya. Puisi “Pantun Pembunuhan,” (Tjahaja India, 9 September 1886), misalnya, mengungkapkan peristiwa pembunuhan yang dilakukan seorang mandor di Jombang. Adapun puisi berjudul “Tjerita Kroe Residensi Bencoelen” yang ditulis Awoer Litjin (Pembrita Betawi, 5 November 1895) mengungkapkan peristiwa gempa bumi di Pasar Kroe, 20 Oktober 1895. 


Begitulah, cerita dan berita dalam puisi bukanlah hal baru. Sejak dulu, sastra memang berfungsi begitu. Rupanya, banyak pembaca menyukai model puisi naratif seperti itu. Maka diterbitkanlah puisi-puisi naratif dengan label syair atau pantun yang mengungkapkan berbagai persoalan sosial zamannya. Claudine Salmon (1985) menempatkan fase itu sebagai kebangkitan syair (1886—1910). Tetapi karena syair dan pantun hidup dan tumbuh di luar mainstream Balai Pustaka dan STA menambahkannya dengan konotasi negatif, perkembangan jenis puisi ini seperti sudah selesai. Padahal, benang merah tradisi puisi naratif dalam perpuisian Indonesia cikal bakalnya dari pantun dan syair. 
***


Berbeda dengan hikayat, dongeng atau cerita (prosa) yang leluasa menyampaikan deskripsi dan narasinya, puisi, pantun dan syair) berhadapan dengan berbagai keterbatasan, seperti pembaitan, jumlah kata dalam larik, dan persajakan untuk membangun rima. Dalam proses kreatifnya, penyair kerap merasa terikat pada konvensi itu. Oleh karena itu, selalu ada kata, kalimat atau istilah yang perlu penjelasan di luar teks puisi. Di sinilah awalnya digunakan keterangan penjelas atau yang belakangan disebut catatan kaki (footnote). Dalam beberapa puisi yang dimuat di sejumlah surat kabar yang disebutkan tadi, kita kerap menemukan keterangan penjelas (catatan kaki) yang rupanya memang sudah lazim. 


Ihwal catatan kaki, bagi penulis Tionghoa atau para penyair Pujangga Baru, seperti Rustam Effendi, Yogi, Tatengkeng, dan sederet nama lain, juga bukan perkara baru. Salah seorang penyair Lekra, Klara Akustia (1957) dalam beberapa puisinya, menyertakan juga catatan kaki. Hal yang sama dilakukan Ridwan Saidi dalam antologi puisinya, Lagu Pesisiran (2008). Jika kita menyisir sejumlah besar puisi Indonesia, pencantuman catatan kaki sudah terlalu lazim. Oleh karena itu, sama sekali bukan sesuatu yang istimewa.


Jika kita menengok jauh ke belakang, beberapa catatan penjelas ditemukan juga dalam syair-syair Hamzah Fansuri yang bertuliskan Arab-Melayu. Dalam banyak naskah syair yang memakai huruf Jawi, catatan penjelas ditempatkan di pinggir halaman. Contoh kasus yang baik mengenai perkara ini dapat kita cermati pada karya Abdullah Munsyi, Syair Singapura Terbakar (1843). Amin Sweeney (2005, 2006) yang menerbitkan hasil transliterasinya, lengkap dengan berbagai penjelasan karya Abdullah, mengungkapkan, bahwa teks Melayu hanya mengenal catatan penjelas. Pencantuman keterangan di kaki halaman, sulit dilakukan pada naskah tulisan Arab-Melayu. Oleh karena itu, catatan penjelas itu ditempatkan di ujung teks atau di pinggir halaman, meski fungsinya tidak berbeda dengan catatan kaki.


Kini jelas, puisi naratif tidak datang dari langit. Tradisinya bersumber dari syair. Puisi yang memakai catatan kaki, juga bukan perkara baru. Jadi, siapa pun boleh menulis puisi dengan menyertakan catatan kaki. Tetapi, ketika ada penulis puisi yang menggunakan catatan kaki, lalu mengklaim sebagai paradigma baru, klaim itu sudah lama kedaluwarsa, tunasejarah, datang larut malam, dan seperti mengajari ikan berenang. 


Sumber: Kompas, Sabtu, 4 Agustus 2018, hlm. 25

10 Agustus 2018

Karya Sastra Hadir Tidak dalam Ruang Kosong

Oleh Hamid Jabbar

Assalamu’alaikum Wr. Wb.   

PERTAMA-TAMA yang ingin saya ingatkan adalah bahwa saya bukanlah ilmuwan. Jadi pendekatan saya dalam ceramah ini merupakan pendekatan orang yang bergelimang sehari-hari dengan kesusasteraan, khususnya puisi, meskipun saya juga menulis cerita pendek, cerita anak-anak, dan esei-esei kecil. Jadi harap dilihat bagi mahasiswa yang mengikuti ceramah ini, bahwa akan hal segala teori tentang kesusasteraan, jangan tanyakan ke saya. Silahkan mencari pada buku, pada teori-teorinya, dan itu sebenarnya adalah makanan harian dosen-dosen anda yang akan sama-sama anda cernakan  di dalam proses belajar dan mengajar menggeluti kesusasteraan Indonesia.

Hal yang kedua, karena saya bukanlah seorang ilmuwan, maka pendekatan saya bukan pendekatan yang sistematis. Sebagaimana puisi saya sering meloncat dari sesuatu ke sesuatu, dan cerpen-cerpen saya juga sering meloncat dari sesuatu ke sesuatu, maka pembicaraan saya kali ini mau tidak mau juga melakukan semacam loncatan-loncatan dari satu hal ke hal yang lain. Saya berharap, loncatan itu menjadi loncatan indah, yang akan merangsang pemikiran kita bersama.

Yang utama menurut saya, berdasarkan pengalaman, karya sastra itu hadir tidak dalam ruang kosong. Tidak lahir dalam hampa udara. Artinya, di sini saya ingin mengatakan bahwa kehadiran karya sastra itu dalam ruang dan waktu yang bergerak, yang terus berlangsung. Dalam konteks ini, artinya, di dalamnya selalu ada aspek-aspek kesejarahan dari kesusasteraan, yang saya kira anda juga mempelajari aspek-aspek kesejarahan dalam sastra Indonesia itu. Di samping itu, juga ada aspek-aspek yang berlangsung ulang-alik antara perkembangan masyarakat dengan perkembangan kesusasteraan itu sendiri.

Ada masa-masanya kesusasteraan Indonesia sangat begitu erat bersatu dengan perkembangan kebangsaaan, dan perjuangan pencerdasan masyarakat. Sebagai contoh misalnya, kalau anda merujuk pada sejarah kesusasteraan Indonesia, maka Muhammad Yamin yang menulis soneta –yang kemudian dikenal sebagai salah seorang konseptor Sumpah Pemuda yang dicetuskan pada tanggal  28 Oktober 1928 itu – pada tanggal 27 Oktober (sehari sebelumnya) ia menulis sebuah puisi (kalau saya tidak salah) judulnya “Tanah Air”. Apa yang kemudian akan dicetuskan di dalam Sumpah Pemuda itu, di dalam puisinya itu sudah tergambar. Detailnya puisi itu silahkan anda lihat di perpustakaan, saya kebetulan ndak bawa.

Puisi M. Yamin itu saya ketemukan dan saya pahami secara mendalam, ketika secara kebetulan saya bersama Taufiq Ismail dan Sutardji Calzoum Bachri menjadi editor buku kumpulan puisi “Ketika Kata Ketika Warna”, yang diterbitkan dalam sebuah bentuk renungan kembali 50 tahun Indonesia merdeka. Di dalam proses penerbitan buku itu kami berdiskusi, yang kemudian menetapkan bahwa kami merasa perlu mendudukkan beberapa puncak dari kepenyaran di Indonesia, berupa puisi-puisi penting di dalam 50 tahun Indonesia merdeka. Kemudian kami melihat bahwa ada sastra lama, puisi lama. Puisi lama ini kami kutip dari bahasa daerah aslinya, lalu kami terjemahkan ke bahasa Indonesia. Buku  “Ketika Kata Ketika Warna” itu akhirnya terbit dalam dua bahasa, yaitu Indonesia dan Inggris.

Di dalam buku kumpulan puisi itu yang kami pilih dari Jawa adalah “Zaman Edan” karya Ranggawarsita. Dari Aceh kami pilih “Hikayat Perang Sabil”. Dari Sunda Kiyai Haji Musthafa tentang Suluk. Kemudian dimulailah sesudah itu dengan Hamzah Fanzuri, M. Yamin dengan puisi “Tanah Air” –yang kemudian sajak ini menjadi pernyataan kebudayaan dalam pengertian yang luas yang telah terwujud dalam Sumpah Pemuda.

Sebenarnya, kalau kita rujuk sejarah kesusasteraan Indonesia, sejak dari Angkatan Balai Pustaka, Pujangga Baru, Angkatan ‘45, Angkatan ’66, dan sampai sekarang juga, semua tampak bahwa ada keterkaitannya yang kuat dengan perjuangan kebangsaan, perjuangan kebahasaan, dan perjuangan nilai-nilai pendidikan. Betapapun kesusasteraan itu telah menjadi, mengilhami, dan menimbulkan inspirasi dalam pergolakan kebudayaan secara menyeluruh; dalam pergolakan kemasyarakatan dan kebangsaan. Semuanya itu kalau dilihat dari sisi lain, maka kesusasteraan merupakan bagian terdepan (sering berada di bagian terdepan) dari masyarakatnya.

Kalau kita lebih merujuk lagi ke masa silam, maka sebenarnya kesusasteraan, apakah itu puisi atau prosa, kita mengenal yang namanya sastra lisan. Nah, kalau kecenderungan sekarang, misalnya, saya di dalam menyampaikan puisi, saya membacakan puisi itu. Dalam pembacaan puisi itu, faktor kelisanan sangat saya perhitungkan. Sesungguhnya bagi saya memang dalam menulis puisi, saya membuat sastra tulis. Tetapi di dalam saya menulis sastra tulis itu, saya menulisnya dengan kesadaran sastra lisan. Maksud saya, ketika itu saya memaksimalkan unsur-unsur kelisanan di dalam sastra tulis saya. Atau dengan bahasa lain, ketika saya menulis itu, saya sangat sadar bahwa puisi saya nanti akan saya lisankan di depan khalayak.

Buku puisi saya “Super Hilang” ini, misalnya, sebagian besar puisi-puisi di sini (boleh dikatakan minimal 30 persen) itu mula pertama dimasyarakatkan selalu saya lakukan lewat pembacaan puisi. Harus diketahui juga bahwa faktor kelisanan ini penting, karena menurut saya, puisi itu adalah permainan. Permainan apa? Puisi itu adalah permainan kata. Begitu kita menyebut puisi itu sebagai permainan kata, maka di dalamnya sesungguhnya terjadi permainan makna, permainan suasana, dan permainan suara. Maka, dengan pendekatan seperti ini, mau tidak mau kekuatan dari sastra lisan dengan sendirinya ada dan harus ada di dalam karya puisi. Memang pada puisi selalu ada pergulatan penyair di dalamnya. Ada pergulatan bentuk dan pergulatan isi. Ada puisi yang dari bentuk dia menemukan isi, dan ada dari isi menemukan bentuk.

Saudara-saudara, sekarang saya mau melengkapkan. Saya telah menceritakan tadi kaitan sastra dengan sejarah, dan dengan sastra lisan, kemudian perkembangannya. Di dalam puisi Indonesia, berkembang pembacaan pusi, berkembangnya poetry reading. Jadi, dalam konteks sastra Indonesia, dalam konteks perpuisian Indonesia dan kaitannya dengan sastra lama, maka sebenarnya pembacaan puisi, pembacaan cerpen, dramatisasi puisi, maupun musikalisasi puisi, atau apapun istilahnya dari pembacaan puisi berkembang: berkawin dengan musik, puisi berkawin dengan teater, puisi kawin dengan seni rupa, puisi kawin dengan menjadi sebuah opening-art, itu sesuatu yang lumrah-lumrah saja kalau kita lihat dalam konteks perjalanan kesusastraan Indonesia dari sastra lama sampai sekarang. Malah, dalam perspektif masa depan –dan saya kira sebagiannya sudah sedang berlangsung sekarang —perkembangan perpuisian dunia (termasuk Indonesia) bisa secara ekstrim lagi.

Padang, 1999

09 Agustus 2018

Yayasan Hari Puisi Apresiasi HPI 2018 Riau


Haripuisi.info - Perayaan HPI di Indonesia semakin tahun semakin meriah. Tahun lalu, lebih dari 80 kabupaten/kota di seluruh provinsi melaksanakan perayaan HPI. Mayoritas oleh komunitas dan penyair asal daerah di seluruh tanah air.

Tak lama ini pada 3-5 Agustus 2018, Komunitas Seni Rumah Sunting (KSRS) baru saja menyelenggarakan perayaan HPI 2018 di Riau dengan mengusung tema “Puisi Merawat Tradisi”.

Ketua Yayasan Hari Puisi Indonesia, Maman S Mahayana, mengapresiasi setinggi-tingginya atas terselenggaranya HPI 2018 di Riau. Ia menyebutkan, perayaan HPI yang dirayakan di Riau dapat menjadi inspirasi para komunitas di daerah. Khususnya untuk menebarkan virus semangat bersastra dan berpuisi.

''Kunni dan Rumah Suntingnya selalu menjadi inspirasi bagi kawan-kawan penyair di daerah lain di Indoensia. Ia selalu aktif dalam grup-grup sastra yang ada. Selalu menebarkan virus semangat dan daya juangnya yang tinggi. Kreatif. Selalu ada ide baru dalam sastra terutama puisi,” kata Maman.

Lebih lanjut, Maman mengatakan, pihaknya sedang berjuang agar pemerintah Indonesia menjadikan HPI sebagai salah satu hari besar di Indonesia yang diperingati seluruh warga Indonesia, bukan hanya penyair saja.

“Dan ini perlu pejuang-pejuang kesusasteraan yang tangguh salah satunya seperti Kunni dan pasukan Rumah Suntingnya itu,'' ujarnya.

Terkait suksesnya penyelenggara HPI 2018 Riau, Ketua Komunitas Seni Rumah Sunting (KSRS), Kunni Masrohanti, mengatakan, tidak ada alasan untuk tidak memperkenalkan sastra kepada masyarakat Riau, terutama puisi.
Menurutnya, perayaan hari puisi di Riau adalah salah satu cara untuk memperkenalkan puisi dan sastra kepada masyarakat dan mengekalkan rasa cinta puisi di dalam hati para penyair.

“Selain itu Riau memang memiliki pengaruh besar bagi kesusasteraan di Indonesia.
Bahasa Indonesia yang kita pakai saat ini, merupakan Bahasa Melayu Riau, dari Riau,” kata Kunni.

“Hari Puisi, dideklarasikan di Riau. Penggagasnya juga orang Riau. Begitu juga dengan presiden penyair Indonesia, Sutardji, juga orang Riau,” tambahnya kemudian
[Arief Hsb]

***

Perayaan HPI 2018 di Riau Berlangsung Meriah. Apa saja kegiatannya?


Haripuisi.info -  Perayaan Hari Puisi Indonesia (HPI) Riau yang dihelat pada 3-5 Agustus 2018 berjalan sukses dan meriah. Acara yang mengusung tema “Puisi Jalan Merawat Tradisi” itu berhasil menghadirkan para penyair baik dari dalam maupun luar negeri. Setidaknya 134 penyair berkumpul dan bertemu dalam momen perayaan HPI ini.

Penyelenggara HPI 2018 Riau yang juga Ketua Komunitas Seni Rumah Sunting (KSRS), Kunni Masrohanti, mengatakan, sejak hari puisi dideklarasikan, perayaan HPI hanya dimeriahkan bersama teman-teman sesama komunitas. Kemudian bersama penyair-penyair Riau, dan sejak tiga tahun terakhir dirayakan bersama penyair dari berbagai provinsi di Indonesia bahkan Asean.

Bahkan, pihaknya mampu mengabadikan karya para penyair tersebut di dalam antalogi puisi bersama berjudul “Kunanti di Kampar Kiri”.

Karya puisi penyair ditulis sesuai dengan tema dan lokasi tempat pelaksanaan kegiatan, yakni Kampar Kiri. Tidak semua puisi yang dikirim penyair bisa dibukukan. Ada proses kurasi yang ketat dengan melibatkan kurator nasional, yakni, Ahmadun Yosi Herfanda (Jakarta), Iyut Fitra (Sumbar) dan Fakhrunnas MA Jabbar (Riau). Sehingga mereka yang lolos kurasi diundang untuk hadir dengan fasilitas gratis selama di Riau serta diprioritaskan untuk mendapatkan buku secara cuma-cuma.

“Para penyair tentu tidak tahu tentang Kampar Kiri, Gunung Sahilan dan Rimbang Baling yang menjadi kunci penulisan puisi tersebut, karena mereka belum pernah ke sana. Mereka menulis puisi dengan berlayar di dunia maya, mempelajari semua tempat sumber tradisi itu dan menuliskan dalam puisi. Sesampainya di Riau, para penyair ini dibawa langsung ke tempat tersebut untuk melihat dan merasakan kekayaan tradisi yang telah mereka rawat melalui puisi tersebut,” demikian dikatakan Kunni seperti yang dilansir dari goriau.com.

DARI DISKUSI HINGGA JELAJAH PUISI

Setelah sebelumnya digelar di Pekanbaru dan Siak, kini perayaan HPI 2018 difokuskan di Pekanbaru dan Kampar Kiri. Rangkaian kegiatan dimulai denga menggelar diskusi di Perpustakaan Soeman HS dengan menghadirkan pembicara Presiden Penyair Indoenesia Sutardji Calzoum Bachri, Frea Hearty dari Jakarta, Prof Dr Phaosan Jehwae dari Thailand, Taufik Ikram Jamil dari Riau dengan moderator Jefry al Malay dari Riau. Dilanjutkan dengan pertemuan singkat dengan pengurus LAM Riau dan Wali kota di rumah kediamannya.


Hari kedua kegiatan dilanjutkan dengan jelajah puisi ke Kampar Kiri. Diawali dengan kunjungan tradisi dan budaya ke Kerajaan Rantau Kampar Kiri Gunung Sahilan, Wisata Puisi ke Desa Padang Sawah dan susur Sungai Subayang serta bermalam di Rimbang Baling, tepatnya Desa Tanjung Belit. Raja Adat dan Raja Ibadat Rantau Kampar Kiri Gunung Sahilan, H T Muhammad Nizar, menyambut kedatangan para penyair ke Rantau Kampar Kiri ini dengan penuh semangat. Bahkan disambut dengan gendang oguong dan silat tradisi serta makan bersama di dalam istana. Begitu juga dengan seganap datuk dan ninik mamak di Desa Lipatkain yang menjamu makan siang bersama, Ahad 5 Agustus.

''Tentu kami sangat bangga karena panitia memilih Kampar Kiri sebagai destinasi jelajah budaya dan tradaisi sempena perayaan Hari Puisi ini. Ini kegiatan besar dan langka. Kami juga ingin memperkenalkan bahwa di tempat kami adat, budaya dan tradisi masih terawat dengan baik. Masih ada istana dan peninggalan benda-benda bersejarah. Ditambah lagi para sastrawan menulis karya puisi tentang Kampar Kiri. Kami sangat tersanjung. Makanya, tidak ada alasan kami untuk menolak dan tentu kami ingin menjadi tuan rumah yang baik, menyambut dengan baik semampu kami,'' kata Raja Rantau Kampar Kiri Gunung Sahilan H T Muhammad Nizar.

Selain melibatkan penyair di Riau, Rumah Sunting juga menggandeng pihak lain. Tidak hanya pemerintah seperti Wali Kota Pekanbaru, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, Dinas Periwisata Ekonomi Kreatif (Disparekraf), LAM Riau, tapi juga pihak swasta seperti Walhi Riau, WWF Indonesia, TNTN, Riau Pos sebagai media patner dan juga Raja Kerajaan Rantau Kampar Kiri Gunung Sahilan bersama kholifah dan ninik mamak.

Dari tangan para donatur ini, didapat fasilitas yang sangat mendukung terlaksananya HPI di Riau. Beberapa perusahaan seperti APRIL dan PT BSP juga turut terlibat. Sedangkan dalam pelaksanaannya, Rumah Sunting menggandeng komunitas lain seperti Forum Literasi Remaja (FLR) Riau, Latah Tuah, Musikalisasi Gendul, Panggung Tok Tan, Papala Padang Sawah Kampar Kiri, Bengkel Seni Kampar Kiri dan beberapa lainnya. [Arief Hsb]

08 Agustus 2018

Komunitas Baca Betawi: HPI Bangkitkan Gairah Komunitas




Haripuisi.info - Pembina Komunitas Baca Betawi, Yahya Andi Saputra mengatakan, perayaan Hari Puisi Indonesia (HPI) yang rutin dilaksanakan setiap tahunnya dapat membangkitkan gairah para komunitas untuk terus berkarya

Menurutnya, kegiatan yang sifatnya nasional yang rutin diselenggarakan Yayasan Hari Puisi ini dapat memberikan dorongan semangat bersastra bagi Komunitas Baca Betawi.

"Komunitas Baca Betawi ini kebetulan didorong dengan adanya kegiatan yang sifatnya nasional seperti Hari Puisi. Jadi  semakin bergairah," katanya kepada Haripuisi.info di Jakarta, Selasa (07/08).

Ketika ditanya tujuan Komunitas Baca Betawi turut merayakan HPI 2018, Yahya menjawab untuk menumbuhkembangkan semangat literasi di kalangan anak Betawi. Selain itu, lanjut Yahya, untuk mengasah kemampuan dalam berkesusastraan khususnya puisi.

"Selama ini tradisi sastra tulis khususnya di Betawi masih lemah. Karena tradisi tulis Betawi yang masih lemah itulah, muncul keinginan untuk menciptakan penulis dan penyair dari Betawi," ujarnya.

Sebagaimana diketahui, Komunitas Baca Betawi rencananya akan menggelar perayaan Hari Puisi Indonesia (HPI) 2018 pada Minggu, 12 Agustus 2018 mendatang di Pasar Seni Ancol, Jakarta Utara. Acara tersebut rencananya akan diisi dengan berbagai agenda. Salah satunya peluncuran buku Kumpulan Puisi Komunitas Baca Betawi dan pembacaan puisi oleh para penyair.

Acara yang bertajuk "Betawi Puisi Indonesia" itu terbuka untuk umum. Bahkan panitia penyelenggara menyediakan tiket masuk Ancol secara gratis kepada para peserta yang akan hadir. Untuk mendapatkan tiket tersebut, peserta harus melakukan registrasi terlebih dahulu melalui kontak panitia (081295516532).
 
Copyright ©2018 | Hari Puisi | All Rights Reserved | Publisher: Yayasan Hari Puisi
infoharipuisi@gmail.com