HARI INI

19 Agustus 2018

KOMUNITAS INI RAYAKAN HPI 2018 DI ASAHAN



Haripuisi.info - Komunitas Seni dan Sastra Asahan (KISARAN) dalam waktu dekat ini akan menggelar perayaan Hari Puisi Indonesia (HPI) 2018 di Cafe River View Pangkal Titi Kisaran pada Sabtu, 25 Agustus 2018.

Acara yang mengusung tema “Kecupan Puisi di Bibir Sungai Asahan” ini akan diisi dengan berbagai kegiatan seperti Pembacaan Puisi, Teatrikal Puisi, Musikalisasi Puisi, Visualisasi Puisi, Irama Tradisi Puisi, Senandung Melayu, Akustik, hingga Orasi Budaya.

Pengurus Komunitas Seni dan Sastra Asahan, Weeya Nurah Cusam, mengatakan, perayaan HPI 2018 ini sebagai ajang untuk menyebarkan virus puisi khususnya kepada anak-anak muda di Asahan. Selain itu, juga untuk membumikan puisi sebagai medium menyalurkan aspirasi dan menyampaikan rasa hati yang paling tersembunyi.

“Puisi itu kumpulan kata berjiwa, mengungkapkan rasa terdalam. Dari puisi kita bisa mengungkapkan rasa secara rahasia dari hati yang tersembunyi. Jadi anak muda milenial kalau galau tinggal nulis puisi aja. Acara ini juga menjadi momen anak-anak Asahan untuk menyampaikan aspirasinya melalui Puisi” ujar Weeya ketika dihubungi.

Perayaan HPI 2018 di Asahan ini akan dihadiri berbagai komunitas dan kalangan anak muda di Asahan. Menariknya, dalam acara itu nantinya akan ada Orasi Budaya yang diisi oleh anggota DPR RI yang juga Putra Daerah Asahan, Hinca IP Pandjaitan XIII.

"Kita berterima kasih atas kesediaan Bang Hinca untuk mengisi Orasi Budaya. Tentu ini akan menjadi ajang menyampaikan aspirasi lewat puisi" tutup Weeya.



Merayakan Puisi di Hari Kemerdekaan


Pada tanggal 18 Agustus 2018, kampus Unis ramai disesaki oleh mahasiswa dan komunitas-komunitas seni dan sastra di Tangerang, di antaranya Komunitas Biola Tangerang, Komunitas Balai Bahasa Tangerang, Dewan Kesenian Tangerang, Komunitas Pantomime, komunitas musikalasasi dan komunitas seni dan sastra yang berada di dalam kampus tersebut. Mereka berkumpul untuk merayakan puisi di hari kemerdekaan Indonesia.

Acara yang digelar oleh Iqbal, Aldi, Doni, Dila cs dari Fakultas Tehnik itu dinamakan ‘panggung hitam’ suatu gerakan apresiasi seni dan sastra yang dipopulerkan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa di Unis, acara dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia raya 3 stanza, pembacaan proklamasi dan pancasila. Semua yang hadir begitu khidmat mengikuti pembukaan tersebut, kemudian dilanjutkan dengan penampilan-penampilan komunitas yang menunjukan perbedaan atraksi, melihat acara tersebut seperti melihat kebhinekaan Indonesia dalam satu panggung.

Akan tetapi ada yang berbeda dalam acara tersebut, beberapa penyair kampus dan penyair lokal membacakan puisi-puisi dari tokoh-tokoh Nasional, seperti Ir. Soekarno, Muhammad Hatta, Sanusi Pane, Muhammad Yamin dan lainnya. Seorang Penyair dari Komunitas Dapoer Sastra Tjisaoek, Atik Bintoro yang sekarang menjabat sebagai Peneliti Utama di Lapan, Rumpin juga memberikan orasi kebudayaan, dalam orasinya dia mengatakan bahwa puisi tidak harus menjadikan si penulisnya menjadi seorang penyair, puisi selalu menyimpan cita-cita besar, dan semangat untuk mencapai cita-cita tersebut. Penyair adalah pengakuan dari publik melalaui karya-karyanya, bukan pengakuan individu.

Atik Bintoro menceritakan pengalamannya keliling dunia, dia melihat di negeri luar Indonesia bagaimana setiap orang menghargai orang tersebut sebagai manusia, bukan sebagai profesi, jabatan atau tatanan sosial. Maka, puisi juga dapat mengembalikan cita-cita bangsa ini dalam memerdekakan rakyatnya, yaitu menjadikan manusia seperti manusia seutuhnya sehingga tercapai adil dan makmur.

Tidak hanya itu, seorang Pantomer asal Bogor, Yodha Pratama menghadirkan pementasan yang sangat memukau, dia menampilkan pementasan yang berjudul ‘Rapat Kebangsaan’ yang dialih wahanakan dari puisi karya S.S yang dimuat di majalah Soeloeh Rakyat Indonesia pada tanggal 12 Sepetember 1928. Yodha begitu sangat luwes, dia mempresentasikan puisi itu dalam sebuah gerak hingga penonton dapat merasakan keterikan puisi dan gerak. Selain itu, seorang mahasiswi Unis, Audi, membacakan puisi ‘Beranta Indera’ karya M. Hatta yang dimuat di Jong Sumatra tahun 1921. Audi begitu sangat ekpresif dalam membacakan puisi tersebut.

Dalam acara ‘Omong-Omong Budaya’ yang menghadirkan Nana Sastrawan, seorang penulis asal Kuningan, Jawa Barat yang kini tinggal di Tangerang, para penonton mulai aktif menyerap informasi tentang perjalanan Puisi membentuk Bangsa Indonesia. Nana Sastrawan mengungkapkan dalam esainya yang berjudul ‘Merayakan Puisi di Hari Kemerdekaan’ bahwa sejarah Indonesia terbangun melalui cita-cita rakyat Indonesia yang tertuang dalam puisi-puisi kontekstual. Sebut saja, naskah sumpah pemuda dan lagu Indonesia Raya yang peristiwanya terjadi pada tahun 1928, dimana negara Indonesia sama sekali belum terbentuk. Nama Indonesia baru tertulis dalam dua naskah itu dan disosialisasikan kepada masyarakat luas sehingga terjadi gerakan bersatu dari berbagai suku yang berada di Nusantara. Inilah yang terkadang dilupakan oleh generasi muda sekarang ini, mereka terlalu remeh memaknai puisi, mereka mungkin menduga bahwa puisi hanya gombalan, rayuan, picisan dan lain-lain. Tapi, pada kenyataannya puisi adalah suatu karya sastra yang menyimpan gagasan, ide, cita-cita dan harapan yang dapat terwujud.

Nana Sastrawan pun mengajak yang hadir untuk tetap melakukan gerakan yang berbasis pada kesenian dan kebudayaan, sebab dari situlah dapat ditemukan suatu sejarah yang tersembunyi, dapat ditemukan juga suatu karakter bangsa, dan pada akhirnya membentuk individu yang mawas diri, dewasa, cerdas dan kreatif.

Acara ditutup dengan kebahagiaan dan ramah tamah, mereka seolah masih enggan untuk meninggalkan tempat tersebut, hingga larut malam, kampus Unis masih saja ramai dengan gelak tawa dan dentingan cangkir kopi. 

Puisi Warih Wisatsana

MUKADIMAH

Bagaimana serangkaian kecemasan yang lalu membentuk kemarahan, dapat disulap menjadi larik-larik cantik dalam deretan kata-kata yang sarat metafora? Itulah puisi. Selalu, dalam puisi yang baik, kita bertemu dengan sesuatu yang oleh Sapardi Djoko Damono dirumuskan: berkata begini, maksudnya begitu! Di situlah kekuatan puisi menyeruak lalu menyebar dalam rangkaian larik-larik, membentuk bait, dan menjelma sebuah wacana. Tiba-tiba, kita merasakan ada sesuatu yang tak lazim, tapi membuka mata hati. Sebuah keindahan yang menyentuh rasa estetik.

    Begitulah estetika tidak wujud sebagai serpihan atau fragmen-fragmen, tapi keseluruhan dalam sebuah wacana lengkap, utuh sebagai totalitas. Dua puisi "Pujian bagi Pohonan" dan "Hikayat Sebatang Pohon" karya Warih Wisatsana dapat kita resapi sebagai empati penyair dalam menyikapi kehidupan persekitaran. Penyair tak abai pada dunianya. Ia begitu peduli pada keberlangsungan jagat manusia yang sehat dan beradab pada alam. Ia cemas, marah. Tapi kekuatannya untuk dijadikan senjata hanya kata-kata. Maka dengan itu, ia coba menggugah kesadaran, membuka pemikiran, mengajak kita melakukan perlawanan ketika kita dicekoki janji palsu, ketika alam menghadapi masalah lantaran ulah manusia serakah. Warih memilih cara yang sejuk tapi nyelekit! Setidak-tidaknya, puisi "Pujian bagi Pohonan" menghadirkan ironi yang tajam dan menusuk.

    Dalam puisi "Hikayat Sebatang Pohon" ironi itu laksana sengaja dilekatkan pada sosok aku lirik, citra ibu, dan sang kakek. Kembali, kita berhadapan dengan ketaklaziman. Bukankah dalam pohon keluarga ada ayah? Di manakah dia berada? Aku dalam tarik-menarik ibu-kakek menjadi sangat simbolik, sekaligus juga menggelitik, menghadirkan serangkaian pertanyaan. Sebuah puisi yang menjengkelkan, lantaran memunculkan banyak pertanyaan yang menggoda rasa penasaran.

   Jika kita merujuk pada pandangan Sigmund Freud, problem pohon keluarga dalam puisi itu punya cantelan psikologis. Bukankah kita tak dapat lepas dari kenangan masa kanak-kanak? Mitos dan segala dongeng yang kita terima semasa bocah, kerap menciptakan dunianya sendiri ketika kita sudah dewasa. Tampak di sana, Warih menariknya pada problem lingkungan, kehidupan alam dan hutan yang gersang.

   Dua puisi Warih Wisatsana menjawil kepedulian kita pada alam dan mitos masa lalu yang kadang terasa absurd.

    Pesan dalam Mukadimah ini sekadar tawaran belaka, betapa dunia puisi kadang membuat kita jadi galau. Dengan perspektif yang lain, tentu pembaca lain akan menemukan makna lain, cara menafsir lain. Itulah salah satu kelebihan bahasa puisi: kaya ketaksaan. Maka, jalan terbaik bagi pembaca adalah baca, masuki dunianya, dan bersiaplah menghadapi kejengkelan sendiri. Silakan ...
-----------------

Warih Wisatsana
PUJIAN BAGI POHONAN

Setelah pohonan ditebangi
yang paling rindang adalah doa

Kita melaju di jalan lurus penuh rambu
bergegas cemas melintasi gerimis
antara lalang ataukah rumpun padi

Bau busuk pestisida limbah janji kata-kata
kini meracuni udara. Sesak menahan napas
            menahan cemas pengharapan
Terbentur tanya berulang pada tiap tikungan
Ini kelokan ke masa depan
            atau jalan curam ke masa silam?

Siang malam melaju  Dirundung ragu selalu
         itu dengung samar lalat hijau
ataukah bisikan lembut ilham di kalbu:

      Selamatkan, selamatkanlah dirimu

Di sini kini tak ada lagi bulan hening di ombak
tak ada derik jangkrik mengais sunyi malam hari

Sepanjang jalan kita terbayang terkenang
belantara terbentang selapang pandang
itik-itik berduyun riang meniti pematang
ikan-ikan meliuk jinak di dasar sungai bening

Berkali kau ingatkan bahwa segalanya semata
selapis tipis batas napas. Petang yang riang
seketika bisa saja menghilang
             malam muram datang menghadang
 Diri yang lalai tak kunjung sampai
 hanya akan menemu hari yang selesai

Tapi apa sesungguhnya yang kita cemaskan,
hamparan gedung-gedung menjulang
kabut dini hari yang mengelabui pandang?
Atau dinding-dinding penuh grafiti
penuh pesan si mati yang tak ingin kembali?

Ataukah kita cemas terbawa lupa
              lena sejenak memejamkan mata
Terbujuk godaan berlebih duniawi
terhanyut janji sorgawi yang ingkar berkali

Lalu tergelincir, seketika itu pula kita berakhir
Senasib benih di tanah ini,
                      tak ada yang kuasa menduga
siapa tersisih mati sendiri, siapa rekah mewangi?

Maka sesabar laba-laba dalam goa
menenun limpahan cahaya
                menyempurnakan harinya
Kita terus berjaga, sebisanya terjaga
meniti hati-hati sebaris mantra ini

Melenting seperti belalang
          meluncur di angin bagai capung
Siang malam melaju
         antara lalang atau rumpun padi
Siapa tahu kelak di depan terbentang
jalan pulang sehening pandang

    Selamatkan, selamatkanlah dirimu


HIKAYAT SEBATANG POHON

Setiap petang kakek mengunjungi ibu
Selalu singgah dahulu ke tepi ngarai
Mengulurkan bunga yang sama
           ke patung yang itu juga
Aku tak tahu apakah ia sungguh berdoa
Atau semata mengulang mantra serupa

Sesudah itu ia bercerita
tentang kisah lama yang sama
Bahwa dulu di simpang jalan
ada pohon ratusan tahun
Yang akar-akarnya terjulur liar
seperti tangan-tangan para penari
Yang ranting-rantingnya rimbun tengadah
seakan wajah para pemuja yang pasrah

Berkali kakek bercerita
seolah sungguh pohon itu tumbuh
                           bersama leluhurku
Raja- raja agung yang terbuang
pangeran buronan seberang lautan
Kisah hari tak selesai
pahatan lumut di kaki candi

Ia percaya dalam diriku
ada benih luhur itu
Yang kelak tumbuh merimbun
melampaui segala pohon

Seperti biasa ibu lalu menemani kakek
Berdiam semalaman di dalam kamar
tempat dimana dulu aku dilahirkan
Demam mengigaukan hujan
Memanggil leluhur
                   yang menyamar
                   desir air di batuan

Begitulah aku tumbuh tahun demi tahun
Bersama mambang menyeberangi malam
Menemui peri penunggu perigi
yang tak henti membujuk pergi
meninggalkan ibu sendiri

Bertanya rahasia air suci dalam kendi
suratan lontar dan prasasti
Jalan pulang bagi ayah
yang tak kunjung kembali

Hingga kini aku pun tak tahu apakah ibu percaya
Pohon itu sungguh telah tumbuh di dalam diriku

------------
Warih Wisatsana. Meraih Taraju Award, Borobudur Award, Bung Hatta Award, Kelautan Award, SIH Award. Diundang sebagai pembicara dan membaca karya pada festival nasional dan internasional. Puisinya diterjemahkan dalam bahasa Belanda, Inggris, Jerman, Portugal dan Perancis. Buku kumpulan puisinya; Ikan Terbang Tak Berkawan  (Kompas, 2003) dan May Fire and Other Poems (Lontar, 2015). Selain sebagai kurator, juga editor buku, semisal : Pariwisata Budaya dan Budaya Pariwisata (Michel Picard), novel Perancis ‘Emilie Java 1904’ (KPG), kumpulan cerpen ‘Dari Bui Hingga Nun’ karya Agus Vrisabha (PBK), dan lainnya. Menulis esai dan ulasan seni rupa, sastra, serta seni pertunjukan. Menulis buku biografi Agung Rai (Museum ARMA), dan lain-lain. Pernah berkolaborasi dengan perupa seperti Made Wianta, Nyoman Erawan, serta koreografer Nyotman Sura dan lainnya. Buku Puisi terkininya “Kota Kita” segera terbit.

17 Agustus 2018

Kata Pengantar: Kitab Kritik Sastra Maman S Mahayana

oleh Dr. Etienne Naveau
Jurusan Indonesia, Departemen Asia Tenggara, Inalco (Institut National des Langues et Civilisations Orientales), Paris, Prancis.


Ketika Maman S. Mahayana menyarankan, agar saya menulis kata pengantar untuk buku Kitab Kritik Sastra ini, saya merasa mendapat kehormatan besar. Saya sudah sejak lama membaca buku-bukunya yang menurut saya, sangat menarik dan bermanfaat untuk mempelajari kesusastraan Indonesia. Misalnya, buku Akar Melayu: Sistem Sastra & Konflik Ideologi di Indonesia & Malaysia (Indonesiatera, 2001), Sembilan Jawaban Sastra Indonesia (Bening Publishing, 2005), Bermain dengan Cerpen (Gramedia, 2006), Pengarang tidak Mati (Nuansa Cendekia, 2012), dan beberapa bukunya yang lain.

Karya-karya Maman S. Mahayana sangat membantu saya untuk mempersiapkan kuliah sastra Indonesia kepada mahasiswa Prancis. Terus terang, bahwa saya pernah menggunakan salah satu artikelnya tentang perbedaan antara “Novel Populer dan Novel Serius” (yang terdapat dalam Sembilan Jawaban Sastra Indonesia, hlm. 137-142) sebagai bahan latihan kuliah. Saya menyuruh mahasiswa untuk menerjemahkan esei tersebut ke dalam bahasa Prancis. Dengan demikian, mereka juga bisa mengenal lebih dalam kesusastraan Indonesia, berkat uraian dalam buku tersebut.

Tulisan Maman S. Mahayana yang sangat berguna itu laksana ungkapan dan cermin kepribadian penulisnya sendiri. Dosen FIB-UI ini juga sering membantu saya, walaupun saya tahu, ia sangat sibuk dan tinggal jauh dari Jakarta. Ia selalu menyediakan waktu untuk bertemu dengan saya. Tentu saja saya senang berbincang-bincang, sekalian mendengarkan gaya dan caranya bercanda. Berkat usahanya pula, saya bisa menghadiri pertemuan penyair di Jambi, dua tahun yang lalu.

Jadi, kesan pertama saya berhadapan dan berbincang-bincang dengan kritikus yang menulis beberapa buku ini adalah kedermawanan dan keterbukaannya. Menurut saya, ia memberi tanpa menghitung, tanpa menanti balasan. Dan ia memang begitu terbuka. Termasuk juga terbuka dalam menerima kekayaan khazanah sastra Indonesia yang berlatar belakang kebudayaan etnik. Misalnya, ia tidak mengabaikan sastra daerah, terutama sastra Riau, yang dalam buku ini, diwakili oleh beberapa penyair dan novelis, antara lain, Rida K. Liamsi, yang juga memberi contoh untuk kajian novel sejarah; Tusiran Suseno, Marhalim Zaini, dan tentu saja Sutardji Calzoum Bachri (hlm. 94, 121).
***

Kegiatan penjajah Inggris dan Belanda telah memisahkan dunia Melayu, baik secara politik, maupun secara bahasa dan kebudayaan. “Pengaruh Barat, di satu pihak, memberi pengaruh positif bagi perkembangan pemikiran dan karya-karya intelektual, dan di pihak lain, seolah-olah mulai memisahkan hubungan kultural dengan alam budaya Melayu”. Namun,  “kesusastraan Indonesia tidak lahir dari sebuah kekosongan”. Mahayana berusaha keras untuk menyatukan kembali, melengketkan penggalan dunia Melayu yang terpecah-pecah oleh politik dan kepentingan penjajah. Demi tujuan tersebut, Mahayana juga menulis satu handbook tentang Kesusastraan Malaysia Modern (Pustaka Jaya, 1995) dan mencoba untuk memperbandingkan kedua kesusastraan dari negeri jiran yang sumbernya dari akar yang sama, yaitu kesusastraan Melayu.

Sebagaimana yang ditulis Maman S. Mahayana, “teori mesti mengabdi pada karya”. Namun, pada umumnya, ahli kritik sastra, terutama kritikus dari Barat, memilih karya yang cocok dengan teori mereka. Saya sering mengalami adanya suatu jurang pemisah antara kehidupan budaya, seni dan sastra Indonesia, dan kajian kebanyakan pakar Barat. Setahu saya, kajian sastra Indonesia dibagi dalam dua kelompok: (1) kelompok ahli susastra yang menganggap sastra menurut patokan estetik dan nilai yang bertentangan (baik melawan burukindah melawan jelek), dan (2) ahli sejarah dan sosiologi yang lebih fokus kepada latar belakang atau syarat-syarat yang memungkinkan keberadaan tulisan dan resepsi naskah (masyarakat yang diwakili dalam teks, lingkungan hidup pengarang dan pembaca, dan lain-lain) daripada ke naskah sebagaimana adanya. Jadi pakar Barat meneliti sastra Indonesia dalam dua aliran yang dominan, yaitu (1) aliran estetis yang menganggap karya sastra sebagai monumen, jadi karya besar yang istimewa yang harus dinilai dan dikagumi; dan (2) aliran historis yang menganggap karya sastra sebagai dokumen, tulisan yang merupakan sumber untuk mengenal kejadian sejarah.  

Menurut saya, Luigi Santa Maria dan Andries Teeuw mewakili kecenderungan yang pertama. Walaupun dalam bukunya tentang Pramoedya Ananta Toer, ada usaha untuk menganalisis tulisan Pram, Teeuw mengutamakan stilistik (gaya tulisan Pram). Walaupun A. Teeuw merupakan kritikus yang sangat mahir, pandangannya kadang-kadang terlalu menilai, terlalu “apresiatif”. Saya pernah mendengar dari salah seorang muridnya tentang sindiran dari Denys Lombard (yang mewakili aliran yang kedua). Katanya, Denys Lombard membandingkan dua “buku referensi” Teeuw tentang sastra Indonesia ― Sastra Baru Indonesia I (Ende: Nusa Indah, 1980) dan Sastra Indonesia Modern II (Pustaka Jaya, 1987) — dengan “le guide bleu” (buku petunjuk biru), semacam buku pedoman yang paling terkemuka dan sering digunakan oleh wisatawan di Prancis. Handbook Teeuw tentang sastra Indonesia sangat apresiatif dan normatif. Padahal, seperti yang dibahas Maman S. Mahayana, patokan dan nilai selalu relatif, tergantung “horizon of expectations” yakni penantian pembaca, lingkungan masyarakat, dan jenis sastra yang digunakan. Naskah sastra akan mencapai tujuannya, dan dianggap baik, kalau cocok dengan maksudnya. “Seperti juga novel serius, novel populer pun ada yang disajikan secara baik, ada pula yang tidak” (Sembilan Jawaban Sastra Indonesia, hlm. 138). Selain itu, ahli estetik berkecenderungan untuk menganggap teks sebagai dunia merdeka, yakni “sebagai struktur yang otonom dan mandiri, terlepas dari konteks sosio-kultural” (hlm. 112) dan hanya bisa “dihubungkaitkan dengan teks-teks lain” (hlm. 112). Itulah kelemahan aliran strukturalisme yang menganggap teks sebagai dunia makna ideal yang terpisahkan dari dunia nyata, seperti dalam filosofi Plato, ada perbedaan mutlak antara hakikat dan fenomena (isi yang batin dan bentuk yang lahir): dunia rohani yang halus dan benar dan dunia materi yang kasar, yang merupakan semacam ilusi.

Jadi, menganggap sastra sebagai otonom merupakan prasangka idealis. Dan tidak bisa dimungkiri, bahwa Pemerintah Orde Baru yang melarang dengan tegas semua pikiran kiri (dan terutama pikiran marxis) suka pada struskturalisme yang “ditempatkan sebagai senjata ampuh dalam melakukan kajian sastra”  (hlm.12). Memang aliran kritik tersebut berusaha untuk memisahkan karya sastra dari masyarakat, seolah-olah naskah sastra merupakan semacam bahasa tanpa penutur.  Padahal teks merupakan juga alat “komunikasi antara pengarang  dan pembaca” (hlm. 112).  Dengan kata lain, bertentangan dengan prasangka strukturalisme: “hakikat kesenian adalah komunikasi.”

Meski buku referensi yang paling digunakan di Indonesia adalah handbook A. Teeuw, sebaliknya, kalangan Indonesianis Prancis dikuasai oleh arkeolog, etnolog, dan terutama sejarawan yang terlalu fokus pada roman (novel adalah bentuk sastra yang dianggap modern dan Barat). Mereka meremehkan atau mengabaikan bentuk singkat seperti sketsa dan puisi, dan juga menomorduakan cerpen, yang mereka anggap secara keliru sebagai novel yang ringkas.

Mereka merendahkan cerpen berdasarkan dua alasan :
Pertama, banyak cerpen Indonesia adalah “kisah-kisah gaib yang irasional dan memberi kesan surealis”. Misalnya, naskah yang sufistik, seperti kisah Mohammad Fudoli, Kuntowijoyo, Danarto, dan Mustofa Bisri. Tokoh-tokoh dalam cerpen Danarto bukan pribadi yang nyata, melainkan tipe sosok mitologis, seperti Ahasverus, Salomé atau Jibril. Dalam cerpen Kuntowijoyo “Dilarang Mencintai Bunga-bunga”, para tokoh “sangat simbolik dan merepresentasikan ideologi tertentu”. Selain itu, dalam tulisan yang berkecenderungan sufistik, tokoh-tokoh tidak selalu manusiawi. Binatang, benda dan makhluk halus bisa menjadi tokoh. Saya sependapat dengan pandangan Maman S Mahayana, yang menganggap bahwa pakar Barat kurang memperhatikan sastra sufistik. Mungkin, mereka enggan mengamati sastra tersebut, karena sastra tersebut lebih cocok untuk pemikir religius atau filsuf daripada sejarawan yang mencari data yang nyata dalam naskah. Dunia yang digambarkan dalam cerpen sufistik adalah dunia khayalan. Selain itu, ada cerpen yang, seperti sketsa, menonjolkan humor, plesetan dan lelucon. Dengan demikian, yang penting bukan referensi naskah, tetapi permainan dengan kata dan sikap pencerita. Jadi, cerpen dan sketsa dinilai rendah oleh sejarawan, karena kadar referensi jenis sastra tersebut juga rendah. Seperti puisi lirik yang bukan narasi, cerpen tersebut tidak menggambarkan dunia yang nyata.

Sejarawan menganggap sastra sebagai cermin, pelukisan masyarakat dan mimesis kejadian historis. “Dalam kaitannya dengan hal tersebut, novel, sebagian besar, dianggap paling mendekati gambaran kehidupan sosial dibandingkan puisi atau drama” (hlm. 73). Oleh karena itu, pengamat Barat lebih banyak memfokuskan diri kepada novelis realis seperti Pramoedya Ananta Toer, yang karyanya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan merupakan penulis Indonesia yang paling banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis (walaupun nilai terjemahan tersebut tidak selalu mencukupi). Roman Pram dan Mochtar Lubis lebih mirip dengan roman novelis Barat, yang pada umumnya menulis secara realistis. Meskipun novel berarti roman yang realistis (Ian Watt, Rise of the Novel, 1957), baik di Barat, maupun di Indonesia, tidak semua roman realistis. Misalnya “Nouveau Roman” (Novel Terbaru) di Prancis dengan penulis seperti Robbe-Grillet, Butor dan Nathalie Sarraute, dan Iwan Simatupang melepaskan diri dengan aturan roman Eropa klasik dari Defoë sampai Zola.
Kedua, bertentangan dengan pakar dari Prancis, A. Teeuw tidak mengabaikan puisi dan menulis sebuah buku yang menarik tentang puisi Indonesia (Tergantung pada Kata, Pustaka Jaya, 1980). Namun ahli kritik dari Belanda ini tetap mengutamakan roman. Dengan demikian, Teeuw bisa menyatakan bahwa sejarah sastra Indonesia modern dimulai dengan penerbitan roman pertama oleh Balai Pustaka, tahun 20-an. Maka seluruh karya sastra yang independen, yang tidak tergantung penerbit kolonial tersebut, bisa disisihkan. Dan khazanah sastra tersebut berupa cerpen, cerita bersambung, dan puisi yang diterbitkan dalam surat kabar atau majalah, dan sering tertulis dalam bahasa yang nonstandard (tidak baku) dan juga tidak diawasi oleh Belanda, yakni bahasa Melayu Rendah. Namun, seperti yang dikatakan  Mahayana: “Jika kita mencermati cerpen-cerpen Indonesia yang awal, maka di satu sisi, terbuktilah, bahwa penulisan prosa Indonesia modern dimulai dari cerpen”. Dan cerpen Indonesia tidak dipengaruhi oleh “konsep cerpen (short stories) dari Barat”, tetapi masih “berhubungan sangat dekat dengan hikayat dalam kesusastraan Melayu lama”. Singkatnya: “belum hilang pengaruh hikayat”. Jadi menekankan cerpen dan puisi adalah mengkaitkan sastra Indonesia modern dengan akarnya yang terletak dalam sastra Melayu lama dan juga dalam sastra daerah. Sastra Indonesia modern bukan ciptaan ex nihilo, bukan akibat ajaib dari pengaruh Barat.

Saya merasa ada semacam distorsi, ada semacam jurang pemisah antara minat pembaca, atau pendengar Indonesia, dengan perhatian dan kepentingan pakar Barat. Selain itu khalayak pembaca Indonesia lebih tertarik oleh cerpen dan puisi — bentuk sastra yang justru sering dimuat dalam surat kabar dan majalah, dan sekarang muncul pula di dunia maya yang tidak selalu dikumpulkan dalam bentuk buku. Cerpen dan puisi merupakan bentuk sastra yang lebih terikat dengan tradisi kelisanan dan kebudayaan daerah. Puisi masih berperan sangat penting di kepulauan Indonesia. Dikatakan Mahayana : “puisi sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Nusantara” (hlm. 6). Namun kebanyakan pakar Barat (terutama yang sejarawan) tidak memberi tempat yang secukupnya kepada kajian puisi. Misalnya, dalam majalah Archipel, majalah tim penelitian Prancis tentang kepulauan Indonesia yang didirikan antara lain oleh Denys Lombard, hanya dimuat satu artikel tentang puisi Indonesia dalam kurun waktu 40 tahun. Peneliti Archipelyang terkemuka itu tidak pernah membahas puisi, walaupun Denys Lombard membimbing tesis Wing Kardjo tentang Sitor Situmorang. Hampir sama dengan Pak Henri Chambert-Loir, murid Denys Lombard yang menulis tesis tentang Mochtar Lubis dan meneliti manuskrip Melayu dari segi filosofi (yakni sejarah). Beliau menerjemahkan beberapa puisi Indonesia dengan jitu. Misalnya puisi Sitor Situmorang dan kumpulan puisi Priangan Si Jelita, Ramadhan KH, ke dalam bahasa Prancis. Akan tetapi, tidak pernah ia menguraikan puisi. Adapun Prof. Dr. Pierre Labrousse, penulis kamus Indonesia-Prancis yang mendirikan majalah Archipel dengan Denys Lombard, meneliti sastra dari segi sosiologi, seperti yang dilakukan Jakob Sumardjo.

Bertentangan dengan kritikus Prancis, Maman S. Mahayana banyak meneliti puisi. Ia menulis: “Puisi tidak lagi sekadar teks yang cukup sebatas dibaca di ruang pribadi sambil mengunyah permen karet, tetapi coba dikembalikan sebagai pentas publik dan sekaligus menjadi alat memprovokasi problem moral, ideologi, bahkan kehidupan politik bangsa ini. Di tangan Rendra, puisi menjadi gelombang sihir”. Meskipun kutipan tersebut mengacu pada seorang penyair Rendra, tulisannya mengandung makna yang cocok untuk puisi Indonesia pada umumnya. Ada tiga unsur penting yang dititikberatkannya: (1) hubungan antara puisi Indonesia dan kelisanan; (2) hubungan antara puisi Indonesia dan kehidupan politik; (3) hubungan antara puisi Indonesia dan tradisi.

Segi pertama dan kedua tidak boleh dimutlakkan. Misalnya Sapardi Djoko Damono, Sitor Situmorang, dan Chairil Anwar menulis puisi yang lebih metafisik, lebih introvert, daripada puisi Rendra atau Sutardji Calzoum Bachri. Puisi mereka mengungkapkan “curahan kalbu individu penyair” (hlm. 9). Puisi mereka bisa dibaca sendiri saja, tanpa menggetarkan bibir dan mengeluarkan suara. Namun, puisi juga sering dideklamasikan, dan kadang-kadang dipentaskan seperti drama, sebagaimana puisi naratif atau balada Rendra, yang juga sutradara dan pemain teater. Puisi sufistik sering lebih introvert (seperti puisi Acep Zamzam Noor) dibandingkan puisi yang bermuatan politik. Sedangkan puisi Taufiq Ismail, yang berhubungan dengan kejadian pada masa tertentu, sarat mengangkat persoalan politik.

Dengan puisi, Taufiq Ismail berusaha untuk “memberi penyadaran pada masyarakat pembaca” atau “menyentuh pikiran dan hati nurani pembacanya”. Namun, penyair Angkatan 66 ini juga berdeklamasi dengan gaya minimalis: gaya yang sederhana dan tidak berlebih-lebihan, tidak seperti yang diperlihatkan Rendra dan Sutardji, yang berdeklamasi dengan suara parau dan keras dan … (dulu) dengan bantuan bir. Mungkin kita bisa memisahkan puisi Indonesia dalam dua bagian, yaitu (1) puisi naratif dan puisi yang mengangkat tema-tema politik (seperti puisi Taufiq Ismail, Rendra dan sebagainya) dan (2) puisi lirik dan puisi sufistik (Sitor Situmorang, Sapardi Djoko Damono, Abdul Hadi WM, dan lain-lain). Namun, tentu saja di dalamnya selalu ada kekecualian.

Selain itu, tidak bisa dimungkiri bahwa kebanyakan penyair Indonesia, mau tidak mau, sadar atau tidak sadar, masih terikat dengan tradisi, dan bahkan sering “sadar betul pada tradisi” (hlm. 94) yang merupakan “roh kebudayaan” (hlm. 288). Sependapat dengan Mahayana, saya yakin bahwa menganggap puisi Indonesia modern sebagai tiruan puisi Eropa tidak lebih sebagai “gagasan sesat” (hlm. 6). Meskipun Muhammad Yamin dan Chairil Anwar meminjam bentuk puisi, seperti soneta dan sajak bebas, mereka tetap terpengaruh oleh tradisi. Armijn Pane pernah memperlihatkan bahwa pantun masih hadir di bawah sadar dalam soneta penyair Indonesia zaman Poedjangga Baroe.[1] “Artinya, Yamin belum sepenuhnya meninggalkan pengaruh pantun dan syair” (hlm. 7). 

Hubungan antara puisi dan sihir dibuktikan dengan dolanan bocah-bocah Sunda “untuk mengusir hujan, sekalian mengundang angin ketika mereka bermain layang-layang”  atau dengan doa yang maksudnya sebagai “bujuk rayu pada makhluk gaib, penguasa alam” (hlm. 5). Seperti doa yang “dibentuk dengan semangat menghadirkan kekuatan magis” (hlm. 5), puisi berasal dari mantra, yang merupakan “alat komunikasi dengan makhluk gaib” (hlm. 6). Dalam Kredo Puisi, Sutardji Calzoum Bachri memperbandingkan puisi dengan mantra, firman yang awal. “Pada mulanya adalah Kata,”[2] katanya dengan menguntip Injil Yohannes (bab 1, ayat 1) yang mengacu pada Perjanjian Lama, kitab Kejadian yang menceritakan ciptaan dunia dari firman Tuhan, seperti dalam Al-Quran: Kun, fayakûn(Surah Yâsîn: ayat 82). Jadi bertentangan dengan prosa, kalimat puisi berprentensi untuk tidak menggambar dunia, tetapi menciptanya.  Sitor Situmorang juga membandingkan penyair dengan tukang sihir, dengan medium yang menulis dalam trance.[3] Jadi puisi Indonesia sangat terikat dengan tradisi dan berasal dari firman yang lebih awal, seperti misalnya firman dari mitologi dan agama, termasuk Al-Quran sebagai “sumber segala sumber”.
Dengan demikian, kita bisa memahami betapa puisi Indonesia terkait dengan tradisi dan kekuasaan, baik kekuasaan politik (penyair tradisional, yakni pujangga adalah semacam pendeta yang mengabdi kepada raja dan melantunkan kemuliaan raja demi kesejahteraan negaranya), maupun kekuasaan magis (dengan puisi, penyair hendak memengaruhi makhluk halus dan daya kosmis). Saya juga yakin bahwa pengarang Indonesia tetap terpengaruhi oleh tradisi daerah, meskipun ada yang menolak tradisi tersebut dan berpihak ke Barat, seperti Sutan Takdir Alisjahbana. Sebaliknya, Sanoesi Pane menjawab kepada Takdir bahwa ada kaitan sejarah yang erat “antara anak pedati yang berpantun di dalam hati dengan Sutan Tadkdir Alisjahbana.”[4]
Kebanyakan penulis Indonesia terdidik dalam bahasa Indonesia, tetapi lahir dan besar dalam lingkungan bahasa daerah sebagai bahasa ibu. Misalnya, Sitor Situmorang menulis puisi pertamanya dalam bahasa Batak. Puisi tersebut merupakan terjemahan dari cerita Saijah dan Adinda karya Multatuli,[5] dan Soni Farid Maulana mendengarkan kidung neneknya dalam bahasa Sunda sebelum menulis puisi sendiri dalam bahasa Indonesia. Keadaan mereka seperti keadaan pencerita Perjanjian Baru yang menulis dalam bahasa Yunani dan berpikir dalam bahasa yang lain, atau seperti banyak cendekiawan yang berusaha menulis artikel ilmiah dalam bahasa Inggris, walaupun bahasa James Joyce itu bukan bahasa ibu mereka.

Kemajemukan kebudayaan dan kesusastraan Indonesia merupakan daya tarik dan sekaligus kendala. Kebudayaan dan sastra Indonesia berdialog dengan beberapa pengaruh asing (tidak hanya dengan Barat) dan berdialog juga dengan kebudayaan dan sastra daerah. Karena peneliti tidak bisa mengetahui semua sumber yang memengaruhi sastra Indonesia, kadang-kadang mereka memfokuskan satu pengaruh saja. Tidak mengherankan jika kritikus dari Barat menghubungkan sastra Indonesia dengan sastra Barat yang mereka kenal.
Saya sendiri tertarik pada kebudayaan Indonesia, karena kebudayaan Indonesia jauh berbeda dengan kebudayaan Prancis yang sangat terpadu. Banyak orang Prancis hanya bisa satu bahasa, yaitu bahasa ibu mereka, karena pemakaian bahasa daerah dilarang oleh pemerintah Republik, pada abad kesembilan belas, untuk menjaga persatuan nasional. Walaupun, orang Indonesia memiliki bahasa persatuan, mereka masih berbahasa daerah, ditambah bahasa Arab (untuk agama) dan Inggris (untuk usaha).

Sebagaimana yang ditulis Maman S. Mahayana: “kebudayaan Indonesia telah lahir sebagai hibrida” (hlm. 4). Kebudayaan Indonesia tidak dapat dipisahkan dari pengaruh bebagai suku bangsa, kebudayaan, bahasa dan agama, “terutama Islam Indonesia” yang berlabuh  di kepulauan. Orang Indonesia “menerima segala yang datang dari luar, tetapi juga tidak begitu saja mencampakkan pengaruh-pengaruh yang sudah ada”. Bahasa Indonesia memberi contoh yang ideal untuk memahami betapa kebudayaan Indonesia bisa sekaligus menjadi sangat terbuka terhadap pengaruh asing, meskipun dengan tetap menjaga kepribadiannya. Misalnya, perbendaharaan kata bahasa Indonesia banyak meminjam istilah asing: Sanskerta, Cina, Arab, Parsi, Barat (banyak kata Prancis: imitasirevolusitoleransisopirlosmenkusir, dll. dimasukkan dalam bahasa Indonesia melalui bahasa Belanda). Akan tetapi tata bahasa, susunan dan bentuk kata, sintaksis dan morfologi sama sekali tidak terpengaruh oleh bahasa asing dan tetap memperlihatkan cara mengungkapkan ketetapan ciri-ciri Nusantara. Dalam bidang sastra, kita melihat keadaan yang hampir sama. Kesusastraan Melayu banyak mengambil teladan, lewat terjemahan dan adaptasi, dari mancanegara: India, Cina, Arab, Parsi, dan Barat, namun tetap menjaga kekhususan dan kepribadiannya.

Kebudayaan Indonesia menerima pengaruh luar tanpa meninggalkan tradisinya sendiri yang majemuk. Kebudayaan Indonesia, termasuk agama dan sastra yang berada di Indonesia, tidak hanya meminjam secara pasif, melainkan juga menciptakan kembali unsur asing. Dalam bahasa Prancis, ada permainan kata yang tidak bisa diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia antara kata kerja adopter (mengangkat, menerima) dan adapter(menyesuaikan).

Berkat ketertarikan pada kemajemukan, kekayaan dan kerumitan kesusastraan dunia Melayu, Maman S. Mahayana membawa semacam koreksi atas pendapat pengamat sastra yang hanya menekankan pengaruh Barat dengan membuang unsur Melayu-Cina, topik Islam dan kebudayaan daerah. Dengan demikian, ia mampu memperdebatkan tesis beberapa pakar Barat yang terlalu mementingkan pengaruh Barat dalam pendirian dan kehidupan kesusastraan Indonesia modern. Misalnya, Luigi Santa Maria pernah menulis bahwa kesusatraan Indonesia modern merupakan kesusastraan Asia tenggara “yang paling kebarat-baratan”[6] dan A. Teeuw mengkaitkan awal kesusastraan Indonesia modern dengan penerbitan roman Balai Pustaka yang pertama, Azab dan Sengsara dari Merari Siregar.

Memang “kita tidak dapat menafikan begitu kuatnya pengaruh kebudayaan Barat dalam berbagai bentuk kesenian kita”. Namun, saya sependapat dengan catatan kritis yang ditegaskan Mahayana terhadap buku referensi A. Teeuw. Ia mencatat beberapa kelemahan : “(1) Teeuw tidak menggunakan sejumlah karya sastra yang bertebaran di surat-suratkabar dan majalah, (2) penempatan awal “lahir”  dan berkembangnya sastra Indonesia dimungkinkan oleh berdirinya Balai Pustaka yang nota bene adalah lembaga penerbitan kolonial, masih perlu dipertanyakan, (3) banyak nama yang tidak disinggung” (hlm. 35), antara lain, sastrawan dari Medan, terutama “sastrawan yang mengusung tema-tema Islam” (hlm. 35), sastrawan kiri, seperti Mas Marco Kartodikromo dan Raden Mas Tirto Adhi Soerjo (hlm. 117), dan sastra yang ditulis dalam bahasa Melayu Rendah, sampai karya SM Ardan yang menggunakan bahasa Betawi untuk pembicaraan dan dialog para tokohnya. Sastra yang ditolak oleh Teeuw adalah sastra yang “muncul di media massa atau belum tercetak dalam bentuk buku”.
Sudah lama, peneliti Barat tentang sastra Indonesia menyadari bahwa pendekatan estetis tidak cocok dengan realitas sastra Nusantara yang “selain memberi hiburan, juga menanamkan pendidikan” (hlm. 71). Jadi, sastra Indonesia tidak bisa dipahami dengan gagasan filsafat Immanuel Kant yang menekankan otonomi nilai estetik dan menganggap karya seni seperti makhluk hidup, jadi sebagai semacam keseluruhan, dengan mengabaikan bahwa makhluk hidup berada dalam sebuah lingkungan hidup dan berinteraksi dengan makhluk hidup yang lain. Namun, menolak pendekatan estetis tidak berarti mengikuti sejarawan dan sosiolog yang terlalu mengabaikan isi, bentuk, gaya dan jenis karya sastra. Sejarawan sering tidak memperhatikan jenis dan gaya sastra dan menganggap teks sabagai dokumentasi untuk mencari faktas historis.

Saya berkecenderungan untuk menganggap sastra sebagai salah satu discourse di antara banyak discourse yang dasar. Discourse Analysis memperbolehkan kita untuk tidak mensakralkan sastra dan juga tidak mereduksi sastra pada masyarakat dan sejarah. Tidak mungkin memisahkan teks dari konteks, tulisan dari institusi yang memungkinkan dan mengizinkannya hadir di tengah masyarakat. Makna karya sastra tergantung dengan teknologi ciptaan dan peredarannya. Menulis, menerbitkan atau mengirim langsung naskah di dunia maya tidak sama. Menulis di atas lontar, kertas atau komputer, tidak sama. Manuskrip yang dibaca di depan khalayak pendengar berbeda dengan buku yang bisa dibaca sendiri, dan lain-lain. Di luar media massa dan jenis sastra (genre), sastra terpengaruh oleh bahasa dan kebudayaan. Sebagai discourse yang dasar, sastra berdialog dengan politik, agama dan filsafat.

Saya kira, Maman S. Mahayana tidak menganggap remeh sastra yang bukan atau tidak bersifat akademik, dan selalu fokus ke masalah media massa, jenis sastra, golongan sastrawan dan institusi yang menentukan makna karya. Misalnya, Mahayana menganalisis dengan jitu karya Leila S. Chudori, 9 dari Nadira sebagai karya yang melampaui batas antara novel dan cerpen. Dengan demikian, Mahayana sebenarnya memang dekat dengan aliran Discourse Analysis, yakni aliran penelitian tentang sastra yang menolak perpisahan kajian seni dan sastra antara ahli estetik, yang menganggap karya sastra sebagai dunia tertutup (terpisah dari pengarang, masyarakat dan sejarah), di satu pihak, dan sejarawan dan sosiolog, yang kurang memperhatikan gaya dan jenis tulisan sastra, di pihak lain.
Dalam buku Kitab Kritik Sastra ini, Mahayana membahas banyak jenis sastra: cerpen, novel, puisi, esei dan topik-topik yang menarik, misalnya masalah terjemahan dan “fokus penceritaan” (hlm. 299). Mahayana juga menulis tentang sastra Korea, Malaysia dan Arab (Ibn Thufail), dan juga tentang Mahabharata, sastra sufistik dan sastra daerah.
Dalam pembicaraan tentang puisi Sapardi Djoko Damono, Mahayana sering menyebut kehadiran paradoks dalam puisinya, seperti dalam larik : “Saya sedang keluar”, ungkapan yang merupakan kontradiksi antara kehadiran penutur dan arti ungkapannya. Penutur mesti hadir untuk mengatakan bahwa dia tidak hadir. “Bagaimana mungkin si aku liris menyatakan sedang keluar, padahal yang mengatakan itu dirinya sendiri”. Dalam sastra sufistik, paradoks juga berperan penting. Untuk penyair Azwina Aziz Miraza, “Tuhan berada entah di mana, tetapi terasa begitu dekat”. Dalam cerpen sufistik, sering ada pertentangan antara kesederhanaan cerita dan kedalaman isinya. “Bagaimana persoalan biasa, remeh-temeh, dan tak penting itu justru sebenarnya mengungkapkan problem kemanusiaan yang paling hakiki, yaitu hubungan manusia dengan Tuhan”. Dalam Olenka Budi Darma, paradoks juga hadir dan garis batas antara fiksi dan novel, fiksi dan karya ilmiah dipersoalkan oleh foto dan catatan kaki, “yang dalam tradisi ilmiah sebagai pengukuh dan alat legitimasi rujukan faktual, diolok-olok Budi Darma” (hlm. 86).

Sudah waktunya pembaca coba membuka buku Maman S. Mahayana ini. Ia menganggap bahwa: “tidak benar jika dikatakan masyarakat kita (: Indonesia) tidak punya tradisi kritik” (hlm. 3). Seperti yang dikatakan Muhammad Haji Salleh untuk sastra Malaysia,[7] Maman S. Mahayana menemukan dan menunjukkan kepada kita tradisi kritik Indonesia yang majemuk, dan juga mengambil bagian dalam tradisi tersebut dengan membawa hasil penelitiannya sendiri. Tidak ada tradisi tanpa kesetiaan dan pembaruan, keterbukaan kepada tradisi yang lain dan pembelaan tradisi kita sendiri. Buku Kitab Kritik Sastra ini memberi banyak fakta, renungan dan pemikiran kepada kita. Atas sumbangan pemikirannya yang sangat penting dan relevan mengenai kritik sastra Indonesia, saya hanya bisa mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih.

Paris, Musim Dingin, 28 Januari 2015
_________
[1] Armijn Pane, “Sonet dan Pantun,” dalam H.B. Jassin, Pujangga Baru, Pustaka Jaya, hlm. 262-268.
[2] Sutardji Calzoum Bachri, “Kredo Puisi”, O, Amuk, Kapak, Horison, 2002, hlm. 5.
[3] Sitor Situmorang, Bunga di atas Batu, Gramedia, 1989, hlm. 350-352. Namun Sitor mengakui bahwa “ciptaan” penyair sangat berbeda dengan ciptaan Tuhan: “si penyair bukan membuat sesuatu dari yang tiada” (hlm. 350).
[4] Achdiat K. Mihardja, Polemik Kebudayaan, Pustaka Jaya, 1977, hlm. 22
[5] Sitor Situmorang, Bunga di atas Batu, Gramedia, 1989, hlm. 355-358.
[6] Luigi Santa Maria dalam H. Chambert-Loir (ed.), La Littérature Indonésienne: Une Introduction (Sastra Indonesia: Sebuah Pengantar), Archipel, Paris, 1994, hlm. 109.
[7] Muhammad Haji Salleh, Yang Empunya Cerita. The Mind of the Malay Author, Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur, 1991 ; The Poetics of Malay Literature, Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur, 2008.

14 Agustus 2018

Slamet Sukirnanto: Mengenang Penyair yang Merawat Kesusastraan Indonesia


Oleh Sihar Ramses Simatupang

Hanya rawa/Aku ingin bicara/Roh padang terbuka/Merintih ke angkasa.//

Hanya rawa/Dirimu di sana/Cermin tubuh dan jiwa/Makin melebar/Membelah luka.//

Jarak waktu antara periode 1960-an hingga sekarang yang setengah abad lebih, membuat kenangan generasi milenial ketiga pada kisah prahara politik, ideologi dan kebudayaan hanya menyisakan dokumentasi yang tercatat di buku sejarah. Di dalamnya, tentu saja termasuk peristiwa Manifestasi Kebudayaan dan Lembaga Kebudayaan Rakyat yang keras menentangnya.

Slamet Sukirnanto, penyair yang berpulang 23 Agustus 2014 pada usia ke 73 tahun adalah sastrawan Angkatan 1966, sebagaimana halnya kita mengenal sosok Taufiq Ismail, Wahid Situmeang, dan banyak lagi sastrawan lainnya.

Sebelum tahun 2010, Slamet Sukirnanto sering terlihat dalam aktivitas kesenian di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Lelaki bertubuh kecil dan berambut pendek itu tampil dengan gaya sederhana. Pakaiannya rapi, lebih suka mengenakan kemeja ketimbang kaus oblong, sama sekali tak mengesankan sosok yang “tak hanya” pernah mengisi kebudayaan Indonesia, tetapi juga sejarah kebangsaan dan politik Indonesia di masa silam. Dialah salah satu sastrawan yang pernah mengukir sejarah Manifestasi Kebudayaan.

Seperti dikatakan sastrawan Eka Budianta lewat surat elektroniknya, "Slamet Sukirnanto tidak pernah jaga gengsi, apalagi jaga jarak dengan sastrawan muda atau penyair marginal. Saya senang bersamanya membantu beragam acara Komunitas Sastra Indonesia di Tangerang.”

Kepergian Slamet Sukirnanto, seketika mengurut kembali puisi-puisinya. Buku puisinya: Kidung Putih (1967), Jaket Kuning (1967), Gema Otak Terbanting (1974), Bunga Batu (1979), dan Catatan Suasana (1982).

Ciri khas karya penyair ini selain lembut nuansanya, plastis, juga kerap mengangkat berbagai lokasi alam setiap dia berkeliling mengunjungi wilayah baru di Indonesia. Petikan teks di atas adalah bagian dari puisinya yang berjudul “Hanya Rawa” yang ditulis dengan titimangsa Banjarmasin, Mei 1979. 

Karya Slamet Sukirnanto menjejak sendiri di tengah protes blak-blakan seperti disuarakan Taufiq Ismail atau sajak-sajak liris Sapardi Djoko Damono. Puisi-puisi Slamet kadang tampak simbolik, meski masih terang mengacu pada situasi nyata yang dihadapi publik.

Dengan demikian, kendati ada terasa bentuk liris dan kontemplatif pada puisinya, Slamet tetap tak menihilkan kondisi sosial-politik yang terjadi di luar dirinya. Hal ini bisa jadi dipengaruhi jejak perjalanannya.

Putra dari pelukis R Goenadi itu juga pernah aktif menentang Orde Lama, antara lain lewat kumpulan sajaknya dalam bentuk stensilan yang berjudul “Jaket Kuning” (1967).

Ia pun pernah menjadi anggota DPRGR dan MPRS sebagai wakil mahasiswa pada 1967-1971. Fenomena ini dilihat Eka Budianta sebagai peran pentingnya dalam perpuisian Indonesia “mengesahkan sastra di kancah politik. Ia terpilih menjadi anggota MPR(S) karena artikulasinya sebagai penyair muda sekaligus mahasiswa pejuang."

Hal itu sangat berguna sebagai legitimasi untuk sajak-sajak lain sebagai alat perjuangan bagi angkatan 1966. Sejak saat itu puisi selalu dipakai untuk berdemo, unjuk-rasa, pidato politik.
Maka bersama Slamet ada Taufiq Ismail, Mansur Samin, Goenawan Mohamad, dkk yang tampil membawa angin baru, zaman baru. Sebelumnya, politik bisa masuk sastra tapi tidak sebaliknya. “Sayang cuma sebentar - karena Pak Harto kurang memanfaatkan sastra untuk mengisi program pembangunan yang dipujanya. Jadinya - cuma fisik,” papar Eka lagi.

Slamet Sukirnanto, sebagaimana sastrawan lain dari kalangan mana pun, mulai LKN, Lesbumi, Manifestasi Kebudayaan hingga Lekra, adalah zamrud panjang sejarah sastra Indonesia yang tak bisa lekang dari catatan kebangsaan kita.

Ia penggerak kesusastraan, kesenian sekaligus kebudayaan Indonesia. Untuk itu, perlu lagi disitir pendapat Eka, setelah kematian sosok penyair yang satu ini. “Untuk generasi sekarang, sebaiknya tidak melupakan Slamet Sukirnanto. Orangnya bersih, tegas, dan tak banyak pamrih. Ia contoh pekerja seni yang sederhana, jujur, dan teliti. Semoga di antara anak muda ada yang siap meneliti karya-karyanya,” ujarnya.

Dalam pembicaraan tentang Slamet, sastrawan yang dijuluki Presiden Penyair Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri, menyatakan kesedihannya. "Slamet, kawan seperjuangan dan kepenyairan. Kami kerap tampil bersama dalam berbagai kegiatan sastra," ujar Sutardji. Ditambahkan pula, penting artinya mengenal Slamet Sukirnanto, agar masyarakat dapat menghargai dunia kepenyairan kita.

Penyair lainnya yang juga Angkatan 1966, Taufiq Ismail, mengatakan, Slamet adalah pelaku sejarah dan termasuk golongan muda di masa itu – termasuk Taufiq yang usianya 6-7 tahun lebih muda.

Menurut Taufiq, pengalaman Slamet bersama kawan yang sebaya dengannya itulah yang menempanya untuk menulis jaket kuning. Aktivitas Slamet di bidang politik dan kehidupan sosial memerlihatkan wawasan dan perhatiannya yang luas sekali pada masalah kebangsaan. “Tak terlupakan, dia juga merespon masalah sensitif di Indonesia, termasuk apa yang harus dilakukan bangsa ini lewat puisinya seperti pembauran dan toleransi. Dia gigih dan terus menerus melaksanakan kegiatan tersebut,” ujar Taufiq.

Buku dan Keluarga

Bagi putra Slamet Sukirnanto, Fajar Sidiq, pribadi penyair besar ini dapat akrab sebagai seorang bapak yang menyenangkan, figur orangtua yang hangat namun juga tetap tertib di dalam kehidupannya. Para penyair kerap mampir ke rumahnya, sebutlah penyair Leon Agusta, Sutardji Calzoum Bachri, hingga Rendra. Mereka sering mampir ke rumah Slamet sehingga anak-anak penyair yang beristrikan Bulkis Sukirnanto ini terbiasa dengan dunia kesenian.

Namun, yang unik, ayahnya itu melarang anak-anaknya menjadi seniman. Slamet bilang, dirinya tak ingin ada dua seniman di rumah ini. Namun, kenyataannya, Fajar yang diterima di Fakultas Hukum Universitas Indonesia, justru memilih kuliah di Komunikasi Massa di Universitas Sebelas Maret dan Institut Seni Indonesia Jurusan Seni Rupa di Surakarta. Berkarya seni rupa, malah kerap aktif sebagai pengamat dan kurator seni visual di berbagai tempat dan di berbagai karya perupa Indonesia. Takdir yang tak dapat dicegah sang ayah.

“Ayah saya menyerah. Akhirnya, mau tak mau dia menerima penampilan baru rambut gondrong saya yang kelihatan nyeniman waktu itu,” ujar putra keenam Slamet ini, ketika diminta mengenang mendiang ayahnya.

Kecintaannya pada dunia pendidikan dan keilmuan ternyata dibawa Slamet Sukirnanto ke dunia keluarga. Buku-buku di dalam rak rumah berisikan banyak bidang keilmuan dari filsafat, buku sastra, hingga biografi. Buku-buku itu pun disosialisasikan kepada enam anaknya.

Hal itu diakui Fajar, "Ketika itu, bapak menjejali kami buku-buku biografi. Mulanya kami tak mengerti kenapa itu penting, ternyata biografi akan berefek, agar kita mencintai dan bangga kepada tokoh masa lalu. Termasuk keberhasilan mereka, para penemu, tokoh budaya dan teknologi,” tutur Fajar.

“Bapak tak pernah memaksa, tapi dia menjadikan rumahnya sebagai jendela dunia. Dia menggiring anaknya ke toko buku atau lapak buku loakan. Saya terbiasa ke Jalan Kramat (lapak buku bekas-red) untuk menemani ayah saya,” katanya.
   Begitulah sosok penyair Slamet Sukirnanto dan kita mengenangnya sebagai penyair yang menyadari peran kepenyairannya dalam kehidupan berbangsa!

12 Agustus 2018

Puisi Irawan Sandhya Wiraatmaja


MUKADIMAH

Kali ini kita boleh menikmati puisi “Giang, Surat itu,” karya Irawan Sandhya Wiraatmaja. Puisi ini termuat dalam buku antologi Giang Menulis Sungai, Kata-kata jadi Batu (Jakarta Kosa Kata Kita, 2017), yang kemudian mendapat Anugerah Hari Puisi 2017.

Sengaja puisi itu yang dipilih dan disajikan di sini. Tujuannya, agar kita dapat mencermati salah satu teks puisi dalam antologi itu secara lengkap. Dengan cara begitu, terbuka peluang hadirnya perspektif dan tafsir lain. Implikasinya akan lahir pula makna lain.
​Pada dasarnya, setiap karya sastra –dalam hal ini, puisi—bersifat unik, khas, dan berbeda satu sama lain. Karakteristik itu dimungkinkan lantaran setiap kata dalam puisi, selain bermakna denotatif, makna leksikal sebagaimana yang tercatat dalam kamus, juga menyimpan makna konotatif, makna kiasan yang menawarkan arti lain. Metafora selalu menyembunyikan makna konotatif.

Mengingat metafora merupakan salah satu unsur penting dalam puisi, maka puisi yang baik—puisi yang sebenar-benarnya puisi—akan mendorong pembaca mencantelkan teks puisi dengan pengalaman spiritual, keluasan wawasan, dan kedalaman menafsir dan memaknai.

Puisi “Giang, Surat itu” dibangun dengan kekuatan metafora yang tak lazim. Dalam beberapa larik puisi itu, ketaklazimannya menegaskan perbedaan dengan kecenderungan penyair lain yang memanfaatkan benda-benda alam sebagai leksem menyusun metafora. Meski begitu, diksi yang ditawarkan Irawan Sandhya Wiraatmaja, tidaklah berada dalam lorong gelap. Di sana ada clue, isyarat, tanda, trik atau kata kunci sebagai celah memasuki dunia puisinya. Di situlah puisi itu tidak tergelincir pada ruang gelap gulita, tetapi tidak juga memberi cahaya yang terang benderang.

 Jadi, ia berada dalam wilayah remang-remang: agak gelap dan tak benderang.
Tentu saja isyarat atau pesan dalam Mukadimah ini tidak serta-merta mesti dipercayai. Skeptisme perlu dipelihara agar kita tidak terjerumus pada golongan orang yang taklid buta. Tak termasuk pula sebagai umat yang memberhalakan konon kabarnya sebagai sumber rujukan. Mukadimah sekadar lanjaran belaka. Selebihnya terserah Anda.
Selamat menikmati!

Tim Redaksi



Irawan Sandhya Wiraatmaja 
GIANG,  SURAT ITU

1//
Giang,  menuju hilir kita mengayuh surat itu
Di antara orang-orang yang duduk di perahu satu-satu
Kaki-kakinya membagi ruang, dan arus waktu
Mengalir menyusuri tubuh  sungai yang pucat dan kotor

Mencari napas di lalu lalang perahu yang bergoyang
Tak akan karam, katamu. Karena surat itu adalah
Kehidupan yang selalu ditulis dan dibaca sebagai
Kitab perjalanan yang tak pernah tamat-tamat

Tapi kau selalu tersenyum
Membuka kembali surat-surat yang ada di mata-mu
Sebagai cerita yang panjang untuk istri
Yang menunggu di rumah: berbagi senyap dan hati

Untuk berlayar dengan perahu yang tua
Sebelum surat-mu selesai, dan kau masukan dalam kenangan.

2//
Giang, surat yang ditulis masa silam, di antara rimbun
pohon bambu di akar-akar  bakau menjadi napas
Dalam  jejak-jejak langkah  yang sembunyi
Di pinggiran sungai-sungai
Yang memanjang berliku-liku, dengan air coklat
Mengalir sampai muara, ketika ombak tidak sampai

Pada perahu kayu yang oleng, membawa tubuh kecil
Dengan tangan letih, gemercik kayuh membawa sauh
Hulu ke arah hilir, dan matamu seperti
Warna matahari yang terbelah di sela-sela daun
Bergoyang dimainkan arus yang tiba-tiba berputar
Dan kau terperangah oleh suara-suara cericit burung

Yang terbang memintas garis langit, di kaki laut
Tak pernah tercatat, dan tak selalu disebut
Sungai itu adalah kelahiran-mu.

3//
Jangan lupa kau tutup pintu  dalam  surat itu, Giang
Karena rumah-mu adalah kenangan
Yang selalu kau bawa dalam tas  yang kau sandang

Selalu kau menulis di daun-daun kelapa, yang bergayut
Sebagai helai dan halaman kitab, yang tak pernah luput
Untuk berbicara dalam bahasa yang kau pahami

Di atas garis langit, seperti tergambar matahari
Angin yang berdesir, dan sebuah senja
Yang  nanti akan menjadi buah anak-anakmu

Sebelum waktu menutup kelambu, di mana
Kau selalu berbaring, bergelinjang dengan napas istrimu
Ketika anak-anak bermain di bawah pohon, yang daun-daunnya

Memerah dan menguning di bawah semburat cahaya
Di tanah yang basah dan merekah: dan kau masih menulis.

4//
Jendela surat itu harus kau buka, Giang
Dan kau akan mendengar suara-suara rumpun  bambu
Bergesekan dengan masa lalu

Biar kau tulis kata-kata yang menghampir pada
Musim yang berdesir, di balik perahu kayu yang membawa
masa silam  sebagai  jarak dari kenangan

yang menjadikan suratmu sebuah jejak
di antara tanah yang menggaris kehidupan: tua dan senyap 

5//
Suratmu yang menulis di sungai adalah air yang mengalir
Menghilir-hilir, di antara pohon bakau dengan daun-daunnya
Terkulai berjuntai di sela-sela cahaya matahari
Siang yang terik, di tengah riak dan  suara kerinduan

Yang kau tulis dalam surat-surat yang tak pernah terkirim
Ketika kau masih mengayuh sampai ke tepian
Waktu yang menjadi arus menuju ke laut 
sampai ke tongkang perahu

Dan kau menarik tubuh, di ujung kemudi untuk membawa
Anak-anak angin kembali mendesirkan musim.

6//
arus muara, dari ujung laut yang membuka
mengalir suratmu membawa riak-riak kecil, sebelum
ada yang mengapung di atas air, hilir ke sebalik daun bakau

wajahmu tirus, di bayang-bayang matahari, yang terpejam
dalam waktu muram
ada yang temaram, dalam catatan surat, sepotong kalimat

yang kau bawa pulang ke rumah di kampung yang pernah hilang
sebuah kerinduan yang harum kekekalan, tanah yang coklat.

7//

Giang, tak ada rumahmu dalam surat  yang ditulis
di halaman depan, sebuah beranda kayu untuk masa lalu

mungkin kau lupa, karena terlalu sering
kau buka pintu dan jendelanya.  tak ada kata-kata

yang bisa jadi suatu ingatan, yang membuatmu ingin menulis
di lembaran kertas yang tua dan berwarna coklat

seperti  air sungai di depan matamu: berabad-abad mengalir
sebagai waktu yang memintas,  tak pernah kembali melihat

ke belakang, di antara daun-daun rumpun  bambu dan pohon
bakau yang berderetan seperti rumah dari masa silam

ketika kau masih anak-anak berlarian.....

8//
sudah malam Giang. Waktu pun telah larut di dalam
cangkir kopi yang hitam. Sudah terasa di belahan lidah
yang memanjang usia. Dan kau tersenyum

ketika menulis surat yang hampir selesai
sambil mematut kalimat di depan kaca: retak dan buram
matamu serupa lampu-lampu jalanan. Semakin temaram

berpijaran membagi cuaca yang sampai
di antara etalase bertubuh perempuan, dan kau tertawa
mengalirkan arus kota dalam kelelapan hotel-hotel.

9//
Giang, jangan kau lahirkan kembali anak-anak
di kota yang penuh asap dan ledakan
peperangan yang membakar  tubuh kemanusiaan

Diam  saja sudah. Tidak ada lagi api untuk membenci
agar bumi menjadi rumahmu yang teduh
untuk  menulis surat-surat kerinduan. Yang lama

tersimpan  dalam tumpukan
helai-helai waktu dan musim yang luruh
dari kitab nenek moyangmu

Sejarah dalam tubuhmu adalah luka
di jantung yang menjadi catatan muasal
rahim yang terkoyak di abad-abad lalu

Februari 2016


BIODATA
Irawan  Sandhya   Wiraatmaja 
Lahir tanggal 21 Juni di Jakarta. Pendidikan S3 diselesaikan di Universitas Indonesia. Korrie Layun Rampan  memasukan penyair ini ke dalam Angkatan 2000. Menulis sastra, kebanyakan puisi dan  pernah menulis cerita pendek (cerpen), esei sastra dan artikel sosial politik dan ekonomi. Karya-karyanya telah dimuat di berbagai surat kabar dan majalah terbitan Jakarta, Bandung, Banjarmasin, Padang, Tanjung Pinang, Semarang dan Yogyakarta, seperti Suara Karya, Suara Karya Minggu, Berita Buana dan Buana Minggu, Prioritas, Harian Merdeka dan Merdeka Minggu (alm), Rakyat Merdeka, Harian Pelita, Harian Terbit, Sinar Harapan, Suara Pembaruan dan Suara Pembaruan Minggu, Republika, Jurnal Nasional, Pikiran Rakyat, Indo Pos, Koran Tempo, Media Indonesia, Kompas, Haluan, Tanjung Pinang Pos, Majalah Panji Masyarakat, Zaman, Hai, Gadis, Wahyu, Buletin Sastra Kanal, Horison dan Basis. Sajak-sajaknya terkumpul dalam antologi bersama Sketsa Sastra Indonesia, Pendopo, Forum Penyair Muda Jakarta, Puisi Indonesia (1997), Angkatan 2000 (Gramedia, 2000), Palagan Sastra (2016), Antologi Puisi Matahari Cinta Samudera Kata (Hari Puisi 2016), Kopi Penyair Dunia (2016), Rumahku Jalan-Jalan Macet (2017), Cimanuk, Di mana Burung-Burung Kini Telah Pergi (2016), Lelaki Bercelana Kulot di Sebuah Pesta Pernikahan (Oase, 2017), Sejuta Suara Yang Anarki Dalam Nadi ( Oase, 2017), Ingatan dan Kenangan ( Sigi Media, 2016), Aku Pulang Ketika Segalanya Pergi (Kaifa, 2017), Penyair Nusantara (SSAN Publisher, 2017), Balada: Tak Akan Habis Dilahap Hari (Genio, 2017), Negeri Di Awan (2017), Batik Si Jelita (2017), Perempuan Era Teknologi Dalam Puisi (2018), Ketika Kata Berlipat Makna (2018), The First Drop of Rain (2017), Negeri Bahari (2018), Pesona Antologi Puisi 7 Negara (2018). Wewangian Kembang (Malaysia, 2018).  10 Nominator Kekata Kawindra Award 2016 dan CSH Award (2017).   Pemenang ke 2 Bebuku Publisher (2016) dan Pemenang ke 2 sayembara penulisan puisi Hari Bumi 2017 (Fam Indonesia).
Kumpulan puisi tunggalnya Anggur, Apel dan Pisau Itu (Teras Budaya, 2016), Dan Kota-Kota Pun ( Kosa Kata Kita, 2016), Giang Menulis Sungai, Kata-kata Jadi Batu ( Kosa Kata Kita, 2017) dan Air Mata Topeng (Kosa Kata Kita, 2017)  serta Serpihan Esei Sastra dan Sosial Politik, Teror Di Antara Dua Ideologi (Kosa Kata Kita, 2016). Buku Puisinya, Giang Menulis Sungai, Kata-kata Jadi Batu ( Kosa Kata Kita, 2017) memenangkan Anugerah Puisi Terbaik HPI Tahun 2017. Kumpulan Puisi terbarunya, Ideologi Ibu dan Baju yang Koyak (2018). Sejak awal tahun 2014 menjabat  sebagai kepala ANRI. Tahun 2014-2016 menjabat sebagai President of Sarbica (Southeast Asian Regional Branch of International Council on Archives).  Di samping itu pernah juga mengajar di Universitas Indonesia, Universitas Pajajaran, STIA-Lembaga Administrasi Negara, STIE IPWIJA, Universitas Az-Zahra dan STIMA Yaksi, Jakarta.

Pembahasan Orang-orang yang Kenes

oleh Asrul Sani

MENULIS tentang kesusastraan, ialah menulis perihal derita, kegembiraan, kepahitan, dan kemanisan yang telah dialami, pengalaman yang telah jadi kesadaran dan kemudian beroleh bentuk dalam kata yang membentuk kalimat dan kalimat yang menjadikan karangan. Tiada yang dapat mengingkari bahwa kesusastraan dan kata adalah kulit dan manusia. Kita tiada akan dapat menulis tentang kesusastraan jika pengarang-pengarang menyelesaikan deritanya dengan sebuah keluh atau ia berurai air mata ataupun mengepalkan tinju.Karena bagaimana murni pun perasaan yang menjadi sumber air mata itu, ia tak akan lebih dari air mata biasa: belum kesusastraan. Setiap puisi terdiri dari kata, kata yang liar dan kasar, kemudian dijinakkan oleh penyair dan dipatuhkannya kepada kehendaknya.

Dan air mata penyair? Itu adalah urusannya sendiri. Jika baru tinggal pada air mata, publik tiada hak mencampurinya, karena ia hanya sekadar menjalankan kehidupan pribadinya. Air mata itu baru penting jika ia telah jadi puisi atau prosa. Pengarang baru jadi penting kalau ia mengarang. Jika pekerjaan ini tidak ia lakukan, maka tidaklah ia mencampuri kehidupan orang lain dan karena itu, tidak akan kita campuri. Mungkin sekali seorang pengarang adalah manusia yang termasyhur. Tetapi jika selidiki apa sebetulnya arti kemasyhuran seseorang, maka akan nyatalah bahwa ia tidak lebih dari suatu pendapat umum atau suatu kepatuhan umum yang tidak diucapkan terhadap suatu pendapat, suatu zaman, suatu mode. Ada kata lain yang dekat sekali dengan kata ini, tapi sering orang kacaukan dengannya. Kata itu ialah “penghargaan”, dan kata ini lebih lagi bisa dipercayai karena penghargaan terhadap seorang sastrawan adalah soal orang-seorang, dan darinya tak dapat diceraikan sebentar juga hasil pekerjaan pengarang itu, tulisan-tulisannya.

Jika orang menulis perihal kesusastraan, maka orang dapat menulis untuk dua golongan: untuk pengarang, dan untuk orang banyak. Untuk pengarang, karena ia dengan menulis telah mencampuri kehidupan kita. Dan karena itu, kita mau menyatakan kepadanya apakah ia dalam perbuatannya itu telah berlaku sewajarnya. Apakah ia jujur, apakah betul dasar kenyataan yang ia kemukakan dan sebagainya. Kita menentangnya atau menyertainya, karena ia menulis. Yang ditentang dan disertai  ialah tulisannya.

Kita menulis untuk orang banyak karena kita mengakui bahwa orang banyak itu penting. Publik ini juga penting bagi seniman yang beranggapan bahwa tujuannya ialah hasil pekerjaannya itu sendiri, atau seniman yang beranggapan seni untuk seni.  Sebab sebuah karangan belum lagi mencapai tujuannya jika ia baru berbentuk buku dan belum dibaca. Seperti juga sebuah lukisan belum lagi mencapai tujuannya, jika ia baru berbentuk benda dan belum lagi dilihat. Karena setiap hasil seni mengandung “beban”, dan “beban” ini dikandungkan untuk  dikeluarkan kembali. Jika dilihat dari sudut ini, maka benarlah bahwa dengan perjuangan yang telah ia lakukan dan ketinggian tingkat kejiwaannya. Watak Awal atau dokter dalam buku Belenggu, atau Raskolnikov atau Josef K. tidak akan beroleh bentuk dan hidup jika pembaca tak dapat mengeluarkannya dari perumusannya.

Pengeluaran isi hasil seni adalah rahmat karena di dalamnya terkandung keterharuan dan kenikmatan. Ia adalah “nafkah” kita waktu membaca buku. Kritik kesusastraan dalam hal ini membenarkan hak hidupnya sebab ia tidak saja menyatakan dan menyebarkan kesusastraan yang telah dibuat itu, tapi lebih-lebih karena ia adalah semacam pasukan-pasukan yang termaju ke depan yang akan membebaskan daerah-daerah baru bagi kita dan dengan demikian mempertinggi nafkah kita waktu membaca hasil kesusastraan. Majalah-majalah kesusastraan baru dapat menghalalkan kehidupannya jika ia mempunyai kecondongan-kecondongan seperti yang dilakukan oleh pasukan-pasukan terkemuka ini. Ia membantu orang banyak membentuk kesusateraan.

Tetapi, baik kita menulis bagi golongan pertama, baik bagi golongan kedua, selamanya yang menjadi pokok pangkal ialah yang telah dituliskan. Jadi, kita senantiasa berada di belakang pengarang, karena tiada mungkin dan tiada ada gunanya kita mendahului pengarang dalam membicarakan kesusastraan. Saya mengikatkan segalanya pada kata, kepada yang dituliskan, malahan samapi saat ini ia saya pentingkan benar. Sebabnya ialah karena dalam kritik kesusastraan kita ada yang terbalik. Seperti juga dalam kehidupan politik, di mana tokoh lebih penting daripada pekerjaan, demikian juga kritik kesusastraan kita (sekiranya itu ada) lebih berpusat kepada pengarang dan tidak kepada karangan. Kalau orang mau membahas kesusateraan, maka yang orang pertengkarkan ialah pengarang dan sering bukan apa yang telah ia karang.

Jika seseorang menyerang pengarang lain, maka umumnya karangannya tidak lebih dari kekenesan dirinya sendiri. Barangkali ia tidak begitu lembut seperti biasa kita temui pada perempuan-perempuan pesolek. Ia mungkin sangat lantang dan keras. Tentu. Karena ia seorang yang “kesusahan” , karena ia sedang diterorisir kekenesannya sendiri. Tiada akal yang lebih baik untuk memuaskan keinginan bersolek ini daripada menyerang orang lain dan mencoba menjaga dalam perkelahian ini supaya pakaian sendiri jangan kotor. Orang ini mencoba menyelamatkan diri di balik kelancaran tulisan dan dengan itu mengelakkan permintaan orang kepada alasan. Pertengkaran ini adalah pertengkaran burung merak. Merak yang memakai bulu burung lain karena untuk menyatakan kecantikan dirinya sendiri ia perlu perbandingan. Untuk menyelamatkan diri sendiri diangan-angankannya sifat yang diserangnya, sifat-sifat yang dalam pembicaraannya tidak ia beri alasan.

Hanya dari sudut ini dapat saya lihat tulisan-tulisan Sitor Situmorang yang ia siarkan dalam Mimbar Indonesia (pelbagai surat) dan “Gelanggang” (pelbagai catatan), hanya dari sudut ini dapat saya lihat ucapannya yang mengatakan bahwa Jassin telah berlaku sebagai anak stambul dalam tulisannya “Selamat tinggal tahun 1952”. Hanya dari sudut ini dapat saya lihat ucapan Pramoedya Ananta Toer yang mengatakan bahwa para pembicara simposium di Amsterdam adalah pembicara-pembicara salon, hanya dari sini dapat saya lihat jika Jassin pada suatu saat dalam suratnya kepada saya yang kemudian ia siarkan dalam Zenith nomor dua tahun ini bahwa Rivai Apin adalah pengekor Camus. Segala yang mereka katakan itu tiada mereka beri alasan sama sekali, dan jika kita minta kepada mereka untuk mensitir bagian-bagian karangan pengarang-pengarang yang diserang, yang menyebabkan mereka beroleh pendapat seperti yang mereka tuliskan, maka saya kira tiadalah mereka akan dapat mengadakan. Jassin tidak dapat menyatakan karangan mana dari Rivai Apin yang dapat menunjukkan bahwa ia dalam tahun 1953 tidak akan bisa hidup jika tidak ada Camus. Apakah Saudara Situmorang dapat menunjukkan dalam tulisan-tulisan Asrul Sani, bahwa jika ia berbicara tentang keisengan adalah ia membicarakan keisengan dilihat dari sudut memiliki kulkas? Tiada seorang pun yang akan keberatan jika hal itu dituliskan dalam surat pribadi kepada seorang kawan. Di sana berlaku hukum-hukum lain. Tetapi jika surat ini disiarkan, maka sifatnya berubah sudah. (Demikan juga halnya dengan surat saya kepada Jassin yang ia siarkan dalam Zenith dengan tak ada persetujuan saya sendiri.

Karangan ini tidak saya maksud untuk menyambut berbagai hal yang dikemukakan oleh Saudara-Saudara Situmorang atau Ananta Tour atau siapa pun. Saya sebut nama mereka sebagai contoh dari keadaan yang ada dalam kehidupan kesusastraan kita sekarang ini. Permainan kekenesan dengan tak ada alasan ini telah begitu jauh, sehingga tak memperjernih pandangan kita terhadap kesusastraan. Orang barangkali akan mengatakan bahwa ini adalah suatu praktik dari vorm en vent (generasi Mennoster Braak di negeri Belanda) yang diperjauh. Tapi biarpun begitu, hal ini cuma bisa berlaku jika pengarang menulis. Ia didasarkan pada tulisan, tulisan yang menjadi hak milik orang banyak. Jika Dirk Coster tidak menulis, maka du Perron juga tidak akan bicara tentang dia. Kita bicara tentang Chairil Anwar sebab ia menulis sajak. Dalam hubungan sajak-sajaknyalah akan kita cari di mana tempatnya dalam kesusastraan Indonesia, tidak dalam hubungan kehidupannya di Karawang atau Cikampek. Tentu pengetahuan tentang kehidupan yang ia jalankan akan memperjelas beberapa sajak-sajaknya bagi kita. Tapi tidaklah ia berubah tempat karena ia pernah tinggal di sana. Orang selalu mensenyawakan sajak-sajak Chairil dengan seorang revolusioner. Mungkin ia dalam kehidupannya, dalam perjuangannya, tapi dalam sajak-sajaknya ia adalah suatu contoh dari “konsekuensi kebebasan”, konsekuensi yang harus dijalankan setiap orang yang mulai sadar akan harga dirinya, kesadaran yang membawa sertakan kesunyian. Kesunyian yang disebabkan bebasnya ia dari dan belum bebasnya ia untuk.

Tapi bagaimanapun harga Chairil dalam kesusastraan ialah harga dari sajak-sajaknya sendiri. Tidak usah ikut beramai-ramai ke kuburan Raden Saleh untuk memastikan bahwa ia seorang pencipta bangsanya dan mengganti “Ridder dan sebagainya” dengan “nasionalis”. Barangkali ia memang nasionalis dan ia cinta kepada bangsanya. Dalam zaman ini sudah menurut cara-cara kini namanya itu, jika ia disebut pahlawan karena kita perlu pahlawan. Mau tidak mau ia harus jadi pahlawan karena ia sudah mati. Tapi ia pelukis. Atas nama ini ia masuk dalam sejarah. Oleh sebab itu, maka ia baru jadi orang besar jika telah nyata tempatnnya dalam seni lukis kita.

Dalam kesusastraan, orang harus diberi tempat atau dibuang sama sekali karena kegiatan-kegiatan kesusastraannya. Untuk ini kita harus mengemukakan alasan. Baik hal ini kita teliti kembali. Angkatan muda kesusastraan telah menyerang angkatan sebelumnya dengan sejadi-jadinya. Ia masih muda dan karena itu, pengetahuannya tidak cukup banyak. Tetapi ia tahu apa yang ia mau dan apa yang tidak ia suka. Yang ia tidak suka ini, ia kumpulkan dalam beberapa garis besar, dalam beberapa generalisasi, dan sesudah itu ia hanya memusatkan pikirannya kepada apa yang ia maui lagi. Senjatanya bukan alasan, tapi kegiatan. Akhir-akhirnya kesusastraan Indonesia sekarang ini terbiasa dalam kegigihannya ini. 
Sekarang juga masih gigih, tapi makin lama makin nyata bahwa dengan kegigihan ini saja ia belum lagi dapat melepaskan senjata seterus-terusnya. Orang tidak bisa dianggap angin, mereka punya tempat berdiri di bumi Tuhan ini. Bukan itu saja. Jika tiada lagi yang berani mengingkari kita, maka lucu sekali jika kita masih tinggal gigih. Kita akan kehabisan energi karena mengasyiki diri sendiri. Kita harus gigih dengan alasan-alasan yang lahir dari kenyataan-kenyataan, Pengeritik harus bekerja dengan kenyataan (tulisan atau ucapan yang diperuntukkan bagi umum) dan alasan. Kalau tidak, “percakapan” yang akan berlangsung adalah seperti percakapan berikut ini:

“Saya tahu siapa pengarang terbesar di negeri ini. Si Anu itu tidak penting sama sekali,”
“Siapa pengarang terbesar itu? Mengapa?”
“Ah! Saya segan berbicara tentang diri saya sendiri.”

Bahwa seniman seorang pesolek adalah soal yang biasa. Sungguhpun begitu tidaklah dapat dibiarkan jika ia menyinggung hak bersolek orang lain dan tidaklah ia menjalankan kesusastraan lagi jika ia mencoba memasukkan keinginannya untuk bersolek itu dalam hubungan-hubungan sosial. Ini cuma bisa terjadi jika pengarang lebih menghargakan kedudukan lain daripada mempergunakan mediumnya sendiri, jika pengarang lebih menyukai untuk menjabat kedudukan penting daripada melakukan pekerjaannya:mengarang.
                                           
                                                      Siasat, 4 Oktober 1953

11 Agustus 2018

Perjalanan Puisi Naratif

oleh Maman S Mahayana

Hari Puisi - Ada banyak cerita tentang tradisi puisi kita. Konon, sumbernya dari Eropa, khususnya Belanda. Muhammad Yamin memperkenalkan soneta. Ia lalu dianggap yang mengawali tradisi puisi Indonesia (modern). Sutan Takdir Alisjahbana (STA, 1946) menyebutnya puisi baru untuk membedakannya dengan puisi lama. Garis pemisahnya terjadi abad ke-20. Bagi STA, sebelum abad itu, puisi lama sebagai pancaran masyarakat lama, zaman jahiliyah, pra-Indonesia. Selepas tahun 1900, bergeraklah puisi (baru) Indonesia. Gagasan itulah yang membentuk dikotomi puisi lama—baru, tradisional —modern. Buku yang disusun Sapardi Djoko Damono (2003), Puisi Indonesia sebelum Kemerdekaan, mewartakan lain. Ia menguak sejumlah puisi abad ke-19.


Sapardi juga tidak menafikan kuatnya pengaruh Barat, “… yang menyebabkan para penulis puisi kita mempertimbangkan cara penulisan baru,” meski juga jejak pantun dan syair tidak dapat dihilangkan. Jika A. Teeuw (1967, 1980) dan pengamat sastra lain, mengabaikan khazanah sastra di surat-surat kabar dan majalah, Sapardi justru memanfaatkannya sebagai sumber data. Maka, terbentanglah benang merah perjalanan perpuisian Indonesia.
***
Penerbitan surat-surat kabar berbahasa Melayu dengan huruf Latin, sesungguhnya menandai keterdesakan tradisi penulisan Arab-Melayu di Nusantara. Memang, tradisi itu tidak seketika mati, tetapi lambat-laun ia terpinggirkan juga. Bahasa Melayu dengan huruf Latin, makin menyebar luas. Mereka yang menguasai bahasa Melayu dengan huruf Latin dengan sendirinya dapat memegang kendali arah perjalanan bahasa dan sastra Melayu. 


Dalam hampir semua surat kabar awal yang berbahasa Melayu, seperti Bintang Utara (Rotterdam, 1856), Slompret Melayu (Semarang, 1860), Biang-lala (Betawi, 1867), Bintang Djohar (Betawi, 1873) atau Tjahaja India (Semarang, 1886)—sekadar menyebut beberapa, pemuatan karya sastra laksana jembatan yang menghubungkan sastra bertuliskan Arab-Melayu ke aksara Latin. Itulah sebabnya, pemuatan karya sastra di surat-surat kabar menjadi bagian penting untuk menarik jumlah pembaca yang belum dapat melupakan khazanah sastra yang berkembang sebelumnya. Dengan begitu, pemuatan karya sastra dapat meningkatkan juga oplah surat kabar. Untuk itulah redaksi membuka peluang bagi pembaca mengirimkan tulisannya yang berupa apa saja. Di sana, kita berjumpa dengan berita, surat pembaca, ucapan selamat, hikayat, cerita, syair yang dimuat bersambung, atau teka-teki yang ditulis dalam bentuk pantun. 


Biasanya, redaksi sengaja memuat karya sastra yang sudah dikenal publik, terutama dari khazanah sastra Jawa, Melayu klasik atau terjemahan cerita Timur Tengah. Tetapi syair, pantun, dan cerita pandak—yang kini dikenal cerpen—sebagiannya berasal dari kiriman pembaca. Pada saat itu pengertian pantun dan syair (selanjutnya disebut puisi), sering dipertukarkan tempatnya. Akibat tiadanya ketentuan yang ketat itu, para penulis puisi, leluasa mengangkat berbagai persoalan. Ada ucapan tahun baru, pertanyaan tentang harga langganan, penyambutan ulang tahun koran bersangkutan, penerka (teka-teki), peristiwa sehari-hari atau kejadian aktual yang pernah diberitakan. Semuanya ditulis dalam bentuk syair atau pantun.


Dalam surat kabar Bintang Barat (2 September 1890), misalnya, diberitakan di lapangan Gambir ada perayaan ulang tahun Wilhelmina. Berita itu jadi lebih berkesan, karena ada beberapa bait puisi diselipkan di sana. Menyelipkan puisi dalam sebuah berita ketika itu memang lazim. Tujuannya, untuk menambah daya tarik bagi pembaca. Tetapi, tidak sedikit pula puisi yang ditulis dalam konteks tertentu. Dalam surat kabar Bintang Djohar (1873), Tjahaja India (1886), Bintang Barat (1890), atau Pembrita Betawi (1896), ucapan selamat Natal, Paskah, tahun baru, pengangkatan bupati atau kedatangan pejabat Belanda, ditulis dalam bentuk puisi. Ketika Gubernur Jenderal Mr. A.J. Duijmaer van Twist ke Tondano, Minahasa, Bintang Oetara (8 Mei 1857), memuat puisi (tanpa judul) khusus untuk itu. 


Sebelumnya, di surat kabar itu (5 Mei 1857) dimuat pula 35 bait puisi “Toewan Djendral, J. Merkus” untuk mengenang kematiannya. N.N., penulisnya, menceritakan prosesi penguburan Sang Jenderal. 

Pemuatan puisi itu, dalam banyak hal, menggambarkan situasi sosial zamannya. Puisi “Pantun Pembunuhan,” (Tjahaja India, 9 September 1886), misalnya, mengungkapkan peristiwa pembunuhan yang dilakukan seorang mandor di Jombang. Adapun puisi berjudul “Tjerita Kroe Residensi Bencoelen” yang ditulis Awoer Litjin (Pembrita Betawi, 5 November 1895) mengungkapkan peristiwa gempa bumi di Pasar Kroe, 20 Oktober 1895. 


Begitulah, cerita dan berita dalam puisi bukanlah hal baru. Sejak dulu, sastra memang berfungsi begitu. Rupanya, banyak pembaca menyukai model puisi naratif seperti itu. Maka diterbitkanlah puisi-puisi naratif dengan label syair atau pantun yang mengungkapkan berbagai persoalan sosial zamannya. Claudine Salmon (1985) menempatkan fase itu sebagai kebangkitan syair (1886—1910). Tetapi karena syair dan pantun hidup dan tumbuh di luar mainstream Balai Pustaka dan STA menambahkannya dengan konotasi negatif, perkembangan jenis puisi ini seperti sudah selesai. Padahal, benang merah tradisi puisi naratif dalam perpuisian Indonesia cikal bakalnya dari pantun dan syair. 
***


Berbeda dengan hikayat, dongeng atau cerita (prosa) yang leluasa menyampaikan deskripsi dan narasinya, puisi, pantun dan syair) berhadapan dengan berbagai keterbatasan, seperti pembaitan, jumlah kata dalam larik, dan persajakan untuk membangun rima. Dalam proses kreatifnya, penyair kerap merasa terikat pada konvensi itu. Oleh karena itu, selalu ada kata, kalimat atau istilah yang perlu penjelasan di luar teks puisi. Di sinilah awalnya digunakan keterangan penjelas atau yang belakangan disebut catatan kaki (footnote). Dalam beberapa puisi yang dimuat di sejumlah surat kabar yang disebutkan tadi, kita kerap menemukan keterangan penjelas (catatan kaki) yang rupanya memang sudah lazim. 


Ihwal catatan kaki, bagi penulis Tionghoa atau para penyair Pujangga Baru, seperti Rustam Effendi, Yogi, Tatengkeng, dan sederet nama lain, juga bukan perkara baru. Salah seorang penyair Lekra, Klara Akustia (1957) dalam beberapa puisinya, menyertakan juga catatan kaki. Hal yang sama dilakukan Ridwan Saidi dalam antologi puisinya, Lagu Pesisiran (2008). Jika kita menyisir sejumlah besar puisi Indonesia, pencantuman catatan kaki sudah terlalu lazim. Oleh karena itu, sama sekali bukan sesuatu yang istimewa.


Jika kita menengok jauh ke belakang, beberapa catatan penjelas ditemukan juga dalam syair-syair Hamzah Fansuri yang bertuliskan Arab-Melayu. Dalam banyak naskah syair yang memakai huruf Jawi, catatan penjelas ditempatkan di pinggir halaman. Contoh kasus yang baik mengenai perkara ini dapat kita cermati pada karya Abdullah Munsyi, Syair Singapura Terbakar (1843). Amin Sweeney (2005, 2006) yang menerbitkan hasil transliterasinya, lengkap dengan berbagai penjelasan karya Abdullah, mengungkapkan, bahwa teks Melayu hanya mengenal catatan penjelas. Pencantuman keterangan di kaki halaman, sulit dilakukan pada naskah tulisan Arab-Melayu. Oleh karena itu, catatan penjelas itu ditempatkan di ujung teks atau di pinggir halaman, meski fungsinya tidak berbeda dengan catatan kaki.


Kini jelas, puisi naratif tidak datang dari langit. Tradisinya bersumber dari syair. Puisi yang memakai catatan kaki, juga bukan perkara baru. Jadi, siapa pun boleh menulis puisi dengan menyertakan catatan kaki. Tetapi, ketika ada penulis puisi yang menggunakan catatan kaki, lalu mengklaim sebagai paradigma baru, klaim itu sudah lama kedaluwarsa, tunasejarah, datang larut malam, dan seperti mengajari ikan berenang. 


Sumber: Kompas, Sabtu, 4 Agustus 2018, hlm. 25
 
Copyright ©2018 | Hari Puisi | All Rights Reserved | Publisher: Yayasan Hari Puisi
infoharipuisi@gmail.com