HARI INI

Saturday, 16 June 2018

Puisi Yana Risdiana


Mukadimah

Salam Hari Puisi Indonesia

Setelah minggu sebelumnya tidak ada naskah yang lolos untuk dimuat, minggu ini kami kembali menerima naskah dari 35 penyair dari berbagai kota, seperti Palembang, Luwu, Purwakarta, Bandung, Jakarta, Sumatera Barat, Madura, Samarinda, Pekalongan, Riau, Kudus, Sulawesi Selatan, Jombang, Maluku Utara, Mojokerto, Bogor, Pemalang, Semarang, Sumenep, Indramayu, Banten, dan lainnya.

Tim Redaksi menyeleksi secara ketat dan menyerahkannya kepada kurator sejumlah naskah pilihan. Kemudian kurator memilih satu naskah untuk dimuat, yakni puisi berjudul "Larik-Larik dari Jurus Dasar Silat Cimande" karya Yana Risdiana dari Bandung. Dalam puisi tersebut, tampak permainan citraannya lincah, tanpa kesan memaksakan diri. Maka, metafora yang dihadirkan di sana, membuka ruang tafsir yang berbagai.

Menurut Kurator, inilah salah satu puisi yang tepat untuk dimuat di antara puisi lainnya yang masih terkesan tanpa penghayatan dengan pengucapan yang artifisial.

Terima kasih kepada semua penyair yang telah mengirimkan karya. Kami tunggu karya-karya selanjutnya. Selamat menikmati. Selamat lebaran, selamat liburan. Mohon maaf lahir dan batin.

Jakarta, 17 Juni 2018
Tim Redaksi



Yana Risdiana
LARIK-LARIK DARI JURUS DASAR SILAT CIMANDE

/1/
Teunggeul Sabeulah

Sasaran atau alasankah yang ingin kau kepalkan
Ketika empat jari bersujud tenang di telapak tangan
Kini tak ada yang lebih tinggi di antara mereka
Dan tak ada celah untuk ruang bergerak
Hingga ketundukan mereka dirapatkan tanpa jarak
Sementara ibu jari dalam geming
Menjaga kesejajaran baris dan sama-sama bersujud
Di sebelah telunjuk.

Sebab atau tujuankah yang akan kau bariskan
Saat lengan atas sampai bawah kau luruskan
Dengan otot-otot yang terbentuk oleh kelenturan akal
Dan kekokohan fitrah hati yang mengarahkan
Setiap pukulan tanpa sebuah sikutan pun.

/2/
Kelid

Takdir penuh tabir dan tak sekadar tergaris
Dalam pukulan balasan atau sapuan
Kadang tangkisan yang bersih dari umpatan
Akan membuka kenyataan tentang ketidaktahuan
Atau lalai oleh keberingasan angan ingin menjadi abadi
Hingga saat telapak tanganmu membendung
Satu tonjokan kesumat, terbacalah garis tangan
: peruntungan tidak datang dari kepalan amarah
  tapi dari jari-jari yang sujud dan takjub
  kepada nama-nama Pemilik Semesta.

Dan lawanmu diam-diam ingin mencium tanah
Tempat asal kita mengada.

/3/
Selup

Terbukalah rahasia tangkisan bertangan gesit
Saat menangkap lengan ketakutan, bagian atasnya
Kau lemahkan dengan kepalan cahaya
Jika kau rasakan ada yang merambat ke seluruh tubuhmu
Seperti beralih menjadi kekuatan baru, sadarlah
Itu bukanlah milikmu, segera kau alirkan sampai ke bumi. 

/4/
Timpah Sabeulah

Pilihan melampaui amsal persimpangan
Jika ia bercabang empat, mungkin ada jalan kelima
Yang tak kau sangka-sangka, terbit dari niat
Hasil tetirah panjang mencari jalan lapang
Tanpa khayalan dan membuang gairah di luar arah.

Kau tidak akan mampu merangkum semua pilihan itu
Untuk diambil seluruhnya, karena selalu saja
Hasil penggabungan hanya mengabaikan kerlinganmu
Pada titik-titik sasaran yang diam-diam
Telah kau kurangkan dan disimpan di sudut mata terjauh.

/5/
Timpah Serong

Tangkisannya bukan musim gugur
Yang bersitahan pada siasat warna daun
Saat melawan jurus angin dan menyerahkan
Gugurannya di tungkai kaki lawan.

Ia juga tidak serupa kemarau
Yang membuat seterumu parau
Menahan sisa keringat tubuhnya
Agar tidak luruh sebagai tetesan terakhir
Dari mata air persendian yang mulai kering.

Kau hadirkan tangan-tangan yang gigih
Menangkap pergelangan tangan lawan
Di mana sekepal kesabaran dan selengan keinginan
Saling bertumbukan, lentingkan urat keseimbangan
Mencari cara kembali ke ihwal kesetiaan
Yang bukan sekadar berhitung
Di ketinggian ujung kepalan tangan.

2018




Yana Risdiana, lulusan Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran (1999) dan Magister Hukum Universitas Airlangga (2015). Puisinya termuat, antara lain, dalam Hikayat Secangkir Robusta: Antologi Puisi Krakatau Award 2017; The First Drop of Rain: Antologi Banjarbaru's Rainy Day Literary Festival 2017; Mengunyah Geram: Seratus Puisi Melawan Korupsi (2017), Epitaf Kota Hujan (2018), dan Antologi Puisi Pematangsiantar (2018). Kini Yana Tinggal di Bandung.



_
 Cara kirim naskah


Monday, 11 June 2018

Undangan Antologi Puisi Perayaan HPI 2018 di Makassar


Info Hari Puisi - Tidak terasa sudah setahun lewat perayaan/pesta puisi di Hari Puisi Indonesia 2017 di Makassar. Dengan semangat itu kembali kami, setelah perembukan beberapa sahabat penyair yang mau berlelah menyelenggarakan PESTA PUISI di HARI PUISI INDONESIA 2018 dengan beberapa acara yang telah ditetapkan, pada tanggal 23 s.d. 28 September 2018 di Pantai Pasir Putih BIRA- BULUKUMBA.
Dalam kegiatan itu, kami kembali akan menerbitkan Antologi Puisi dengan Tema LAUT, BICARALAH! BERCERITA TENTANG LAUT. Mari wahai penyair mengeksplor puisi laut tentang kedalaman dan keluasannya, gelora gelombang, ombak yang tersengal setelah sampai di bibir pantai yang makin seksi dalam kemodernannya.
Syarat dan ketentuan
1. Karya berupa puisi
2. (Tema: LAUT, BICARALAH! BERCERITA TENTANG LAUT)
3.Karya Puisi maksimal dikirim 5 puisi (1 file) tahun pembuatan 2017/2018. bila mengirim lebih dari 5 puisi tidak dilayani.
4. Karya Puisi yang masuk akan diseleksi dengan ketat (tidak pakai hati) oleh kurator
5. biodata singkat digabung dalam 1 file dengan karya puisi
6. Nama file MS Word karya yang dikirim harus sama dengan subjek surel;
7. Pengiriman karya dibuka mulai 11 Juni 2018 sampai 1 Agustus 2018.
8. Penerbitan Buku Antologi tidak dipungut biaya (GRATIS)
9. Diutamakan yang berdomisili di Sulsel atau yang punya hubungan emosional dengan Sulawesi Selatan
10. Buku Antologi ini berkuota 100 penyair.
11. Buku tersebut akan diluncurkan pada puncak perayaan Hari Puisi Indonesia 2018 di Sulawesi Selatan/Makasssar
12. Karya dikirim melalui surel kepada: gunmonoharto@yahoo.com dengan subjek: Nama Pengirim – Judul Puisi.
13. Demikian disampaikan. Terimakasih.
Kurator:Asia Ramli Prapanca
Penyelenggara

Thursday, 7 June 2018

10 Poster Terbaik Perayaan HPI 2017


Info Hari Puisi - Luar biasa! Itulah kata yang tepat untuk melukiskan Hari Puisi Indonesia 2017 sebagai tahun kelima hari puisi Indonesia. Salah satu kelebihan HPI 2017 adalah banyaknya perayaan HPI 2017 di sejumlah daerah di Indonesia, mulai dari Aceh, Papua, sampai Taiwan. Sekitar 74 poster pearayaan HPI 2017 dari berbagai daerah tersebut dipamerkan di lobi GGB Taman Ismail Marzuki, Jakarta selama 3-4 Oktober 2017.

Pada Malam Anugerah Acara HPI 2017, Yayasan Hari Puisi mengumumkan 10 Poster Terbaik Perayaan HPI 2017 sebagai berikut:

1. Komunitas  Sastra dan  Seni Serunai, Bukittinggi (Arby Tanjung)
2. Komunitas Rumah Dunia, Banten (Gol A Gong)
3. SSBS, Sumba, NTT (Kristopel)
4. Pesantren Rahmatul Asri, Sulawesi Selatan (Suhartini)
5. Komunitas Rumah Sunting, Riau (Kunni Masrohanti)
6. Forum Sastra Bogor, Bogor (Ace Sumanta)
7. Macandahan, Kutai Kartanegara (Khalish Abniswarin)
8. Komunitas HPI Kalbar (Pradono)
9. Sobat Literasi Jalanan Palembang, Palembang (Wanda Lesmana)
10. Sanggar Sastrowidjojo, Bojonegoro, Jawa Timur (Gampang Prawoto)

Melalui penghargaan ini, Yayasan Hari Puisi mengucapkan terima kasih kepada semua kepada penyelenggara perayaan HPI 2017 se-Indonesia.

ISBN, Buku, dan Buah Apel

Info Hari Puisi - International Standard Book Number (ISBN) atau Nomor Standar Buku Internasional adalah pengindentikasian yang khas untuk buku-buku yang digunakan secara komersial. Sistem ISBN diciptakan di Britania Raya tahun 1966 oleh seorang pedagang buku dan alat-alat tulis, W.H. Smith. Awalnya disebut Standard Book Numbering (SBN) yang diterapkan sampai tahun 1974. Sistem ini diadopsi sebagai standar internasional ISO 2108 tahun 1970. Pengidentifikasian yang sejenis adalah International Standard Serial Number (ISSN) yang dipakai untuk publikasi periodik seperti majalah, jurnal, dan sebagainya. Pengajuan ISBN pada Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI), dan ISSN kepada Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)
ISBN ditujukan untuk penerbitan buku. Nomor ISBN tidak bisa digunakan sembarangan, karena diatur oleh lembaga internasional yang berkedudukan di Berlin, Jerman. Untuk memperoleh ISBN, siapapun dapat menghubungi perwakilan lembaga ISBN di tiap negara yang telah ditunjuk oleh lembaga internasional ISBN. Perwakilan lembaga internasional ISBN di Indonesia adalah PNRI sejak ditunjuknya lembaga resmi negara tersebut menjadi badan nasional ISBN untuk wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia tahun 1986. Kesepakatan bersama (Memorandum of Understanding) antara Internasional ISBN Agency dengan Perpustakaan Nasional RI untuk urusan ISBN ditandatangani pada tanggal 31 Maret 2005. Penerbit yang mengajukan permohonan ISBN harus memenuhi beberapa persyaratan, yaitu:
(1) Mengisi formulir surat pernyataan untuk penerbit baru yang belum pernah bergabung dalam keanggotaan ISBN;
(2) Menunjukkan bukti legalitas penerbit (akta notaris, surat keputusan, akta kesepakatan, atau surat-surat resmi yang dapat dipertanggungjawabkan);
(3) Membuat surat permohonan di atas kop surat resmi penerbit atau badan yang bertanggung jawab;
(4) Melampirkan halaman judul, halaman balik halaman judul, daftar isi, dan kata pengantar.
Permohonan dapat disampaikan melalui jasa pos, faksimili, e-mail, online, atau datang langsung ke PNRI tanpa dikenakan biaya. ISBN terdiri dari 10 digit nomor dengan urutan penulisan adalah kode negara-kode penerbit-kode buku-no identifikasi. Namun, mulai Januari 2007 penulisan ISBN mengalami perubahan mengikuti pola EAN (European Article Number), yaitu 13 digit nomor. Perbedaannya hanya terletak pada tiga digit nomor pertama ditambah 978. Jadi, penulisan ISBN 13 digit adalah 978-kode negara-kode penerbit-kode buku-no identifikasi.
Awalan ISBN untuk negara Indonesia adalah 979 dan 602. Contoh pola ISBN untuk buku-buku di Indonesia:
• 978-979-penerbit-kode buku-no identifikasi
• 978-602-penerbit-kode buku-no identifikasi
• 979-979-penerbit-kode buku-no identifikasi
• 979-602-penerbit-kode buku-no identifikasi
Untuk rujukan yang lebih lengkapnya, silakan lihat Prita Wulandari dan Ratna Gunarti (Peny.), Pedoman penyelenggaraan layanan ISBN, ISMN, KDT dan Barcode Perpustakaan Nasional RI, Jakarta: Perpustakaan Nasional RI, 2014. Begitulah keterangan yang ditulis Wikipedia Indonesia. Begitu pentingnya ISBN bagi penulis, penerbit, dan PNRI, maka kini proses pengajuan ISBN, dirancang semudah mungkin. Jika mengurus sendiri dengan datang ke PNRI, prosesnya berlangsung selama 15 menit. Jika melalui e-mail atau online, prosesnya memakan waktu lima hari kerja.
Lalu apa manfaatnya sebuah buku perlu menyertakan ISBN? Mengingat PNRI ditunjuk sebagai perwakilan lembaga internasional ISBN di Indonesia, maka PNRI tidak hanya bertugas memberi pelayanan bagi siapapun yang mengajukan permohonan ISBN, tetapi sekaligus juga mencatat dan menyebarkannya ke perwakilan lembaga internasional ISBN lainnya di seluruh dunia. Dengan demikian, sebuah buku yang memiliki ISBN, datanya otomatis menyebar ke mancanegara, meski buku tersebut diterbitkan secara indie di hutan belantara sekalipun.
Terlepas dari kualitas isinya, buku tersebut dapat ditempatkan sejajar dengan buku lain yang punya ISBN yang diterbitkan penerbit manapun di dunia. Buku itu seketika menjadi bagian dari buku-buku lain yang tercatat dengan standar internasional, karena punya legalitas yang diakui masyarakat perbukuan dunia. Perlu ditambahkan di sini, toko buku Gramedia –dan entah toko buku lainnya—menolak menjual buku-buku yang tidak punya ISBN, semata-mata lantaran perkara legalitas. Buku tanpa ISBN dianggap ilegal, oleh karena itu, isinya dianggap tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Di zaman yang segalanya serba digital, digitalisasi apa pun, terutama buku dan bahan cetak lainnya, tentu saja sungguh sangat penting. Meskipun begitu, hendaknya kita tidak buru-buru pula beranggapan, bahwa pencetakan buku sudah tidak penting lagi. Buku cetak, selain berada di jalurnya sendiri, juga memberi kesempatan bagi mereka yang belum akrab dengan kehidupan internet dan merasa belum nyaman membaca dari kotak gawai dan layar monitor.
Hal lain lagi yang perlu menjadi perhatian adalah peranan PNRI. Sebagai lembaga resmi yang ditunjuk untuk mengeluarkan ISBN, Perpusnas RI berkewajiban pula mengoleksi semua buku yang telah diberi ISBN. Di pihak lain, salah satu kewajiban penerbit yang mengajukan ISBN ke PNRI adalah mengirimkan 2-3 eksemplar contoh bukunya. Jadi, ketika buku tersebut terbit, penerbit -tanpa perlu diminta- wajib mengirimkannya ke PNRI. Pengiriman buku tersebut, selain untuk tujuan dokumentasi, juga memudahkan PNRI mengirimkan data tentang satu atau sejumlah buku yang memiliki ISBN, ketika ada seseorang, lembaga, atau institusi dalam dan luar negeri, bertanya atau mencari buku yang bersangkutan.
Mengingat PNRI yang mengeluarkan ISBN, maka -mestinya- semua buku yang memiliki ISBN, tersedia secara lengkap di PNRI, menjadi koleksinya, dan tercatat di buku besar koleksi PNRI. Jika penerbit tidak mengirimkan buku hasil terbitannya, jawabannya ada tiga kemungkinan:
(1) Penerbit itu, penerbit “abal-abal” yang tidak menghargai penulisnya;
(2) Penerbit itu, penerbit “jahanam” yang tidak tahu etika dan terlalu pelit mengeluarkan ongkos kirim;
(3) Penerbit itu, penerbit “siluman” yang produksinya cuma “fotokopian” kurang dari 10 eksemplar sebagaimana yang dipesan penulis atau pengarang bukunya sendiri. Jika itu yang terjadi, bagaimana mungkin buku itu bisa menjadi koleksi Perpusnas RI yang dapat diakses masyarakat dunia.
Coba, datanglah ke PNRI dan cari pengarang atau judul buku, maka akan muncullah apa yang kita cari. Jika tak mau repot dan ingin tetap duduk manis di depan layar komputer dan mencarinya lewat internet, cukuplah klik website resmi PNRI dan ikuti petunjuk yang ada, maka terpampanglah banyak pilihan. Tinggal kita klik buku atau referensi yang kita perlukan. Di sana, tersedia juga koleksi digital. Pertanyaannya, apakah semua buku yang memiliki ISBN sudah masuk koleksi digital? Tentu saja belum semua, tetapi, langkah digitalisasi semua koleksi PNRI terus dilakukan. Prioritas utama digitalisasi adalah buku-buku langka dan referensi penting. Biasanya, buku yang paling banyak dibaca atau dicari masyarakat, akan segera dilakukan digitalisasinya.
Nah, itulah dasar petimbangan, mengapa Yayasan Hari Puisi Indonesia mensyaratkan buku yang diseleksi untuk memperoleh penghargaan, wajib memiliki ISBN. Jadi, ISBN tidak ada kaitannya dengan predikat penyair dan kepenyairan. Ia semata-mata bermaksud agar buku apapun, terutama buku puisi yang terbit di Indonesia, dapat menjadi bagian dari warga masyarakat perbukuan dunia.
Begitulah, wahai hadirin pembaca yang mulia. Berbaik sangka, jauh lebih terhormat daripada berburuk duga, apalagi bersikap apriori lantaran “sindrom buah apel”.
Depok, 12 Maret 2017
Maman S Mahayana

Sumber: http://www.haripuisi.com/arsip/1846

Buku Puisi Paling Tebal di Indonesia


Info Hari Puisi - Yayasan Hari Puisi menerbitkan antologi puisi paling tebal di Indonesia yakni 2016 halaman. Jumlah halaman buku ini mengacu pada tahun perayaan Hari Puisi Indonesia 2016. Buku yang disusun oleh Rida K Liamsi ini memuat karya 216 penyair dari berbagai daerah di Indonesia lintas profesi dan generasi. Mulai dari usia penyair paling tua 80 tahun sampai usia penyair paling muda, yakni 14 tahun.

Buku yang diberi judul Matahari Cinta Samudra Kata dan diterbitkan Yayasan Sagang ini diluncurkan oleh Bapak Jusuf Kalla selaku Wakil Presiden Republik Indonesia pada Malam Anugerah Hari Puisi Indonesia 2016 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 12 Oktober 2016. Para penyair yang hadir dan karyanya dimuat mendapatkan dua eks buku sebagai nomor bukti dan bentuk terima kasih. Sedangkan penyair yang tidak hadir hanya mendapatkan satu eks buku yang dikirimkan melalui pos ke alamat yang bersangkutan.

Berikut para penyair yang karyanya dimuat dalam buku ini:

1. Abdul Kadir Ibrahim
2. Abdul Wachid B.S.
3. Abu Akhwan
4. Ace Sumanta
5. Acep Zamzam Noor
6. Ade Novi
7. Adi Prasatyo
8. Aditya Dwi Yoga
9. Ahmad Ijazi Hasbullah
10. Ahmadun Yosi Herfanda
11. Ahmad Zaini
12. Alma Aulia
13. Almukhlis
14. Alex R. Nainggolan
15. Anisa Afzal
16. Anisa Isti
17. Anwar Putra Bayu
18. Arini Airiaririn
19. Aris Abeba
20. Aris Kurniawan
21. Asril Koto
22. A Slamet Widodo
23. Aspar Paturusi
24. Asrizal Nur
25. Ayu Cipta
26. Ayu Fransiska
27. Bagus Styoko Purwo
28. Bambang Widiatmoko
29. Barozi Alaika
30. Betta Anugrah Setiani
31. Budhi Santoso
32. Budhi Setyawan
33. Chavchay Syaifullah
34. Cikie Wahab
35. D Kemalawati
36. Dede Supendi
37. Dedi Mulyadi
38. Dedi Saputra
39. Dedy Tri Riyadi
40. Della Red Pradipta
41. Dewandaru Ibrahim S
42. Dheni Kurnia
43. DG. Kumarsana
44. Dian Hartati
45. Dian Rusdiana
46. Dianing Widya
47. Dody Kristianto
48. Doddi Ahmad Fauji
49. Eddie MNS Soemanto
50. Eddy Pramduane
51. Eddy Pranata PNP
52. Edo Pratamadani
53. Eka Budianta
54. Endang Supriadi
55. Ewith Bahar
56. Fajar Chaidir Qurrota A’yun
57. Fakhrunnas Ma Jabbar
58. Fatih Muftih
59. Fauzan Akbar Fasha
60. Fatin Hamama Rijal Syam
61. Febria Zela Syabilla
62. Fedly Azis
63. Fikar W.Eda
64. Fileski
65. Firdaus Akmal
66. Fitrah Anugerah
67. Galeh Pramudianto
68. Galih Pandu Adi
69. Gantari Yasa
70. Genkidama Hendi
71. Gus tf
72. H. Rusli Marzuki Saria
73. H. Shobir Poer
74. Hadi Sastra
75. Hang Kafrawi
76. Harko Transept
77. Harfan Min Kitabillah
78. Hasan Aspahani
79. Hasan Bisri BFC
80. Hasan Al Banna
81. Hasmiruddin Lahatin Aisyah
82. Hasta Indriyana
83. Hayyul Mb
84. Hendrik Efriyadi
85. Hendromasto Prasetyo
86. Herlela Ningsih
87. Herman RN
88. Hermawan
89. Heru Antoni
90. Heru Untung Leksono
91. Hilda Fauziah
92. Hoesnizar Hood
93. Humam S. Chudori
94. Husnu Abadi
95. Igun Prabu
96. Iman Sembada
97. Irawan Sandhya Wiraatmaja
98. Irna Novia Damayanti
99. Irpan Rispandi
100. Irwan Sofwan
101. Irwanto Rawi Al Mudin
102. Isbedy Stiawan ZS
103. Ivo Trias J
104. Iwan B Setiawan
105. Iyut Fitra
106. Jack Efendi
107. Jamal T. Suryanata
108. Jefry AL Malay
109. Jim B Aditya
110. Jimmy S Johansyah
111. Joko Sucipto
112. Jose Rizal Manua
113. Julia Hartini
114. Juftazani
115. Jumari HS
116. Kazzaini K
117. Ketut Syahruwardi A
118. Kristopel Bili
119. Kunni Masrohanti
120. Kurnia Effendi
121. Larasati Sahara
122. Lailiyati
123. Leginah
124. Lianawati Widyan Safitri
125. Lukman A Salendra
126. M. Anton Sulistyo
127. Mahdi Idris
128. Maman S Mahayana
129. Mauliediyaa Yassin
130. M. Arfani Budiman
131. May Moon Nasution
132. Melati Purwakarta
133. M Helmy Prasetya
134. M. Febriyadi
135. Micky Hidayat
136. Mohammad Arfan
137. Mosthamir Thalib
138. Muhammad Asqalani eNeSTe
139. Muhammad Husein Heikal
140. Muhammad Lutfi
141. Mukti Sutarman Espe
142. Muhammad Rois Rinaldi
143. Murparsaulian i
144. Muslih Marju
145. Mustafa Ismail
146. Narudin
147. Nastain Achmad
148. Nanang Suryadi
149. Nduk Win
150. Nevatuhella
151. Ngudi Pratomo Bangun
152. Nining N.H
153. Nissa Rengganis
154. Ni Wayan Idayati
155. Ni Wayan Eka Pranita Dewi
156. Panda MT Siallagan
157. Pilo Poly
158. Puguh Tjahjono Sadari
159. Qori Islami Aris
160. Ramayani
161. Rara Gendis Danerek
162. Ramon Damora
163. Rendra Setyadiharja
164. Rida K Liamsi
165. Ridwan Ch. Madris
166. Rini Intama
167. Riki Utomi
168. Rissari Yayuk, M.Pd
169. Robby Jannatan
170. Roz Zaky
171. Rudy Ramdani Aliruda
172. Saiful Bahri
173. Salman Yoga S
174. Seruni Unie
175. Sihar Ramses Simatupang
176. Siska Yuniati
177. Siti Sarah
178. Soeryadarma Isman
179. Soni Farid Maulana
180. SPN.Marhalim Zaini
181. Sri Wintala Achmad
182. Sulaiman Juned
183. Sule Subaweh
184. Syaukani Al Karim
185. Syarifuddin Arifin
186. Syafruddin Saleh Sai Gergaji
187. Tarmizi
188. Taufik Effendi Aria
189. Taufik Ikram Jamil
190. Temul Amsal
191. Teja Alhabd
192. Tengsoe Tjahjono
193. Thomas Budi Santoso
194. Tien Marni
195. Tulus Wijanarko
196. Tuti Alawiyah
197. Uki Bayu Sedjati
198. Umar Hanafi
199. Utia Mufliha
200. Wannofri Samry
201. Warih Wisatsana
202. Wayan Jengki Sunarta
203. Weni Suryandari
204. Willy Fahmy Agiska
205. Yahya Andi Saputra
206. Yanwi Mudrikah
207. Yeyen Kiram
208. Yoan Sutrisna Nugraha
209. Yoserizal Zen
210. Yurnaldi
211. Yusrizal KW
212. Zainal Anbiya
213. Zaki Ef
214. Zelfeni Wimra
215. Zul Adrian Azizam
216. Zuliana Ibrahim

Pemenang Sayembara Buku Puisi HPI 2013



Empat (4) Buku Puisi Pilihan Sayembara Buku Puisi HPI 2013

1. Benih Kayu Dewa Dapur - Hanna Fransiska
2. Jangan Kutuk Aku Jadi Melayu - Marhalim Zaini
3. Kata Hujan - Ulfatin CH
4. Klikitong - Iverdixon Tinungki

Satu (1) Buku Puisi Terbaik Sayembara Buku Puisi HPI 2013
1. Bagian dari Kegembiraan - Acep Zamzam Noor


Ditetapkan di Jakarta, 30 Juli 2013

 
Copyright ©2018 | Hari Puisi | All Rights Reserved | Publisher: Yayasan Hari Puisi
infoharipuisi@gmail.com